Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features
AS Syahsyah Syakish Thirof

Pecatur Cilik Kota Kediri yang Bergelar Master Pratama

Menangan ketika sang Bunda Menemani Bertanding

20 Oktober 2018, 16: 30: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

catur cilik

MEMBANGGAKAN: AS, bersama dengan Kadisdik Siswanto, Siti Mukaromah, dan wakil dari KONI Kota Kediri. (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

AS jatuh cinta pada catur tanpa paksaan dari kedua orang tuanya. Namun, ketika bertanding sang bunda harus ada di sampingnya. Memberinya semangat hingga mampu meraih juara.

MOCH. DIDIN SAPUTRO

Rasa percaya diri itu sudah terlihat dari gerakan AS (dibaca A dan S secara terpisah, Red), bocah bernama lengkap AS Syahsyah Syakish Thirof ini. Ketika bertemu banyak orang dia rileks. Mudah akrab saat berbincang dengan orang dewasa. Pun, dengan orang yang belum pernah ditemuinya. Tak ada rasa canggung seperti anak-anak seusianya.

Seperti ketika dia digandeng oleh sang ayah ke ruangan Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri Siswanto kemarin siang. Raut wajahnya bahagia. Senyum selalu mengembang.

AS adalah atlet catur cilik asal SDI Al-Huda Kota Kediri. Di usianya yang meginjak 7 tahun itu dia sudah mampu menunjukkan prestasinya. Membanggakan orang tua, sekolah, dan daerahnya.

“Kemarin baru mendapat medali emas kejurnas di Aceh,” kata Syamsul Bahri, ayah AS yang juga Ketua Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kota Kediri.

Bakat AS di bidang catur itu berawal dari hobi sang ayah. AS sering diajak ke warung. Bukannya minum kopi atau beli jajanan, di sana dia melihat ayahnya bermain catur.

Karena terbiasa melihat dengan seksama, AS pun tertarik dengan olahraga yang membutuhkan tenaga berfikir itu. Awalnya dia diajarkan bermain dengan sang kakak. Kemudian juga dicoba bermain dengan orang yang ada di warung.

“Karena terlihat ada bakat, akhirnya saya ajari catur,” kata Syamsul.

Menariknya, saat itu AS belum sekolah. Dia masih berusia lima tahun. Terlihat seperti usia yang masih dini untuk anak yang akan menggeluti olahraga ini. Namun, bagi Syamsul itu adalah potensi. Tak berpikir panjang, sang ayah pun mendukung bakat terpendam AS.

Kejuaraan demi kejuaraan telah diikuti AS. Walaupun perjalanannya tak selalu mulus. Pertandingan-pertandingan tersebut atas permintaan AS. Sang ayah tidak pernah memaksakan kehendaknya.

Pertandingan pertamanya adalah Piala Wali Kota Blitar pada 2016. Pertandingan itu memang untuk menguji mental dan kemampuan AS dalam mengawali karir di olahraga catur ini. Hasil yang cukup memuaskan pun didapat. Meskipun belum bisa meraih juara, setidaknya itu hasil terbaik untuk pengalaman AS mengawali pertandingan catur tersebut.

“Dari 100 peserta lebih, dia dapat nomor 33,” sahutnya.

Hasil yang didapat tersebut menurut Syamsul sudah sangat bagus. Hal ini karena pertama kali AS mengikuti kejuaraan. Dan saat itu masih usia 6 tahun. Dia masih duduk di SD kelas 1. Sainganya pun juga berat. Karena harus bertanding di kelompok Usia 9 (KU-9). Sehingga banyak lawan yang usianya di atas AS.

Setelah itu pertandingan demi pertandingan mulai dicoba AS. Di antaranya seleksi daerah dari Black Mustang se-Karesidenan Kediri. Pada seleksi tersebut AS bisa menempati urutan ke-6 dari 100 peserta. “Alhamdulillah ada peningkatan,” ujar Saymsul.

Syamsul menyampaikan, ada hal yang unik saat AS melakoni kejuaraan. Yakni dia tidak bisa fokus apabila sang bunda tidak ikut menemaninya dalam pertandingan. Hal ini seperti yang terjadi ketika bertanding di Madura. Sang Ibu saat itu datang terlambat.“Bundanya ditunggu tidak datang-datang jadi dia sempat kalah sekali. Tapi pas ibunya datang langsung menang terus. Saat itu mendapat medali perak,” jelasnya sembari mengelus kepala AS.

Dari pengalaman itu akhirnya ketika pertandingan Kejurnas di Aceh pada 10-16 Oktober kemarin sang bunda diajak untuk menemani. Alhasil di sana dia mampu menjuarai kelas junior U-7 tahun. Membawa pulang medali emas. Hingga akhirnya, kini AS pun sudah mendapat gelar Master Pratama tingkat Junior.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri Siswanto menyambut baik prestasi putra daerah ini. Menurutnya, karena dia merupakan aset Kota Kediri Siswanto berharap agar AS bisa dibina dari berbagai pihak. Baik dari sekolah, KONI, orang tua, maupun dari Dinas Pendidikan.

“Karena masih sekolah kelas 2, tentunya kegiatan belajar dan prestasi olahraga harus seiring. Dua-duanya harus seimbang,” tegasnya.

Dengan ini Pemkot selalu memberikan apresiasi kepada seluruh siswa yang berprestasi. Tidak hanya beasiswa namun reward lain akan diberikan. Siswanto berharap, untuk semua atlet, jangan puas berlaga di tingkat kota atau provinsi saja. Kalau bisa sampai Nasional bahkan International seperti yang akan dilakukan AS tersebut.

Kepala SDI Al-Huda Siti Mukaromah memberikan apresiasi yang luar biasa pada AS. Pihak sekolah selalu mendukung semua prestasi siswanya, baik akademik maupun non-akademik. Apalagi ada orangtua yang  menurutnya itu sangat membantu memotivasi sang anak untuk bisa berprestasi.

“Semoga ini bisa diikuti oleh orangtua-orangtua lain untuk tetap mensupport anaknya yang memiliki bakat,” pesannya.

Apalagi dalam waktu dekat AS persiapan melakoni laga international yang pasti akan membutuhkan waktu yang intensif untuk berlatih.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia