Senin, 10 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Events
Kirab Ubalan

Promosikan Makanan Khas, Bagikan Seribu Gelas Dawet

08 Oktober 2018, 15: 17: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

ubalan kirab

GRATIS: Warga dan pengunjung wisata Ubalan mengambil berbagai hasil bumi dalam acara Kirab Hasil Bumi dan Kebur Ubalan. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

KEDIRI KABUPATEN - Tak seperti biasanya, ada yang berbeda dengan minggu pagi di Desa Jarak, Plosoklaten kemarin (7/10). Geliat aktivitas warga pun sudah terasa sejak matahari baru menampakkan kilaunya. Ibu-ibu dan anak gadisnya bersolek menawan. Para pria juga tak mau kalah. Mereka nampak gagah. Tak hanya yang tua saja, anak kecil pun tak ketinggalan menyumbang keriuhan.

Mereka semua sedang mempersiapkan perayaan besar. Perayaan akbar yang digadang menjadi agenda tahunan Desa Jarak. Tak lain adalah Kirab Hasil Bumi dan Kebur Ubalan.

“Kirab gunungan hasil bumi ini adalah wujud rasa syukur dan upaya sedekah dari warga serta kelompok tani Desa Jarak,” ujar Moh Toha, kepala Desa Jarak kepada Jawa Pos Radar Kediri sebelum acara kirab.

kirab ubalan

SEMARAK: Salah satu peserta kirab menampilkan cerita tentang sejarah Kediri. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

Ada empat gunungan hasil bumi yang diarak dalam kirab tersebut. Gunungan tersebut dari kelompok tani setempat. Mereka ikhlas membagi hasil panen yang nantinya diperebutkan oleh para pengunjung wisata Ubalan.

Para peserta berjajar di jalan Raya Desa Jarak. Ratusan meter panjangnya. Dandanannya pun beraneka ragam. Ada yang berdandan ala raja dan ratu. Ada pula yang rela menjadi raksasa menakutkan.

Kirab ini selain dimeriahkan oleh warga Desa Jarak, juga diikuti peserta luar desa. Ada sekitar 47 kelompok peserta dari masing-masing RT di Desa Jarak. Belum lagi dari empat kelompok tani dan delapan lembaga pendidikan.

“Termasuk, ada pula kelompok peserta dari karang taruna yang ikut memeriahkan acara ini,” aku Toha.

Yang menarik, rombongan ini dipimpin oleh sekelompok penari muda. Mereka didapuk oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri untuk menampilkan tari kolosal. Bercerita tentang kepercayaan warga setempat atas asal-usul sumber mata air Ubalan.

Tarian tersebut melambangkan kisah romansa antara Gendam Smaradana dan permaisuri Adipati Panjer. Singkat cerita karena dianggap merebut isteri orang, keduanya berusaha melarikan diri.

Keduanya memutuskan kabur ke satu mata air. Karena merasa terdesak dikejar warga dan pasukan Adipati Panjer, melompatlah mereka ke sumber. Sumber airnya menjadi mubal-mubal (meluap, Red). Dari situlah asal muasal penamaan sumber mata air Ubalan.

Dalam mitologi warga, mereka berdua diyakini tidak pernah muncul kembali hingga sekarang. Oleh warga setempat, tempat pemandian tersebut dinamakan Sendang Pengantin.

Rombongan kirab yang membawa empat gunungan hasil bumi harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar 2,2 kilometer. Sesampainya di wisata sumber air Ubalan, prosesi seremonial penyambutan dan penyerahan gunungan pun dilakukan.

Warga yang sudah tidak sabar untuk memperebutkan hasil bumi pun mengerubungi gunungan. Tak berselang lama, warga dan pengunjung pun dengan antusias mengambil hasil bumi dari gunungan. “Gunungannya terdiri dari jagung, padi dan sayur-mayur serta hasil bumi lainnya,” imbuh Toha.

Sekejap saja, gunungan sudah gundul tinggal bambu penyangganya saja. Setelah acara rebutan gunungan di depan panggung wisata sumber Ubalan, rombongan pun berganti fokus. Mereka menuju sendang pengantin untuk memperebutkan gunungan terakhir.

Selain mendoakan agar sumber air tetap dapat menghidupi warga di sekitarnya, Pemuka agama di sana bersama perangkat dan panitia secara simbolis melepaskan ikan sebagai simbol penghidupan.

Di sendang pengantin, warga dan pengunjung tidak memperebutkan gunungan hasil bumi saja. Beberapa pria dan anak-anak langsung melompat ke dalam sendang dan bermain air dengan serunya. Saling mencipratkan air ke pengunjung lainnya.

Ada lagi yang menarik dari acara tersebut. Yaitu disediakannya seribu dawet oleh panitia kepada para pengunjung secara gratis. “Kami berharap agar ke depannya (dawet) bisa menjadi ikon. Sekaligus agar generasi muda mau melestarikan budaya dan makanan daerah,” beber Yuli Marwanto, Kabid Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia