Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Santri Harus Aktif Membangun Bangsa

23 Oktober 2018, 12: 07: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

hari santri

UNTUK YANG TERLATIH: Anggota perguruan silat Pagar Nusa memeragakan kemampuan bela saat apel di Stadion Canda Bhirawa. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Santri tak hanya melulu menimba ilmu di pondok pesantren (ponpes). Namun, santri juga harus terlibat aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk terlibat aktif dalam pembangunan bangsa. Serta mendorong sektor perekonomian agar lebih baik lagi.

Pesan itulah yang digaungkan dalam peringatan Hari Santri di Stadion Canda Bhirawa Pare kemarin (22/10). “Kita juga harus mendorong pemerintah untuk melaksanakan keputusan-keputusan yang mengayomi rakyat Indonesia,” kata Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kediri Djazuli Muhammad Ma’mun, usai upacara.

Menurut Gus Ma’mun, pada intinya para santri harus menunjukkan perannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Santri harus peduli dan tanggap terhadap apa yang terjadi di negara ini. Termasuk peduli pada bencana yang menimpa sebagian wilayah di tanah air beberapa waktu terakhir.

“Kita akan selalu tanggap dengan isu bencana yang terjadi,”  tegasnya.

Memang, dalam peringatan Hari Santri di Stadion Canda Bhirawa kemarin, tak diisi dengan upacara dan acara seremonial saja.  Tapi juga ada penyerahan sumbangan kepada korban bencana alam.

Dalam pengumpulan sumbangan itu PCNU Kabupaten Kediri melibatkan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqoh Nahdlatul Ulama (LazisNU) Kabupaten Kediri. Sumbangan tersebut dikumpulkan dari berbagai lembaga yang bernaung di bawah organisasi NU.

Gus Ma’mun mengatakan, total donasi untuk korban gempa dan tsunami di Palu mencapai Rp 228 juta. “Itu pun baru yang tercatat di data kami,” akunya.

Kegiatan ini dinilainya sesuai dengan misi yang hendak dicapai dalam perayaan Hari Santri 2018 ini. Yaitu bagaimana santri dapat menempatkan posisi dan tempat yang bagus untuk negeri pada kondisi apapun.

Peringatan Hari Santri di Kabupaten Kediri kemarin berlangsung semarak. Lebih dari 20 ribu santri memadati stadion. Mereka datang dari berbagai pelosok wilayah Kabupaten Kediri.

Usai upacara yang dipimpin Wabup Masykuri itu panitia menyuguhkan atraksi yang bisa tergolong ekstrem. Atraksi tersebut dilakukan oleh santri yang tergabung dalam perguruan silat Pagar Nusa se-Kabupaten Kediri. Bentuknya berupa peragaan ilmu kekebalan dan tenaga dalam. Mulai dari memecahkan benda keras, memakan pecahan lampu, serta menarik mobil.

Ada pula atraksi yang membuat miris peserta. Yaitu atraksi beberapa santri yang dilindas motor. Delapan santri tengkurap kemudian ada motor yang melaju di punggung mereka. Atraksi itu berlangsung lancar.

          Sementara itu, di Kota Kediri, peringatan Hari Santri berpusat di Ponpes Lirboyo. Ribuan santri yang bersarung, berkemeja putih, dan berpeci hitam mengikuti apel di lapangan yang berada di barat Aula Muktamar. Dalam apel tersebut dibacakan ikrar Santri Indonesia. Isinya tentang kesetiaan Santri kepada bangsa ini.

          Ketua PCNU Kota Kediri Abu Bakar Abdul Jalil menegaskan bahwa peringatan Hari Santri menjadi momentum  lebih mengenal para syuhada dan ulama yang telah berjuang merebut kemerdekaan. Salah satunya adalah KH Hasyim Asyahari, pendiri NU, yang melahirkan fatwa resolusi jihad. Resolusi yang mengharuskan santri berperang melawan penjajah.

“Tentunya ini adalah momen yang sangat bagus untuk megenang jasa-jasa para syuhada dari kalangan pesantren. Yang pasti sebagai sarana untuk menunjukkan eksistensi kita (para santri, Red) di kalangan masyarakat,” ujar kiai yang akrab dipanggil Gus Ab ini.

Dalam apel yang bertajuk ‘Bersama Santri Damailah Negeri’ itu juga dihadiri Kapolres Kediri Kota AKBP Anthon Haryadi dan Komandan Kodim 0809 Letkol Dwi Agung Sutrisno. Keduanya berpesan agar santri menjadi pilar bangsa yang harus hati-hati di tengah gencarnya hoax dan kejahatan ITE saat ini.

“Polri dan TNI harus tetap bersinergi dengan santri untuk menjaga kondusivitas wilayah hukum Kediri Kota ini,” tutur Anthon.

Sementara, Letkol Dwi Agung berharap agar para santri bisa lebih moderat. Menjunjung tinggi kebersamaan antarsesama bangsa Indonesia. “Kita berharap santri di sini dapat membawa wajah Islam yang moderat. Karena kita tahu sekarang ini banyak orang Islam radikal dan tentunya para santri bisa menjadi muslim yang rahmatan lil alamin,” ucap Dandim Dwi Agung.         

Apel ditutup dengan penampilan seni bela diri oleh para santri yang tergabung dalam perguruan silat Pagar Nusa. Baik dari kalangan santri laki-laki maupun santriwati.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia