Rabu, 21 Nov 2018
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal
Kasus Keracunan Masal

Penyidik Periksa Pihak Swalayan dan Puskesmas

Polisi Cari Bukti Tambahan

Jumat, 12 Oct 2018 20:04 | editor : Adi Nugroho

SIDAK: Kanit Pidsus Polres Nganjuk Ipda Indra Yudha Pratama (empat dari kiri) mengecek barang di Prima Swalayan bersama perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), kemarin.

SIDAK: Kanit Pidsus Polres Nganjuk Ipda Indra Yudha Pratama (empat dari kiri) mengecek barang di Prima Swalayan bersama perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), kemarin. (Foto: Dokumen Polres Nganjuk)

NGANJUK - Polisi terus mendalami kasus keracunan masal 12 siswa kelas V di SDN Ganungkidul I Nganjuk. Kemarin (11/10), penyidik dinas perindustrian dan perdagangan (disperindag) serta dinas kesehatan mendatangi Prima Swalayan.Polisi sengaja datang untuk menggali bukti tambahan di swalayan tersebut.

Sidak dimulai pukul 08.30 kemarin. Tim dipimpin Kanit Pidana Khusus (Pidsus) Ipda Indra Yudha Pratama. Begitu masuk ke dalam swalayan, tim langsung mengecek rak kue yang terletak paling barat. “Tidak ada kue yang kedaluwarsa,” kata Indra.

Lebih lanjut Indra mengatakan, kemarin penyidik fokus untuk mencari alat bukti lainnya di Prima Swalayan. Tetapi, dari penyisiran kemarin, mereka tidak menemukan bukti baru. “Nihil. Tidak ditemukan kue yang sudah expired,” lanjutnya.

Meski tidak menemukan alat bukti baru, menurut Indra penyidik tetap melanjutkan pemeriksaan saksi-saksi. Sebelumnya penyidik sudah meminta keterangan dari pihak sekolah. Yaitu, Kepala SDN Ganungkidul 1 Yoni Anawansih dan Nanang, satpam sekolah.

Selain memeriksa pihak sekolah dan korban, lanjut Indra, penyidik juga akan memeriksa beberapa saksi lainnya. Yaitu, pihak swalayan dan Puskesmas Nganjuk. “Semua saksi akan kami minta keterangannya besok (hari ini, Red),” terang perwira dengan pangkat satu balok di pundak ini.

Dari keterangan beberapa saksi, lanjut Indra, polisi akan mencocokan kembali bukti dan keterangan yang sudah ada. Sejauh ini, penyidik sudah menyimpan struk pembelian kue dari Prima Swalayan. Kemudian, bekas kue yang dikonsumsi sudah dikirim ke Laboratorium Forensik Surabaya.

Hasil uji dari laboratorium milik Polri itu, lanjut Indra, sekaligus akan menjadi bukti dalam kasus tersebut. “Tunggu hasil dari labfor dulu,” tandasnya.

Untuk diketahui, polisi menerapkan pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 ayat 3 UU Perlindungan Konsumen dalam kasus keracunan masal tersebut. Sangkaan itu, didasarkan pada temuan kue yang dikonsumsi siswa pada Jumat (5/10).

Setelah diperiksa, tanggal kedaluwarsa kue 28 September 2018 atau sudah lewat seminggu saat dikonsumsi oleh siswa kelas V B SDN Ganungkudil 1. Diduga akibat makan kue itu pula, siswa langsung mengeluh mual, pusing dan muntah.

Seperti diberitakan, setelah 12 siswa mengeluhkan pusing dan mual, mereka langsung dilarikan ke Puskesmas Nganjuk untuk mendapatkan perawatan. Pascainsiden tersebut, menurut Yoni pihak Prima Swalayan sudah mendatangi sekolah.

Sebelumnya, Lilik Windarti, perwakilan Prima Swalayan mengelak jika tokonya menjual kue kedaluwarsa. Menurutnya, tanggal kedaluwarsa kue yang dijual 05 Oktober lalu belum lewat. Sebab, masa expired kue 10 Oktober.

Ditanya kemungkinan adanya kue tar kedaluwarsa yang belum diambil dari rak, Lilik berkilah hal tersebut sudah masuk kewenangan polisi. “Itu kewenangan penyidik polres,” lanjutnya sembari menyebut pihaknya akan dimintai keterangan besok.

Ditanya tentang sidak yang dilakukan polisi dan beberapa OPD, Lilik juga mengakuinya. Meski demikian, menurut Lilik mereka tidak menemukan adanya barang yang sudah kedaluwarsa.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia