Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features
Mengolah Limbah Bambu Jadi Miniatur Menarik

Demi Detail, Butuh 2 Minggu untuk Bikin Monumen SLG

Winarso

04 Oktober 2018, 16: 17: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

KARYA: Winarso bersama miniatur hasil karyanya yang berbahan dasar bambu.

KARYA: Winarso bersama miniatur hasil karyanya yang berbahan dasar bambu. (HABIBAH A. MUKTIARA - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

Kemenarikan karya miniaturnya tak hanya karena berbahan dasar bambu. Tapi juga karena sebagian besar bahannya adalah limbah. Selain itu, karyanya juga sangat memperhatikan detail.


HABIBAH A MUKTIARA

Kedua tangan itu penuh luka sayatan. Setiap sayatan punya cerita yang berbeda. Tentu saja selalu terkait dengan ujung cutter yang dia gunakan untuk memotong dan meraut batang bambu. Dalam setiap aktivitasnya itu luka yang diakibatkan ujung pisau ataupun batang bambu adalah hal biasa.

Seperti saat itu, Minggu (30/9), Winarso yang berkaus hitam sibuk berkutat di bengkel kerja di depan rumah. Sibuk menyerut permukaan bambu yang dia gunakan sebagai bahan membuat miniatur.

Lelaki dari Dusun Plosorejo, Desa Tulungrejo, Pare, ini tak sekadar membuat miniatur berbahan dasar bambu. Tapi, dia sengaja membuatnya dari limbah. “Biasanya saya mengambil bambu bekas yang ada di bangunan (proyek pembuatan rumah atau gedung, Red),” terangnya.

Kalau tidak ada di proyek-proyek seperti itu, dia mencari di tempat lain. Tapi masih bambu yang sudah tak terpakai. “Kalau tidak ya mencari di dekat sungai,” sambungnya.

Winarso bukan tanpa sebab mendasarkan bahan baku karyanya dari bambu limbah. Karena bila tidak digunakan, limbah bambu itu akan sia-sia. Paling banter dibakar. Karena itu, sayang bila tak dimanfaatkan.

Untuk aktivitasnya itu, Winarso menyulap halaman depan rumahnya menjadi bengkel kerja. Tempatnya membuat kerajinan unik berupa miniatur benda. Baik itu ikon-ikon wisata, salah satunya adalah Monumen Simpang Lima Gumul, atau juga miniatur mobil dan motor klasik.

Menerjuni pembuatan miniatur yang berbahan bambu dia pilih karena satu alasan. Yaitu karena jarang yang membuat miniatur dari bambu. Kebanyakan berbahan kayu. Karena itulah, setahun silam dia membulatkan tekat menekuninya.

“Karya pertama saya miniatur kereta,” terang pria kelahiran 1986 ini.

Awalnya, Winarso kesulitan. Baik dalam hal membentuk maupun merekatkan. Tapi, lama-lama dia terbiasa. Termasuk pemilihan perekat. “Paling sulit ketika merekatkan satu komponen dengan komponen lain,” ucapnya.

Peralatan pun demikian. Awalnya dia menggunakan pisau ukir. Yang biasa digunakan untuk pembuatan stiker. Ternyata antara keawetan dan harganya tak seimbang. Dia pun membuat sendiri pisau. Tiap-tiap pisau dengan fungsinya yang berbeda-beda.

Dalam membuat satu karya, waktu yang dibutuhkan juga berbeda-beda. Paling cepat dua hingga tiga hari. Seperti saat membuat miniatur perahu layar. Waktu yang dia butuhkan bisa sampai dua minggu. Demikian pula ketika dia pertama kali membuat miniatur monumen SLG. “Karena saya butuh detailnya,” terangnya.

Proses masing-masing miniatur juga berbeda-beda. Mobil misalnya. Membuat karya yang ini dia mulai dari kerangka atas. Sementara miniatur gedung atau ikon lokasi wisata dia mulai dari kerangka bawah.

Setelah semua bagian direkatkan, kemudian proses pewarnaan. Untuk bagian ini tak butuh waktu lama. “Dalam sehari cat  cepat mengering,” aku lelaki yang biasa dipanggil Gazho ini.

Karena karya-karya yang indah dan berkualitas, banyak yang membeli miniatur buatan Gazho. Untuk miniatur tempat angkringan misalnya. Gazho membanderol Rp 350 ribu. Sedangkan miniatur SLG terjual seharga Rp 600 ribu.

Beberapa karyanya memang tergolong mahal. Namun itu sebanding dengan proses pembuatannya. Karena tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi, keunggulan miniatur bambu tidak hanya dilihat dari bahan yang digunakan berasal dari limbah saja. Namun terdapat beberapa modifikasi pada karyanya yang membuat menjadi semakin menarik. Seperti menara Pisa di Italia yang di dalamnya terdapat lampu LED. Sehingga selain menjadi sebuah hiasan, miniatur tersebut juga bisa digunakan untuk lampu tidur.

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia