Minggu, 21 Oct 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

--- KPM 212 ---

Minggu, 07 Oct 2018 19:57 | editor : Adi Nugroho

Iqbal Syahroni

Iqbal Syahroni

Kelompok adalah kumpulan individu yang saling memengaruhi (Shaw 1976), ya mungkin kurang lebih begitu yang masih saya ingat dari pelajaran komunikasi kelompok di perkuliahan semester tiga jurusan saya.

          Dari kumpulan individu yang saling memengaruhi dalam hal baik, maupun buruk, yang penting, memengaruhi, kan. Ada pula hubungan timbal balik antarindividu dalam meraih tujuan yang sama. Untuk ukuran kelompok, minimal ada dua orang saja, sudah bisa disebut kelompok, kok.

Ambil contoh mudah saja, kelompok belajar kelas statistika. Tujuannya sama, yaitu mendapatkan nilai yang bagus dalam mata pelajaran statistika. Atau tim sepak bola, tujuannya satu, yaitu menang. Atau malah kelompok pencuri, tujuannya untuk sukses mengambil barang tanpa diketahui pemilik.

Pembentukan kelompok tidak serta merta mengharuskan seseorang di luar kelompok mendikte apa tujuan dari kelompok tersebut. Bisa dalam hal kebaikan, ataupun merugikan orang lain.

Selain itu, dengan dibuatnya kelompok besar kemungkinan akan terjadi konflik dengan berbagai hal dalam kehidupan suatu kelompok. Ambil contoh mudahnya, dua kelompok pendukung tim sepak bola A dan B. Tujuannya berbeda, apa yang mereka dukung pun berbeda. Konflik yang terjadi adalah, konflik kepentingan. Yaitu saat bertanding, kedua kelompok akan berusaha dan berdoa agar tim mereka yang menang. Kan, tidak bisa, kedua tim menang, saat bertanding.

Namun setelah ada tim yang menang, atau kalah, tidak perlulah, konflik kepentingan tersebut dilanjutkan ke konflik fisik di luar lapangan. Tidak perlu.

          Konflik lain yang terjadi karena pengelompokan adalah dengan adanya kelompok kulit hitam dan kelompok supremasi kulit putih yang tergabung di Ku-Klux Klan yang terjadi di Amerika Serikat, atau kelompok Yahudi dan kelompok ras Aryan yang tergabung di dalam kelompok Nazi yang terjadi di benua Eropa pada puluhan tahun yang lalu. Atau pembantaian kelompok muslim Rohingya oleh kelompok Buddha Nasionalis. Dan semuanya berakhir dengan korban jiwa berjatuhan, serta puing-puing reruntuhan benci yang (mungkin) masih tersimpan dalam lubuk hati keluarga korban konflik tersebut.

          Terdengar berlebihan, namun saya rasa, di Indonesia sedang dalam masa konflik antara dua kelompok yang sudah memasuki batas ketidakwajaran. Batas yang saya maksud adalah, ketika sudah menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan kelompok yang dituju. Konflik yang dimaksud adalah dua kelompok yang menyebut diri mereka sendiri kelompok pakde, dengan kelompok oposisi, atau kelompok oranye dengan kelompok biru.

          Tidak ada yang melarang, selama kelompok kalian bertukar ide, atau koreografi, atau karya dalam bentuk lagu, unjuk rasa, dan lain sebagainya. Asal konflik tersebut tidak berlanjut dengan kontak fisik. Sangat merugikan.

          Apakah mereka tidak mengerti, bahwa meski mereka sudah tergabung di kelompok yang berbeda, mereka masih dalam satu kelompok besar yang tertera di dalam kartu tanda pengenal yang mereka taruh di saku atau dompet mereka masing masing. Kelompok besar yang tertera di kolom kewarganegaraan di kartu tanda pengenal mereka: Warga Negara Indonesia.

          Hidup rukun, bekerja sama untuk maju, dengan membawa identitas sebagai Warga Negara Indonesia lebih penting, ketimbang mementingkan kemenangan kelompok kecil mereka dengan menjatuhkan kelompok lawan dengan menyebar berita bohong yang mengakibatkan konflik dengan kekerasan.

           Bagi sampeyan-sampeyan yang berspekulasi apakah tulisan ini dibuat dengan membahas angka spesial yang tertera di judul, tenang, tulisan ini sama sekali tidak membahas hal tersebut. KPM 212 hanyalah kode mata pelajaran kuliah dari komunikasi kelompok yang saya pelajari ketika kuliah. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia