Senin, 10 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Features

Mereka yang Menjadi Juara dalam KVRR 2018 (2)

Simpan Tenaga di Km Awal, Harus Bisa Kuasai Ego

25 September 2018, 22: 05: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

juara kvrr 2018

LAKSANA ANGIN: M. Ali Topan setelah mencapai garis finis dalam event Kelud Volcano Road Run di kawasan puncak Gunung Kelud, Kecamatan Ngancar (23/9). (ANDHIKA ATTAR - JawaPos.com/RadarKediri)

Dari kategori pelajar pria, M. Ali Topan berhasil menembus finis pertama.

Melahap rute 10 km, catatan waktunya, 51 menit 15 detik. Lari naik turun gunung ternyata bukan hal baru baginya.

ANDHIKA ATTAR

Minggu pagi itu (23/9), penonton deg-degan menunggu finisher pertama Kelud Volcano Road Run (KVRR). Raut wajah mereka menegang. Tak berselang lama, dari kejauhan tampak remaja kurus berkulit sawo matang berlari sendirian.

Latar belakang kawah Gunung Kelud kontras dengan kaus singlet dan celana pendek hitam yang dikenakan pelari itu. Ritme larinya stabil. Tepukan tangan dan teriakan penyemangat memperingan langkahnya. Bidikan kamera pewarta pun terarah padanya.

Mendekati garis finis, dia melihat jam tangannya. Melihat catatan waktunya sendiri. Nyaris tanpa ekspresi saat menyentuh garis finis. Hanya kedua telapak tangan yang mengusap muka. Gestur bersyukur. Remaja bernomor dada 3140 itu mencatatkan waktu 51 menit 15 detik. Muchammad Ali Topan berhasil menjadi finisher pertama.

Dia penakluk lintasan KVRR 2018 dari kategori pelajar. Kategori yang baru dibuka pada tahun ini. “Tentunya senang bisa finisher pertama. Semua latihan terbayarkan,” aku remaja yang akrab disapa Topan ini.

Agaknya tak salah orang tuanya memberi nama Topan. Ia berlari seperti angin topan. Meskipun begitu, kehebatan Topan bukan semata berkat nama. Ia mati-matian berlatih pagi dan sore. Setiap hari. Itu sejak kelas satu SMP.

Setiap pagi, ia terbiasa melahap sekitar 30 putaran di lintasan lari Stadion Gajayana, Malang. Sedang sorenya fitnes atau latihan beban. Lalu tiap Sabtu, berlatih endurance dengan menaklukkan Gunung Panderman, Kota Batu. Naik-turun gunung 25 kilometer (km). Sejak kelas 3 SMP, aktivitas ini sudah menjadi kebiasaannya. “Kalau tidak begitu, stamina untuk lari jarak jauh tidak akan terbangun,” beber remaja 17 tahun ini.

Sudah puluhan event lari jarak jauh diikutinya. Yang pertama di Kota Malang. Topan berhasil menyabet gelar juara. Begitu pula dengan KVRR. Ini adalah kali pertamanya. Pengalaman dan latihan membangun instingnya. Topan tidak langsung menggenjot lari di km awal. Dia sabar menunggu. Tak mau terbawa ritme lari peserta lain. “Harus bisa menguasai ego, tidak bisa sesuka hati menghabiskan stamina,” ujar anak kedua dari lima bersaudara ini. Kilometer-kilometer awal ia menyimpan tenaga. Perlahan tapi pasti, Topan baru memimpin pada kilometer enam dari total jarak rute 10 km.

Itu semua berkat latihan rutin dan konsisten. Menjaga pola makan, istirahat, dan kesehatan jadi fokusnya. Tergabung di persatuan atletik seluruh Indonesia (PASI) Kota Malang, Topan memang bercita-cita jadi atlet. “Bakat akan kalah dengan usaha dan kerja keras,” ujar remaja kelahiran 11 Oktober 2000 ini.

Topan terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya pengepul rosokan di Gadang, Sukun, Kota Malang. Ibunya berjualan sembako. Berkat bimbingan orang tuanya,

Topan menjadi pribadi yang kuat. Pemikiran siswa kelas II SMAN 5 Malang ini sudah dewasa.

Aktivitas latihan rutin dan intensif tidak membuatnya lupa membantu ortu. Sepulang latihan, Topan membantu ayahnya. “Saya tidak malu (membantu di tempat rosok),” tegasnya. Hadiah dari lomba lari untuk membayar biaya sekolah. Sebagian ditabung. Sejak SMA, Topan membayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sendiri.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia