Rabu, 21 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Moeldoko: Siasati Lahan Sempit dengan Intensifikasi

Jumat, 19 Oct 2018 14:15 | editor : Adi Nugroho

moeldoko

OPTIMAL: Ketua HKTI Moeldoko saat menghadiri Guyub Panen Nusantara dari PT BISI di Mejono, Plemahan. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

KEDIRI KABUPATEN - Luas area pertanian semakin sempit karena pembangunan. Menyikapi hal ini, ada beberapa kiat menyiasatinya. Salah satunya dengan program intensifikasi lahan.

Intensifikasi pertanian pada dasarnya adalah upaya optimalisasi hasil panen. Tak harus membuka lahan baru agar bisa meningkatkan produksi. “Lahan yang ada harus dimanfaatkan optimal,” ujar Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko kepada Jawa Pos Radar Kediri ketika menghadiri acara Guyub Panen Nusantara dari PT BISI di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan, kemarin.

Dia menilai, penyempitan luah lahan pertanian hal yang alamiah dan tidak bisa dihindarkan. Mengingat jumlah populasi dan kebutuhan pembangunan makin banyak. Begitu pula dengan infrastruktur yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Untuk itulah, ia menekankan pentingnya intensifikasi pertanian. Dengan begitu, kebutuhan lahan tidak akan jadi masalah. Tinggal memanfaatkan dan meningkatkan yang ada. Intensifikasi dapat dicapai dengan beberapa cara. Itu dengan pemilihan bibit unggul, pengolahan tanah yang baik, pemupukan yang tepat, pengendalian hama dan pengairan yang baik. “Lahan yang ada inilah yang harus kita tingkatkan,” terangnya.

Selain itu, pengolahan pascapanen harus diperhatikan. Karena tahap ini juga memegang peran penting meningkatkan produksi. Makanya, pengolahan pasacapanen serta pemasaran hasil pertanian juga perlu mendapat perhatian khusus. Meski begitu, menurut Moeldoko, keberhasilan tersebut tidak bisa dicapai tanpa peran pihak pendukung. Mereka adalah penyuluh pertanian, pemerintah daerah, social enterprise,dan pembeli. “Kebanyakan keluhan petani adalah panennya melimpah tetapi tidak ada pembeli,” ungkapnya.

Penanganan pascapanen bertujuan agar hasil produksi dalam kondisi baik dan sesuai, tepat untuk segera dikonsumsi atau bahan baku pengolahan. Penanganan pascapanen yang baik akan menekan potensi penyusutan, baik dalam kualitas maupun kuantitas. Itu mulai penurunan kualitas sampai komoditas tidak layak pasar atau tidak layak dikonsumsi.

Di Kabupaten Kediri sendiri memiliki potensi bagus. Terutama produksi padi dan jagung. Hal ini juga diamini Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumardjo Gatot Irianto. “Untuk jagung, petani di sini sudah menanam secara rapat. Hasilnya pun bisa meningkat,” pujinya.

Meskipun begitu, Gatot menilai, masih bisa dan harus ditingkatkan lagi. Pasalnya, ia menilai produksi pertanian di Kabupaten Kediri sangat potensial dan menjanjikan. “Saya berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat memberikan perhatian yang lebih lagi kepada sektor ini (pertanian, Red) ke depannya,” pungkasnya.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia