Senin, 10 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Inilah Produk yang Sumbang Inflasi di Bulan September

07 Oktober 2018, 20: 16: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

beras inflasi

SUMBANG INFLASI: Pedagang beras di pasar. (RAMONA VALENTIN - JP Radar Kediri)

KEDIRI KOTA - Beras menjadi sembako yang memiliki andil besar terhadap  inflasi selama September. Menduduki posisi ketiga dari komoditas penyumbang inflasi dengan kenaikan 1,8 persen dengan andil 0,069 persen.

Kepala Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Adi Wijaya menjelaskan kalau kenaikan harga beras selalu memberikan imbas besar terhadap angka inflasi. “Beras itu walaupun kenaikan harganya dalam rupiah terhitung kecil, tapi dia mudah sekali menjadi komoditas penyumbang inflasi karena andilnya cukup besar,” terang Adi.

Adi juga menerangkan kondisi ini karena beras merupakan makanan pokok yang dibutuhkan masyarakat. Saat ini, harga beras menempati posisi ketiga, di bawah biaya sekolah untuk SMA dan perguruan tinggi. Bulan sebelumnya, beras menduduki posisi kelima penyumbang inflasi dengan kenaikan harga sebesar 0,38 persen dengan andil 0,014 persen.

Sementara itu, Jujuk Zubaedah, 53, salah satu pedagang beras di Pasar Setonobetek  menjelaskan bila kenaikan harga beras hanya berkisar Rp 100 sampai Rp 200 per kilogram sejak enam hari lalu. “Kenaikan harga beras itu jarang, sekalinya naik harga juga tidak banyak. Kecuali kalau stoknya terbatas,” paparnya saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri.

Diakuinya bila kenaikan tersebut sudah terjadi di kalangan pemasok beras, namun tidak terlalu terasa bagi konsumen. Berbeda bila kenaikan harga mencapai Rp 500 per kilogram, maka kenaikannya akan sangat dirasakan konsumen.

Ia juga membeberkan harga beras saat ini antara Rp 9.800 sampai Rp 12 ribu per kilogram beras berdasarkan merek. Sedangkan untuk kemasan per 5 kilogram mencapai Rp 43.500  per kemasan. Dari sisi pasokan, beras tidak mengalami kekurangan stok, pun tidak sedang berlebih.

Pedagang lainnya Kasmuning, 56 juga mengakui hal yang sama terkait harga hingga stok beras di pasar. “Anteng-anteng saja untuk beras, sepertinya tidak terlalu bergejolak karena mungkin masih suroan,” paparnya. Ning, begitu ia akrab disapa menjelaskan bila daya beli beras masih stabil seperti biasanya, hanya perbedaan terletak pada minat konsumen, apakah memilih membeli eceran atau kemasan 5 kilogram.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia