Senin, 10 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Cerita Hoax Mardi dan Imam

07 Oktober 2018, 18: 38: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

Cerita Hoax Mardi dan Imam

“Perilaku malas membaca menjadi domain utama maraknya hoax di sekeliling kita. Dengan sangat terburu-buru, kita sering membagikan informasi yang invalid dan palsu.”

Napas Mardi masih tersengal-sengal ketika menurunkan koper haji dari sepeda ontel siang itu di rumahnya. Maklum, jarak sekitar 8 kilometer (km) dari Nganjuk ke Pace, dengan bersepeda, jelas menguras fisik. Lebih-lebih, dia harus ‘membonceng’ koper haji milik sang istri yang beratnya sekitar 32 kilogram (kg).

Belum kering peluh di keningnya, Mardi mendengar kabar heboh dari tetangga kanan-kirinya. Para tetangga memberitahu pria asal Desa Gemenggeng, Kecamatan Pace itu, fotonya jadi viral di media sosial (medsos) Facebook (FB) dan Instagram (IG).  Juga di grup-grup Whatsapp (WA).

Ceritanya, foto Mardi saat mengambil koper haji di kantor Kementerian Agama (Kemenag) Nganjuk jadi perbincangan para netizen. Pasalnya, di saat jamaah haji lain membawa sepeda motor atau mobil, pria 59 tahun itu, justru  menggunakan sepeda ontel.

Narasinya dibuat menyayat hati untuk mengundang iba. Bahwa, ada seorang jamaah haji miskin, tanpa kendaraan mewah, penampilan sederhana, dan sendirian mengambil koper haji.

Spontan, foto dan caption ‘provokatif’ itu membuat netizen bereaksi. Rata-rata merasa iba sekaligus bangga dengan cara yang ditempuh Mardi. Mereka mendoakan Mardi menjadi haji mabrur dan doa-doa baik lainnya. Mardi yang diberitahu soal fotonya yang viral itu, hanya senyum-senyum saja. Tak ada reaksi berlebihan. Apalagi menyimpannya sebagai kenangan di dalam hidupnya.

Loh, bagaimana bisa? Ternyata, kita salah sangka dengan foto Mardi dan sepedanya. Faktanya, Mardi memang bersepeda dari rumahnya di Pace ke Nganjuk. Namun, dia bukan jamaah haji seperti ‘tuduhan’ para netizen yang budiman. Yang naik haji adalah Gemiati, istrinya. Mardi juga punya sepeda motor di rumahnya. “Cuma saya tidak punya SIM. Makanya tidak berani naik motor. Takut ada operasi,” kata Mardi membeberkan alasannya kenapa harus susah payah ngontel.

Berbeda dengan Mardi yang santai menanggapi berita hoax itu, Imam Hambali, jamaah haji asal Desa Mlandangan, Kecamatan Pace, justru resah dengan video viralnya. Video Imam digendong jamaah asal Syria saat melakukan lempar jumrah, tersebar di seantero Nusantara. Yang membuatnya khawatir adalah judul dalam video itu.

Sebab, Imam dikabarkan sakit. Makanya, dia membutuhkan pertolongan orang lain ketika harus melanjutkan perjalanan. Padahal faktanya, Imam tidak sakit sama sekali. Sebenarnya, jamaah Syria hanya merasa iba dengan caranya berjalan. “Saya pernah operasi. Jalan saya agak terpincang. Tapi waktu itu tidak sakit,” kata Imam.

Dengan kabar itu, Imam khawatir keluarganya di Nganjuk menerima informasi yang salah soal kondisinya di Tanah Suci. Karena itu, dia segera menghubungi keluarga untuk memastikan kondisinya baik-baik saja. “Saya lega akhirnya,” kata pria 60 tahun itu.

Cerita Mardi dan Imam menjadi contoh betapa mudahnya berita hoax diproduksi di medsos. Dan, yang payah, kita sebagai netizen, dengan mudah pula mempercaiyanya. Sampai-sampai harus memberikan komentar yang kadang berlebihan. Bahkan, seringkali kasar dan menjurus pada ujaran kebencian kepada sekelompok orang.

Kita sepertinya lupa, di era digital seperti sekarang, orang bebas menulis apa saja sesuai dengan kehendaknya. Filter tulisan di medsos jelas berbeda dengan dunia kepenulisan buku. Karenanya, setiap informasi yang diterima, seharusnya kita bisa menyaringnya.

Salah satu kelemahan kita menghadapi hoax adalah malasnya melakukan kroscek. Salah satunya cek dan ricek kepada banyak sumber. Alih-alih melakukan, yang sering kita kerjakan adalah menyebarkannya tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.

Perilaku malas membaca menjadi domain utama maraknya hoax di sekeliling kita. Dengan sangat terburu-buru, kita sering membagikan informasi yang invalid dan palsu.

Pemicu lain adalah kesengajaan untuk menyebarkan berita-berita viral, tetapi jauh dari fakta. Tujuannya, untuk mendapat tanggapan dari masyarakat. Persoalannya, berita viral itu kerapkali membikin efek buruk yang lebih luas. Misalnya seperti yang dialami Imam dan keluarganya.

Belum lagi, kita sudah kehilangan panutan di negeri ini. Kasus hoax penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet sebenarnya memberikan pelajaran penting bagi kita para netizen.

Bahwa sebenarnya meme-meme yang bertebaran di medsos tidak seharusnya dipercaya begitu saja. Lha mau dipercaya bagaimana, orang-orang kepercayaan dan berpendidikan tinggi di sekitar Ratna saja tertipu dengan pengakuannya. Kalau sudah begini, hanya Tuhan yang wajib kita percaya dengan sepenuh jiwa dan raga. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia