Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Kisah Santri yang Menimba Ilmu Jadugan di Pesantren (1)

Dibekali Gemblengan agar Kebal Senjata

23 Oktober 2018, 10: 37: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

kiai mahsun

KARISMATIS: KH Mahsun bersama istri, Hj Muflihah, berada di ruang tamu rumahnya, Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo, kemarin. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

Ilmu jadug atau yang dikenal sebagai ilmu kebal agaknya berangsur sirna. Beberapa pondok pesantren (ponpes) yang dulu aktif mengajarkan pun kini vakum.

Di antara pesantren yang dahulu aktif mengajarkan ilmu jadug itu adalah Ponpes Nurul Jadid di Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo. Namun, kini pengasuh ponpes itu tak mengajarkannya lagi pada para santrinya.

“Sekitar lima tahunan sudah tidak lagi (mengajarkan ilmu bela diri, Red),” tutur Pengasuh Ponpes Nurul Jadid KH Mahsun Tholhah kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di kediamannya, Jalan Diponegoro, Desa Ngebrak, Gampengrejo, kemarin (21/10).

Dulunya, para santri ponpes itu memang diajarkan ilmu bela diri tersebut. Di sana ilmu bela diri lebih dikenal dengan istilah gemblengan. Saat masih banyak yang mondok, lebih dari seribuan santri mendapat gemblengan tersebut.

Namun karena kondisi fisik Kiai Mahsun yang sudah tidak memungkinkan lagi, akhirnya ilmu tersebut sudah tidak lagi diajarkan di Ponpes Nurul Jadid. Kiai Mahsun mengaku bahwa tidak ada lagi yang bisa mengajarkan ilmu itu pada santri-santri di pondoknya.

Berdasarkan cerita Mahsun, gemblengan semakin ramai peminatnya pada saat marak fenomena kasus ninja yang mengganggu ketenteraman warga. Merasa perlu dan terpanggil untuk menjaga ketenteraman dan kedamaian daerahnya masing-masing, akhirnya banyak santri yang berbondong belajar.

Tidak hanya santri dari sekitar Ponpes Nurul Jadid saja yang belajar di sana. Banyak pula yang berasal dari luar kota ingin belajar kepada Kiai Mahsun. “Paling banyak itu santri dari Tuban. Bojonegoro juga lumayan banyak,” ujarnya.

Tidak hanya kedatangan santri dari luar kota, Mahsun juga sering diundang ke berbagai ponpes di Jawa Timur untuk mengajarkan ilmu gemblengan. Konon, ilmu yang diajarkan Kiai Mahsun dapat membuat kebal senjata. Sehingga tak luka dibacok. Pada dasarnya, ilmu tersebut digunakan untuk membela diri. Bukan sebaliknya untuk hal negatif.

Situasi pada zaman dahulu, lanjut kiai ini, membuat banyak santri perlu dibekali ilmu itu. “Untuk membekali santri-santri dan juga Banser yang pada saat itu memang rawan,” aku kiai berumur 77 tahun tersebut.

Kepada santrinya atau orang yang ingin belajar, Mahsun meminta, yang bersangkutan membaca doa atau hafalan-hafalan yang telah diajarkan sebelumnya. Setelah itu, muridnya diminta menelan kapas seukuran biji jagung.

Namun, bukan sembarangan kapas biasa. Kapas sudah diolesi madu yang telah dibacakan doa oleh Kiai Mahsun. Setelah kapas diolesi madu dan ditelan oleh santri, niscaya santri ini memiliki kekebalan terhadap senjata tajam. “Salah satu hafalannya adalah Asmaul Husna,” terang kiai yang mempunyai satu putri ini.

Mahsun mengaku, belajar ilmu gemblengan saat di Ponpes Al Ihsan Jampes, Kediri. Setelah itu, meneruskan belajar di Ponpes Tanggir, Tuban. Itu sekitar tahun 1960-an. Dari dua ponpes ia belajar masing-masing selama tujuh tahun.

Dulunya, Mahsun belajar ilmu tersebut karena sedang terjadi gejolak antara kaum agamis dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Itu untuk melindungi diri dan menjaga keselamatan warga sekitarnya.

Kini, di Ponpes Nurul Jadid sudah tidak lagi diajarkan gemblengan. Namun untuk pelajaran keagamaan dan mengaji tetap berjalan terus. Di sana juga ada TK, MI, dan PAUD. Setelah salat Maghrib, Kiai Mahsun sendiri yang mengajarkan mengaji kepada para santri.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia