Minggu, 21 Oct 2018
radarkediri
icon featured
Features
Ubah Limbah Kayu Jadi Benda Bernilai Ekonomi

Belajar Otodidak dan Berbekal Pisau Dapur

Usaha Agung Irianto

Rabu, 10 Oct 2018 19:13 | editor : Adi Nugroho

KREATIF: Agung Irianto di antara benda-benda hasil karyanya yang berasal dari limbah kayu jati.

KREATIF: Agung Irianto di antara benda-benda hasil karyanya yang berasal dari limbah kayu jati. (HABIBAH A MUKTIARA - RADARKEDIRI.JAWAPOS.COM)

Berawal dari hobi dan iseng, Agung mampu memanfaatkan limbah kayu jati yang tidak terpakai dari tetangga untuk dijadikan sebuah karya dan laku dijual.

IQBAL SYAHRONI

Siang itu, terlihat Agung Irianto sedang mencoba menggergaji beberapa limbah kayu jati. Bongkahan kayu itu berada di rumah yang berada di Vila Bukit Mentari, Kelurahan Pojok. Meski cuaca sedang panas, Agung terlihat bersemangat. Terlihat dari pancaran wajahnya.

Agung mulai mendalami pengolahan kayu bekas sejak 2017. Saat itu ia merasa sering melihat limbah kayu yang sudah tidak terpakai dan dibuang di kebun atau di tempat sampah. “Saat itu masih dalam bentuk bongkahan,” ujarnya.

Ia mengolah limbah kayu tersebut menjadi berbagai produk seperti kap lampu, kursi, hingga meja. Awalnya ia hanya iseng saja untuk membuat kap lampu. Ia juga tidak memasarkan hasil garapannya itu. Namun karena warga di sekitar rumah mengetahui bahwa Agung membuat berbagai kerajinan, banyak yang tertarik untuk membelinya.

Ia menjelaskan bahwa alasan memilih limbah kayu sebagai bahan dasar dari pembuatan karya seni adalah agar dapat memaksimalkan kayu bekas yang masih dalam bentuk bongkahan.

Agung juga memiliki impian agar warga yang berada di lereng Gunung Klotok itu menggunakan limbah kayu menjadi karya seni. Meski sebelumnya banyak yang masih menggunakan kayu bakar.

Sudah lebih dari setahun menekuni usaha pembuatan kap lampu dari limbah kayu, ia menjelaskan bisa membuat dua buah kap lampu dalam satu hari. Baginya hal tersebut sudah dirasa paling cepat karena memang ia hanya bekerja sendiri.

Menurutnya, proses pembuatan kerajinan tersebut mudah asal mau belajar dan tekun. Ia mengaku bahwa dirinya sebelumnya tidak pernah belajar untuk pembuatan hasil karyanya tersebut. “Berlatih dari melihat dari medsos saja,” imbuhnya.

Dengan melihat, ia mampu memroses dan membentuk kerangka serta motif apa yang akan ia buat nanti ketika sudah dalam proses pembuatan. Namun sebagian besar motif yang ia gunakan pada kap lampu adalah membuat persegi panjang kecil dan ditipiskan.

Proses pembuatan motif adalah dengan memotong limbah kayu menjadi bagian kecil dengan gergaji. Setelah itu diiris tipis berbentuk persegi panjang berukuran 2x5 cm Proses penipisan kayu tersebut hanya menggunakan pisau dapur.

Karya milik Agung sudah terjual hingga keluar kota, dari Surabaya, Semarang, Jepara, Jakarta, hingga ke Bali.Hingga saat ini, bapak lima anak ini masih memasarkan produknya hanya melalui online saja. Selain itu juga masih ada beberapa temannya yang menawarkan melalui mulut ke mulut.

Agung menjelaskan bahwa ia masih bertahan dengan metode pemasaran online tanpa membuka toko adalah karena ia merasa ketika ada banyak yang memesan, ia tidak sanggup mengerjakannya dengan cepat. “Kendala masih di alat pembuatannya saja, Mas,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan bahwa memang usahanya masih terus berjalan hingga ia dapat membeli alat mesin pemotong agar memudahkannya ketika banyak pesanan. Ia juga menambahkan, bahwa ia memiliki harapan bahwa usahanya ini banyak dicontoh oleh orang lain.

Daripada membuang limbah kayu yang sudah tidak terpakai, lebih baik digunakan untuk membuat karya. Selain kreativitas seseorang akan terasah, juga orang lain yang menggeluti di bidang pembuatan karya seni seperti milik agung juga akan bertambah ekonominya. “Semakin banyak orang yang menjadi perajin dari limbah kayu di Kediri, semakin bagus,” pungkasnya.

(rk/die/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia