Senin, 10 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Tangkap Satu Buron Kasus Pengeroyokan di Gurah

09 Oktober 2018, 17: 25: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

pengeroyokan

ALAT BUKTI: Kapolres AKBP Roni Faisal Faton diapit Wakapolres Kompol I Made Dhanuardana (kiri) dan Kasatreskrim AKP Hanif Fatih menunjukkan bambu yang digunakan untuk memukul korban dalam rilis kasus (2/10). (HABIBAH ANISA - RadarKediri.JawaPos.com)

KEDIRI KABUPATEN - Polisi mengalami langkah maju dalam kasus pengeroyokan maut di Turus, Gurah. Salah satu otak pengeroyokan yang sempat kabur telah tertangkap. Buron yang tertangkap itu adalah Kamet alias Mamat, 21. Warga Desa Bangkok, Gurah, itu tertangkap saat pulang ke rumahnya Rabu malam (3/10).

Dari penangkapan Kamet itu diperoleh fakta bahwa kasus pengeroyokan tersebut berlangsung spontan. Walaupun sebelumnya didasari perasaan dendam antarkelompok pemuda.

"Mereka punya dendam dengan Desa Banyuanyar karena pernah mengeroyok kelompoknya duluan," beber Kanitpidum Polres Kediri Iptu Roni Robi.

Menurut pengakuan Kamet, dia dan gengnya tak mengincar korban Imam secara khusus. Namun, mereka mengeroyok Imam karena tahu kalau pemuda itu warga Desa Banyuanyar, Gurah.

Dengan tertangkapnya Kamet itu, kini tinggal satu orang saja yang jadi buron atau masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dalam kasus pengeroyokan itu. Satu pelaku yang belum tertangkap adalah Idris, warga Desa Turus, Gurah. Pelaku yang juga dianggap sebagai otak pengeroyokan tersebut ditengarai berada di luar kota.

"Tidak ada tanda-tanda ia (Idrus, Red) kembali ke rumahnya," aku Roni.

Terkait penangkapan Kamet, menurut Roni, terjadi di rumah tersangka. Malam itu Kamet terindikasi pulang ke rumahnya. Polisi yang mencium hal itu segera datang menjemput sekitar pukul 22.00.

Saat ditangkap Kamet tidak melakukan perlawanan. Ia pasrah saja ketika digelandang oleh petugas untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Penangkapan itu membuat Kamet harus ‘reuni’ bersama kawan-kawannya yang telah tertangkap terlebih dulu.

Berdasarkan pengakuan Kamet kepada petugas, ia memukul korban meninggal Imam Suwondo, 32, dengan bambu. Korban dipukuli beramai-ramai bersama kawanan Kamet hingga menghembuskan nafas terakhirnya di tempat.

“Berdasarkan hasil visum, korban mengalami penyumbatan saluran pernapasan,” beber Roni. Selain luka robek di kepala, Imam juga dipukuli di bagian lehernya juga.

Diberitakan sebelumnya, Kamet dan Idris adalah pentolan gerombolan yang melakukan pengroyokan tersebut. Kepada petugas Kamet mengaku bahwa motif pengeroyokan murni karena dendam.

Setelah diamankan oleh petugas, kini Kamet harus menerima nasib dijebloskan di tahanan Polres Kediri. Pasal yang dikenakan kepadanya juga sama dengan pelaku lainnya.

Terkait lama hukuman Kamet sebagai otak pengeroyokan apakah sama dengan kawannya yang lain, Roni menerangkan bahwa itu adalah kewenangan hakim untuk memutuskan. “Kooperatif atau tidaknya pelaku akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi hakim,” ujarnya.

Permberkasan perkara ini pun telah mencapai fase akhir. Setelah itu, pihaknya akan menyerahkan berkas tersebut kepada Kejaksaan Negeri Kabupaten Kediri untuk ditindaklanjuti. “Dalam minggu ini sudah harus masuk (berkasnya),” tegas Roni.

Sementara itu, ketiga korban luka yang juga menjadi bulan-bulanan kubu Kamet juga telah membaik keadaannya. Meskipun mengalami luka-luka akibat pengeroyokan, ketiganya hanya menjalani rawat jalan.

Untuk diketahui, kasus pengeroyokan tersebut berlangsung Minggu dini hari (30/9) di Desa Gabru, Gurah. Di lokasi berlangsungnya pertunjukan kesenian jaranan. Tawuran yang lebih besar baru terjadi usai pertunjukkan jaranan bubar.

Korban dan tiga orang temannya dihadang oleh para pemuda yang kebanyakan dari Desa Turus. Akibat kejadian itu Imam tewas. Sedangkan tiga lainnya, Galih Pandu, 26, dan Agus Suyoko, 20, keduanya warga Wonojoyo, Gurah, serta Widodo, 23, warga Banyuanyar, mengalami luka-luka.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia