Minggu, 21 Oct 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

= = NYAWA = =

Kamis, 04 Oct 2018 16:29 | editor : Adi Nugroho

= = NYAWA = =

Nyawa. Jiwa. Itu hal yang harus dieman-eman. Sampai dia diminta kembali untuk pulang oleh Pemiliknya. Karena itu, tak boleh ada siapa pun yang memaksa. Untuk memulangkannya. Baik orang lain maupun dirinya sendiri.

Itulah mengapa perlindungan nyawa menjadi tujuan pertama dari penegakan hukum. Dalam agama. Islam khususnya. Masuk dalam maqashid al syar’iyyah. Karena tak ada seorang pun yang berhak atas nyawa. Kecuali hanya Pemiliknya.

Cuma sayangnya, dalam hidup yang penuh dengan keruwetan ini, nyawa seringkali bukan menjadi hal yang mesti dieman-eman. Yang harganya muaahal. Bahkan tak ternilai. Ia justru dianggap sesuatu yang murah. Bahkan semurah harga gorengan. Semacam mendoan atau gedang goreng di warung sego tumpang.

“Mendoan ini bahkan lebih berharga dibanding isi otakmu, Mbul,” semprot Matkriting kepada Dulgembul yang sekali duduk bisa menghabiskan sepiring gorengan di meja.

Untungnya Dulgembul sudah tahes terhadap segala macam praktik bullying. Semprotan ala Matkriting seperti itu hanya dianggap angin lalu. Kalau tidak, pasti sudah diuntel-untel itu, teman baiknya. Kalau ndak malah dikremus-kremus.

Itu menandakan, meski isi otaknya disebut tak lebih berharga dibanding mendoan, hatinya tetap jauh lebih mulia dibanding logam yang paling mulia. “Otakku boleh kau sebut pendek, tapi hatiku tetap luas dan lapang,” ucapnya sambil cengengesan karena bisa mencomot sebiji pisang goreng lagi dari piring sang teman.

Hati yang lapang. Itu yang bisa menjaga nyawa tetap berharga. Sayangnya, di ruang seluas lapangan sepak bola, justru seringkali ditemukan hati yang sempit. Ciut. Hilang kelapangannya. Hangus terbakar oleh euforia yang kemudian berkembang menjadi caci maki.

Karena ndak seru kalau nonton sepak bola ndak ada emosinya. Ndak ada teriak-teriaknya. Nonton bola kok anteng-anteng saja. Memang sih. Matkriting dan Dulgembul juga begitu kalau nonton. Bukan hanya bola. Tapi juga pertandingan-pertandingan olahraga lainnya. Apalagi kalau yang berlaga adalah pemain atau tim favoritnya. Hooookk…, yaaaa…! Hooookk…, yaaaa…! Seperti waktu laga badminton Jojo di Asian Games yang berakhir dengan aksi buka baju itu.

Cuma, mereka ndak pernah sampai jotosan. Atau tawuran. Sekalipun pemain atau tim jagoannya kalah. Paling banter hanya kecewa. Lemes. Lalu berjalan gontai sambil nahan lapar. Syukur-syukur nemu mendoan yang bisa jadi emplok-emplokan.

Itu karena ‘hokya-hokya’-nya ndak sampai berujung caci maki. Kalaupun sampai ada, Dulgembul biasa ngedem-ngedem ati. Itu yang bikin hati Matkriting yang semula menyempit, jadi melebar lagi. Lapang. Luas. Lha wong cuma permainan. Bahkan mereka ndak ikut main. Cuma nonton. Yang mestinya terhibur dan menikmati. Rugi kalau sampai paten-pinaten.

Masalahnya, ndak mudah memang menahan diri dari caci maki. Apalagi dari caci maki yang sudah berulang kali. Bukannya semakin kebal seperti Dulgembul, yang ada justru tambah manas ati. Dan, begitu menemukan saluran pelampiasan, apa pun bisa terjadi. Seperti tragedi suporter sepak bola yang baru terjadi dan menjadi pengulangannya yang kesekian kali. Atau, tragedi penusukan pimpinan sebuah bank oleh rekannya yang perempuan di kota ini.

Hati yang tak lapang, bukan hanya membuat lapangan sepak bola menjadi tidak terasa luasnya. Namun, juga membuat dunia yang sedemikian luas menjadi begitu sempit. Dan, nyawa yang mestinya dieman-eman dan hanya boleh diminta Pemiliknya, menjadi begitu murahnya. Seolah-olah kita boleh memintanya. (tauhid wijaya)

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia