Senin, 10 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal
Kasus Kosmetik Ilegal

Polda dan Polres Saling Lempar

Belum Tetapkan Tersangka

06 Oktober 2018, 18: 45: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

TKP: Rumah Karin di Dusun Putuk, Desa Banaran, Kandangan sepi kemarin.

TKP: Rumah Karin di Dusun Putuk, Desa Banaran, Kandangan sepi kemarin. (HABIBAH A. MUKTIARA - RADARKEDIRI.JAWAPOS.COM)

KEDIRI KABUPATEN – Kosmetik yang diduga ilegal produksi Karina Indah Lestari, 26, yang telah diamankan Polda Jatim ternyata sempat diminati banyak konsumen. Pasalnya, sebelum kediaman perempuan asal Dusun Putuk, Desa Banaran, Kecamatan Kandangan itu digeledah polisi, Kamis (4/10), banyak yang membeli.

Selain itu, di rumah ibu satu anak tersebut juga sering didatangi mobil boks. Ditengarai kendaraan ini mengantar atau mengambil barang. Sejumlah tetangga yang mengetahui aktivitas tersebut mengungkapkan hal itu setidaknya sudah berlangsung selama dua tahun terakhir.

“Memang sering terlihat mobil boks yang datang ke rumahnya,” kata Watini, 75, tetangga Karin.

Dia juga menyebut, saat petugas kepolisian datang memeriksa rumah perempuan yang pernah menjadi biduan ini suasananya sangat ramai. Makanya, sempat menjadi perhatian warga sekitar. Warung yang berada di radius satu kilometer dari kediaman itu pun mengetahuinya. “Pokoknya ruame sekali, banyak polisi di sini,” ungkap Watini.

Menurutnya, sebelum memiliki usaha kosmetik Karin pernah menjadi penyanyi. “Bajunya mahal-mahal Mbak, sering manggung di berbagai acara,” ujarnya. Namun, setelah menikah dan mempunyai seorang anak, Karin menghentikan kegiatannya menyanyi. Dia lalu beralih bisnis kosmetik.

Untuk membuat kosmetik, sepengetahuan Watini, Karin mengerjakannya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Namun dia punya dua pembantu. “Tetapi bukan yang bekerja membuat kosmetik. Mereka merawat anak dan membersihkan rumah,” kata Watini.

Meski mengetahui Karin menjual kosmetik, namun menurut Watini, tidak ada warga di sekitar rumahnya yang membeli produk tersebut. Di kampungnya, Karin memang dikenal tertutup. Jarang bergaul dengan tetangga.

Selain itu, bagi warga sekitar, harga kosmetik yang dijual Karin relatif mahal. Harganya dipatok mulai Rp 300 ribu. Di antaranya produk pencerah atau pemutih kulit. Ada pula produk penghilang jerawat.

Setelah pemeriksaan polisi Kamis (4/10) lalu, kemarin siang suasana rumah Karin di Desa Banaran kembali seperti biasa. Di sini Karin tinggal bersama anaknya, dan Sri Utami, 46, ibunya.

Ketika bertandang ke sana, Jawa Pos Radar Kediri sempat ditemui Sri Utami. Saat dikonfirmasi soal bisnis kosmetik putrinya, dia menyatakan, usaha tersebut telah memiliki izin. Namun perizinan seperti apa, perempuan yang akrab disapa Umi ini enggan menjelaskan. “Pokoknya sekarang masih dalam penyelidikan Polda Jatim. Anak saya belum ditetapkan sebagai tersangka,” tegasnya.

Bahkan, Umi lantas menambahkan, petugas kepolisian kini sedang mencari orang yang telah melaporkan bisnis kosmetik anaknya. Setelah itu, ia menolak memberi keterangan lebih lanjut. “Saya tidak mau berkomentar apa-apa,” tukasnya.

Lantas bagaimana dengan kelanjutan penanganan kasus ini? Pihak Polda Jatim dan Polres Kediri seolah terkesan saling lempar tanggung jawab. Ketika mengonfirmasi ke polda, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan kasus ini telah ditangani penyidik Polres Kediri.

“Yang menangani (kasus kosmetik) polres ya,” ujar Barung ketika dihubungi melalui pesan Whatsapp, kemarin.

Soal status Karin yang sempat dimintai keterangan di polda pun, Barung melimpahkannya agar menggonfirmasi ke Polres Kediri. Begitu pula terkait sejumlah barang bukti yang diamankan dari rumah pengusaha kosmetik Banaran Kandangan itu, ia mengarahkan agar meminta keterangan ke polres.

Namun, ketika mengonfirmasi ke Polres Kediri, Kapolres AKBP Roni Faisal Saiful Faton mengatakan bahwa pihaknya tidak menangani kasus tersebut. Sehingga tak bisa memberi keterangan. “Saya tidak bisa menjelaskan karena tidak menangani kasusnya,” katanya.

Meski begitu, Roni berharap, agar kejadian peredaran kosmetik secara ilegal tidak terjadi lagi. Makanya, kepolisian akan memasifkan pengawasan. Kegiatannya nanti akan dikoordinasikan dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) selaku pengawas terkait perizinan.

Lantas di mana keberadaan Karin? Ketika wartawan koran ini ke rumahnya kemarin, Sri Utami, ibunya, mengatakan anaknya sedang keluar. Karin tidak berada di rumah. Saat ingin melihat ke dalam rumah, perempuan yang biasa disapa Umi ini tak mempersilakan masuk. Namun, ia hanya menemui di depan pintu ruang tamu. “Karinnya nggak ada sedang keluar,” ujarnya.

Malamnya (5/10) pada pukul 20.00, di akun media Instagramnya, Karin sempat mem-postingstatus elsaa. Isinya, permohonan maaf. Di postingan itu, elsaa membuat klarifikasi tertuliskan,“saya mau mengklarifikasi bahwa karina gladis tidak dipenjara dan tidak ada penggerebekan dirumah, itu semua hanya pemeriksaan. Saya minta maaf buat mbak karin dan keluarga sudah tidak sopan menyebarkan hoax tersebut. Terima kasih sekali lagi mohon maaf”.

Sedangkan di profil picture akun penjualan online shop Whatsapp milik Karin, terdapat pernyataan berisi, Maaf untuk sementara kami tidak menerima orderan sampai produk BPOM ready.

Seperti diberitakan sebelumnya, Tim Reskrimsus Polda Jatim menggeledah rumah Karindi Dusun Putuk, Desa Banaran, Kandangan pada Kamis (5/10) sekitar 14.00 WIB. Petugas mengamankan bukti berupa paket kosmetik 20 dus, kemasan bedak kosong dari merek-merek terkenal, alat spray untuk parfum, dan beberapa peralatan pembuatan kosmetik.

Selain menjual kosmetik secara online, Karin ditengarai juga membuka praktik suntik serum vitamin. Dari kegiatan yang diduga tanpa izin itu, Karin mendapat keuntungan materi cukup besar. Menurut keterangan polisi, dalam sehari omzetnya mencapai Rp 9 juta. Itu diperoleh dari penjualan kosmetik diduga palsu dan layanan suntik vitamin.

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia