Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Features
Cerpen

Seorang Lelaki dan Dua Malaikat

07 Oktober 2018, 18: 12: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

cerpen

Zanuarifki Taufikurohman * (Ilustrasi: Afrizal - JP Radar Kediri)

Malam bergelanyut perlahan-lahan ditemani suara semesta. Daun-daun berdesiran dan suara hewan malam saling bersahutan. Tepat tengah malam suara-suara itu lenyap seketika. Tiada yang tahu suara-suara itu pergi ke mana. Mereka yang terjaga ditengah malam adalah kutukan. Merasakan malam yang sunyi senyap tanpa ada suara merupakan hal ganjil, perasaan aneh, dan penuh teka-teki. Bahkan jika ada seorang yang berjalan dan tidak sengaja menginjak ranting, tanpa diduga ribuan pasang mata seolah-olah mengawasi. Bagi warga setempat membuat suara gaduh di malam ganjil merupakan tindakan yang celaka bagi mereka. Suasana seperti ini selalu terulang setiap datang malam ganjil di akhir bulan.

***

            Malam itu merupakan sehari sebelum malam ganjil. Banyak warga desa menyempatkan waktu untuk melawat ke tempat saudara, membeli makanan, atau sekedar menikmati suasana di teras. Mereka berjalan-jalan ramai saling sapa dengan ramah. Namun tak semua warga desa menikmati suasana malam ini. Seorang lelaki berdiri sendirian di tengah jalan, dan pada waktu jalan ramai, pasti lelaki tersebut berdiri di trotoar sambil melihat sudut sepi yang berada tak jauh dari jalan ujung desa. Ia memandang jalan gelap seperti tak berujung. Seorang lelaki tak muda tapi juga tidak tua. Badannya tidak terlalu tinggi dan wajahnya putih namun lebih sering terlihat seperti pucat. Tatapan mata begitu serius untuk urusan remeh. Ia memakai baju rapi, rambut yang tertata, dan jam tangan melekat di tangan kiri. Setiap malam lelaki itu selalu berdiri sendirian di pinggir jalan sambil menatap ke jalan sepi dan gelap di ujung desa.

            Lelaki itu pulang ketika waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Jam tangannya bergetar menandakan ia harus segera menuju rumah. Sesampainya di rumah ia membasuh muka dan tangan dengan air. Air baginya bagai pembersihan dosa yang melekat dalam tubuh. Membasuh muka dan tangan dengan perlahan berharap segala kenangan pahit itu sirna. Semakin ia basuh tubuhnya kenangan pahit itu muncul. Tambah keras ia gosok tubuhnya dengan air, penyesalan-penyesalan itu seperti menyerang pikirannya. Gaduh, gemuruh, dan benci menjadi satu. Seolah-olah ia bertanya pada diri sendiri tentang kenapa hidup begitu penuh dengan tipuan. Namun lelaki itu sadar bahwa penyesalan hanya menambah barisan kekecewaan yang tak berujung. Tak terasa ia sudah mengosok tanganya begitu keras sampai darah keluar dari sela-sela luka, membanjiri sekujur tangan dan kaki bercampur air. Malam baginya adalah penyiksaan yang selalu ditempa kalut. Lelaki yang takut dengan masa depan.

            Setelah ia usai membasuh tubuhnya dan membersihkan darah yang keluar, kemudian pergi ke kamar. Membereskan tempat tidur yang penuh serakan buku-buku. Membersihkan meja dari kertas-kertas menjemukan. Kamar itu begitu berantakan, seperti lama tak dihuni. Tumpukan koran dipojok tertata rapi namun sudah penuh dengan debu. Jendela, kursi, atau bunga di meja membuat suasana kamar begitu sunyi menyayat seperti belati. Tak lama berselang, ia rebahkan segala kegundahan dan perasaan kacau di atas tempat tidur. Memejamkan mata sambil berbicara dengan dirinya sendiri tentang belajar memaafkan. Tapi apa daya mulut seperti tersumpal batu besar ketika ingin berkata “Maaf”, apalagi untuk memaafkan diri sendiri. Ia melihat ke langi-langit kamar dalam cahaya temaram sedikit samar-samar, membayangkan wajah ibunya. Teringat tentang sebuah cerita dari ibunya dulu.

“Nak, Kau dulu sehari sebelum lahir, Ibu didatangi dua malaikat”.

 Lelaki itu memejamkan mata sejenak, sambil mengingat-ingat pelukan seorang Ibu yang begitu hangat dan menghadirkan rasa tenang. Namun rasa tenang itu tak berselang lama, ada sesuatu yang aneh. Lelaki itu seperti ditarik oleh kekuatan luar biasa besar untuk mendekati jendela kamarnya, membuka sedikit kordennya, dan mengintip ke jalan besar. Tepat di tengah pertigaan jalan besar berdiri seorang gadis. Gadis itu sendirian membuat lelaki itu penasaran, ia perhatikan mulai dari ujung rambut sampai dengan kaki. Rambutnya terkuncir ke belakang, badannya sedikit membungkuk seperti lelah terlalu lama membawa rangsel berat. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Tubuhnya mungil lunglai. Tampak dari kejauhan kulitnya bersih bersinar terpapar sinar rembulan. Wajahnya samar-samar terlihat mata sayu seperti merayu untuk mengajak lelaki itu datang kepadanya. Di bibirnya menggantung sebuah senyum. Senyum manis dengan pipi yang merah padam. Semakin lama lelaki itu memperhatikan gadis tersebut, tiba-tiba ada cahaya yang berkelebat dengan cepat di ujung pohon. Kemudian lelaki itu beralih pandangan ke gadis itu lagi, gadis tersebut sudah hilang, hanya meninggalkan pertigaan jalan besar yang kosong dan sunyi.

Malam berikutnya merupakan malam ganjil yang sudah diperhitungkan sebelumnya. Malam ganjil di akhir bulan. Malam tersebut adalah malam yang paling tidak diinginkan oleh warga desa. Sebuah malam yang melahirkan kutukan. Sejak senja tiba, warga desa sudah mengemasi semua barang di luar dan dibawa masuk ke dalam rumah. Anak-anak mulai diajak masuk kemudian tidak diperbolehkan keluar rumah lagi. Pintu dan jendela setiap rumah dikunci rapat-rapat. Tak ada yang menyalakan televisi maupun radio. Hanya suara angin yang berdesir saling bersahutan melewati sela-sela pohon. Tidak ada lalu lalang di jalanan. Jalanan pun begitu sepi.

Petang telah tiba, selepas waktu magrib hampir semua rumah mematikan lampu. Hanya lampu di pertigaan jalan besar yang masih menyala. Semua rumah terkunci rapat. Suara angin terus menderu. Gesekan daun dan ranting terus berdesir. Lelaki itu masih berdiri di trotoar memperhatikan sudut sepi yang berada tidak jauh di ujung desa. Badannya terkena cahaya lampu trotoar membuat bayangannya jatuh di atas aspal. Hanya angin dan suara hewan malam yang menemaninya. Terkadang ada suara seperti benda jatuh dan membentur tanah dengan keras. Tapi ia menyadari itu hanya kelelawar yang menjatuhkan buah dari pohon.

Jam tanganya bergetar waktu menunjukan sudah pukul sepuluh malam. Lelaki itu merasa sudah cukup untuk kembali ke rumahnya. Baru beberapa langkah perasaan itu kembali. Seperti malam sebelumnya ada kekuatan yang luar biasa menghinggapinya seolah-olah memerintahkan untuk membalikkan badan. Ketika ia membalikkan badannya, gadis itu sudah berdiri di trotoar tempat lelaki itu biasa berdiri. Rambut yang terkuncir ke belakang, mata sayu, dan senyum manis. Pipinya masih memerah seperti malam sebelumnya. Gaun indah berwarna putih melekat di badannya. Lelaki itu memberikan salam dengan melambaikan tangan kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah.

Seampainya di rumah, lelaki itu terpaku pada foto ibunya sampai lama, kemudian, tanpa sadar, ia terisak-isak. Ia ingat ibunya pernah bercerita, bahwa ketika ia sebelum dilahirkan, ada dua malaikan menghampiri ibunya.

“Nak, Kau dulu sehari sebelum lahir, Ibu di datangi dua malaikat”. Kalimat ini terus berputar-putar di kepalanya. Setiap ia mengingat cerita itu, ribuan pertanyaan menyerangnya.

“Kenapa, Ibu? Ada apa dengan dua malaikat itu?”

Pertanyaan yang lain saling susul.

            “Kenapa malaikat itu tidak pernah menolongku, Ibu!”

            “Apa yang dilakukan kedua malaikat itu kepada Ibu?!”

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah ada jawabannya. Tidak pernah ada.

            Cerita dan pertanyaan-pertanyaan berkecamuk di kepala lelaki itu, terus menerus sampai ketukan pintu membuyarkan semuanya. Lelaki itu kemudian membukakan pintu. Gadis itu sudah berdiri tepat di hadapanya.

            “Apa sudah saatnya?”

            Gadis tersebut membalas senyum, bibirnya menggantung manis, dan pipinya masih memerah. Namun gadis itu tidak sendiri, lelaki itu memperhatikan di temaram lampu jalan besar. Ya, gadis itu tidak sendiri. Ia bersama dua malaikat. Dua malaikat yang dicerikatakan oleh Ibu lelaki itu.

            “Aku disuruh Ibu untuk menjemputmu”.

            Lelaki itu diam, tak mengucapkan kata apapun. Ia hanya mengikuti langkah gadis tersebut. Di belakangnya diikuti dua malaikat. Tak saling sapa. Diam. Mereka menyusuri jalan desa yang sepi, tak ada cahaya di dalam rumah. Mungkin mereka sudah tertidur pulas dan melupakan malam ini. Malam yang mereka kutuk sendiri. Sudah terlalu larut, tidak ada suara apapun. Daun-daun seolah tak berani saling bergesekkan. Pohon-pohon terlihat kaku. Hanya udara dingin yang menusuk tulang. Tengah malam sudah terlewati, mereka tenggelam di tengah kegelapan, menuju sisi sunyi desa.

__________________________

* Penulis merumah di Komunitas Bangsal Je

Dapat dijumpai di Instagram @Rifkizanuar

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia