Minggu, 21 Oct 2018
radarkediri
icon featured
Features
Dari Penjual Tahu ke Seniman Bonsai

Awalnya Berburu Serut hingga ke Hutan Wilis

Suyanto

Kamis, 11 Oct 2018 09:00 | editor : Adi Nugroho

TUMBUH DI KARANG: Suyanto merawat tanaman bonsai koleksinya, yaitu tanaman serut yang akarnya menembus batu karang.

TUMBUH DI KARANG: Suyanto merawat tanaman bonsai koleksinya, yaitu tanaman serut yang akarnya menembus batu karang. (M. DIDIN SAPUTRO - RADARKEDIRI.JAWAPOS.COM)

Saat melihat tanaman bonsai di televisi, Suyanto langsung jatuh hati. Sayangnya, tak cukup uang baginya untuk membeli. Mencari hingga ke hutan Gunung Wilis pun jadi pilihannya.

MOCH. DIDIN SAPUTRO

Rumah Suyanto berada di gang sempit. Di Jalan Kawi II, Mojoroto, Kota Kediri. Halamannya pun hanya 7 x 7 meter. Namun, suasana yang tersaji sangatlah asri. Hijau dan menyejukkan.

Ratusan tanaman bonsai tertatap di halaman lelaki yang biasa disapa Yanto itu. Jajaran Tanaman yang sengaja dikerdilkan itu ibarat miniature hutan belantara di tengah padatnya pemukiman.

“Pohon-pohon ini saya ibaratkan pohon tua, namun ukurannya diperkecil,” kata Yanto.

Lelaki ini bergelut dengan seni merawat tanaman model bonsai ini pada 2007. Saat itu ia melihat satu tanamana bonsai di televisi. Hargannya cukup menggiurkan bagi dirinya. Padahal tanamannya kecil.

Sejak itulah dia kepincut. Di sangat ingin memiliki. Ia pun menggali informasi apapun terkait seni yang berasal dari Jepang ini. Lantaran tak cukup memiliki uang untuk membeli, ia memilih mencari. Kawasan hutan pun menjadi jujukan pria kelahiran 1977 itu.

“Saat itu saya mencarinya di lereng Wilis. Mendapat satu tanaman yang bisa dijadikan bonsai,” kenangnya.

Karena ketagihan dengan keindahan bonsai pertama miliknya itu, dia pun memperbanyak koleksinya. Hingga membudidayakan sendiri dengan cara vegetatif. Yakni melakukan cangkok pada indukan tanaman koleksinya.

“Beberapa tahun masih sering cari di hutan. Tapi akhirnya mulai bisa budidaya sendiri,” sahutnya.

Jenis bonsai yang dimiliki pria 41 tahun itu bermacam-macam. Berasal dari berbagai jenis tanaman lokal seperti serut, sisir, kiprik, beringin, dan santigi. Ada juga pohon asam hingga cemara. Dari beberapa jenis pohon tersebut paling banyak adalah bonsai tanaman serut dan santigi.

“Karena serut dan santigi kalau dibuat bonsai hasil dan kualitasnya lebih bagus,” terang ayah dua anak itu.

Tak hanya itu, menurutnya, bentuk kedua jenis tanaman tersebut akan lebih atraktif bila dijadikan bonsai. Estetikanya dinilai lebih tinggi ketimbang tanaman yang lain. Yanto menyebut, kalau perawatan bisa dipelajari, namun seni untuk membentuknya menjadi bonsai adalah hal yang sulit. Penjiwaan seni untuk membentuk bonsai sangat diperlukan.

“Karena menjiwai sebuah tanaman agar tampil maksimal seperti di alam itu penting. Hal itu agar sebuah objek yang dibentuk bisa terkesan hidup,” tukasnya.

Termasuk ketika wiring atau pembentukan bonsai memakai kawat. Menurutnya itu membutuhkan momentum yang tepat. Harus ketika ada inspirasi dan sedang dalam mood yang bagus. Bila tidak, maka wiring yang dilakukan tidak bisa maksimal.

Yanto paling sering membentuk bonsai karena terinspirasi dari alam. Setiap perjalanan ke suatu tempat, bila melihat pohon besar pasti akan ditiru. Karena menurutnya inspirasi paling sederhana namun bisa mengena itu adalah dari alam.

“Saya pernah mendapat gambaran di daerah kuburan Kelurahan Gayam. Yakni pada pohon trembesi besar yang rindang,” sebutnya.

Dari hal sederhana tersebut, lantas pria asli Kota Kediri itu mengaplikasikannya pada salah satu bonsai yang dimilikinya.

Menurut Yanto, bonsai itu yang membuat mahal adalah prosesnya. Karena bisa memakan waktu 10 hingga 20 tahun.

Selain bonsai, Yanto juga memproduksi pot yang dikerjakannya sendiri. Pot tersebut selain untuk tanaman koleksinya juga dijual ke luar daerah. Bahkan hingga luar pulau. Tak jarang ketika menjual ke daerah lain Yanto menukarkan pot miliknya dengan bonsai lain yang memikatnya untuk memenuhi halaman depan rumahnya. Salah satu contoh adalah bonsai tanaman serut yang menyatu dengan batu karang dari Tuban itu.

Yanto dulunya adalah pedagang tahu keliling. Ia mengakhiri profesinya itu 5 tahun silam. Tepatnya pada 2013. Saat ini dia hanya fokus menekuni bidang bonsai dan produksi pot.

(rk/die/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia