Minggu, 21 Oct 2018
radarkediri
icon featured
Features

Mereka yang Menjadi Juara dalam KVRR 2018 (3)

Inginnya 10 Besar, Nyatanya Jadi Yang Pertama

Rabu, 26 Sep 2018 15:55 | editor : Adi Nugroho

KVRR

TAK MENYANGKA: Desti bergaya dengan medali finisher setelah menyelesaikan lari sejauh 10 kilometer. (RAMONA VALENTIN – JawaPos.com/RadarKediri)

Targetnya tak muluk-muluk. Hanya ingin setingkat lebih baik dari hasil yang dia capai tahun lalu. Bila kemudian dia mampu tampil sebagai juara tentu bukan sesuatu yang hanya kebetulan.

RAMONA TIARA VALENTIN

Matanya terbelalak. Persis seperti orang yang keheranan. Tatapan matanya juga menyiratkan ketidakpercayaan. Ekspresi itu terwujud saat Desti Sandra Rofita diberi ucapan selamat di stan medis, usai melewati garis finish.

“Lho, ada apa ya, masa aku juaranya?” ucapnya setengah berteriak. Sejurus kemudian, gadis yang saat itu masih duduk di tandu medis ini bertepuk tangan riuh.

“Waahhh…,” ucapnya lagi, menandakan kegembiraan.

Dalam ajang Kelud Volcano Road Run (KVRR) 2018 ini Desti merupakan peserta kategori female regular.  Berhasil menjadi juara adalah pencapaian yang luar biasa bagi wanita ini. Apalagi sebelum lomba dia hanya menargetkan bisa masuk sepuluh besar saja.

Mengapa sepuluh besar? “Untuk memperbaiki pencapaian tahun lalu,” ucapnya tersenyum.

Desti termasuk peserta peserta rutin ajang lari di lintasan Gunung Kelud ini. Dari tiga kali pelaksanaan, dia telah ikut dua kali. Tahun lalu, saat pertama kali merasakan beratnya medan menanjak, Desti meraih posisi sebelas di kelompok wanita.

Baginya, bisa menduduki posisi sepuluh besar adalah hal yang luar biasa. Apalagi untuk wanita yang sudah berstatus ibu-ibu seperti dirinya. Ditambah lagi, dia tak memiliki latar belakang olahraga atletik professional. Hanya penghobi.

Desti mengaku bila dirinya hanyalah sebatas ibu rumah tangga yang ingin aktif berolahraga lari. Dia kemudian bergabung bersama komunitasnya, Jumjum Runners. Alasan menggeluti olahraga ini juga sederhana. Karena tidak mengeluarkan terlalu banyak biaya dan waktu. Namun tetap mampu menjaga stamina dan kondisi tubuhnya.

Perempuan 31 tahun ini menggeluti dunia lari juga baru dua tahun belakangan ini bersama komunitasnya. Dia tidak menargetkan juara dalam lomba lari yang sudah dua kali ia ikuti ini pun tidak terlepas dari niatnya yang sebatas olahraga dan bersenang-senang.

Rute lari sejauh 10 kilometer ini tidak ia tempuh dengan mudahnya. Perempuan yang mengenakan topi putih saat berlomba ini bahkan sempat mengeluhkan kakinya kram pada tanjakan sekitar Taman Wisata Margomulyo. Namun hal demikian tidak membuatnya berhenti dan menyerah sebelum menyentuh garis finish. Ia tetap berlari semampunya untuk memenuhi target sepuluh besarnya.

“Aku masih nggak percaya banget kalau juara pertama.  Eh, aku beneran juara kan? Amiiin,” ungkap perempuan bernomor lari 3216 ini sambil mengusap mukanya yang penuh dengan keringat.

Untuk mempersiapkan KVRR ini, Desti berlatih selama 1 bulan dengan rute lari datar hingga tanjakan. Ia juga berlatih ketahanan dan peregangan otot-otot agar tidak mudah kram.  

Berbeda dengan pelaksanaan tahun lalu, KVRR kali ini memberi kesan berbeda bagi Desti. Yaitu karena rute larinya melewati terowongan Ganesha. Begitu keluar terowongan langsung disambut keindahan danau kawah yang kembali terisi air usai letusan 2014 itu.

“Pokoknya kemenangan ini kabar baik untuk keluarga saya, teman-teman saya, komunitas saya dan orang-orang yang sayang sama saya,” pungkas wanita yang juga pemilik sanggar senam di Jalan Teuku Umar ini sambil tersenyum melihati medali yang ia kalungkan.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia