Senin, 10 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Ekonomi

FKPK Surati Dewan, Ingin Pembagian Kios Sesuai Kesepakatan

08 Oktober 2018, 16: 56: 43 WIB | editor : Adi Nugroho

pasar setonobetek

SEPI: Pembeli melihat-lihat dagangan yang dipajang pedagang konveksi di lapak penampungan Pasar Setonobetek. (RAMONA VALENTIN - Radar Kediri. JawaPos.com)

KEDIRI KOTA - Perusahaan Daerah (PD) Pasar memang menargetkan pembukaan Blok A Pasar Setonobetek sesegara mungkin. Namun permasalahan penataan pedagang belum sepenuhnya selesai. Forum Komunikasi Pedagang Konveksi (FKPK) Pasar Setonobetek bersikukuh pembagian lapak sesuai kesepakatan awal. Bahkan mereka telah melayangkan surat ke DPRD untuk mengadakan hearing kembali.

Intinya, FKPK tidak terima dengan keputusan PD Pasar yang menentukan pedagang konveksi hanya mendapat jatah 26 kios dan 44 los. Karena hal itu tak sesuai dengan kesepakatan awal. “Padahal kami telah mengingatkan berkali-kali tentang kesalahan tersebut,” tegas Sekretaris FKPK Fendik Darmanto.

Fendik menegaskan, selama ini dia dan pedagang lain sudah menekankan pada PD Pasar terkait pembagian lapak pada rapat koordinasi terakhir itu tidak benar. Namun saat dikonfirmasi balik ke Kepala Pasar maupun PD Pasar tidak ada kejelasan dan tindak lanjut. Hal inilah yang membuat FKPK melayangkan kembali surat ke DPRD.

"Dua minggu yang lalu kami sudah mengirim suratnya. Kami ingin dilakukan bamus lagi," tegas Fendik.

Pihak DPRD pun, menurutnya, menyetujui rapat ulang itu. Mereka akan melakukan bamus pada (15/10) mendatang. Semua yang terlibat baik PD Pasar, FKPK, dan koordinator lapangan pembagian lapak, akan diundang semua. Kemarin pihak FKPK sudah melakukan konfirmasi ulang kepada koordinator yang bertugas menata pedagang.

"Katanya sudah tidak tidak ikut campur lagi, yang penting manut dari atasan," tandas Fendik.

Kepala PD Pasar Saiful Yazin menyebut bahwa akhir-akhir ini memang ada komplain dari pedagang konveksi terkait pembagian lapak. Mereka menginginkan kios dan los tambahan. Namun pihak PD Pasar belum bisa menentukan langsung. Karena pembagian lapak sudah dirapatkan bersama dan disetujui pada rapat terakhir bulan lalu.

"Yang penting nanti 24 dan 44 dulu, untuk penambahannya menyusul," tegasnya.

Sementara ditanya terkait protes dari pedagang konveksi, Yazin menjawabnya bahwa nanti akan dimusyawarahkan lagi. Namun waktunya belum ditentukan.

Sementara itu, di kalangan pedagang konveksi muncul keluhan terkait istilah aktif dan nonaktif pada mereka. Istilah pedagang non-aktif  merujuk pada pedagang konveksi yang tidak menempati kios sementara maupun yang tidak mendapatkan jatah kios sementara.

“Karena masih butuh uang, ada pedagang yang berjualan di luar pasar. Tapi itu bukan berarti non-aktif,” ujar seorang pedagang yang enggan namanya dikorankan,

Pedagang itu mengakui bila mereka resah dengan jumlah kios dan los yang ditentukan. Pedagang ini menjelaskan bila yang mereka tunggu adalah pembagian kios dan los sesuai dengan hasil hearing dengan dewan komisi A dan B.

Pedagang lain mengatakan, penyematan istilah non-aktif dan aktif  bagi pedagang konveksi adalah hal yang kurang tepat.  Diakunya bila banyak pedagang konveksi yang memilih ider atau berjualan di luar kios. Tapi itu adalah pilihan sementara karena ingin tetap menghasilkan uang.  Alasan para pedagang itu memilih ider karena kios sementara dianggap kurang layak dan rawan banjir saat musim hujan. Hal itu membuat pedagang ada yang memilih melanjutkan jualan di tempat lain agar tetap laku.

Ia mengatakan bila sudah enam hari dagangannya tidak laku sama sekali karena lokasi kios sementara kurang bersih dan berbau. Perempuan berjilbab ini menjelaskan bila ada pihak yang menyalahkan mengapa kios sementara tidak ditempati, ia hanya menjawab dan mempersilakan pihak tersebut ganti mencoba berjualan di lokasi yang tersedia.

“Penjualan kami menurun, sedangkan kami harus tetap memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beli susu anak, bayar sekolah anak juga,” imbuhnya. Juga ia paparkan bila pedagang konveksi hanya meminta haknya kembali.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia