Senin, 10 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Buka Mata, Buka Telinga

23 September 2018, 15: 15: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh: Andhika Attar

Oleh: Andhika Attar

Bagai desing peluru yang melengking melesat di samping kuping. Suara-suara miring dengan nada serak pun melenggang bebas. Tanpa filter pun saringan. Nada sumbang berbau dugaan-dugaan terlontar. Tanpa adanya konfirmasi valid.

          Beruntung jika dugaan atau prasangka baik yang keluar. Kebanyakan justru sebaliknya. Budaya kita bukan budaya berbaik sangka. Budaya kita adalah budaya berburuk sangka. Budaya nyinyir. Budaya teriak dulu baru berpikir.

          Jika dikaitkan dengan tingkat pendidikan atau strata ekonomi. Rasanya juga kurang tepat teori tersebut. Tidak ada yang bisa bertanggung jawab atas kebenarannya. Kita, bangsa nyinyir dari yang miskin hingga yang tajir melintir. Dari yang drop out SD kelas empat hingga yang lulusan Harvard.

          Bagaimana menghilangkan budaya yang sudah mendarah daging. Yang sudah menjadi uap-uap dalam setiap hembusan nafas yang kita keluarkan. Yang menjadi gestur-gestur dari setiap langkah tangan dan kaki.

          Belum lagi, sekarang adalah tahun politik. Tahun yang harus dilalui dengan tirakat terlebih dulu. Dengan cara banyak-banyak berdoa agar tidak salah memilih pemimpin. Namun belum jaminan juga yang dipilih adalah yang tepat dan dapat menjadi juru selamat.

          Sudah barang tentu setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Pun dengan kepentingan yang berbeda pula. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Kita memang dilahirkan dan dibesarkan dengan nilai-nilai yang tidak sama.

          Bagi para pengusaha, prioritasnya adalah iklim investasi yang jelas. Ijin mudah, tidak berbelit. Dan pastinya, pajak yang murah. Bagi kaum agamis, prioritasnya adalah kedamaian beribadah. Rasa tenang dalam menjalankan ritus agamanya. Adanya jaminan tidak akan diganggu saat beribadah.

          Teko air yang diisi kopi tidak akan berubah menjadi teh ketika dituangkan ke dalam cawan. Pun sebaliknya. Maka harus dipahami betul-betul. Apa yang keluar dari mulut kita adalah cerminan apa yang menjadi asupan atau isi dari pikiran kita.        Orang yang tiap hari menebar kebencian hampir bisa dipastikan jika pikirannya pun dipenuhi jelaga hitam rasa tidak suka yang membahana. Tidak bisa tidak. Ingat, teko berisi kopi tidak akan berubah menjadi teh ketika dituang.

          Sayangnya, teko yang berisi ramuan kesehatan terkadang jarang-jarang dituang. Tidak setiap hari atau bahkan setiap jam dituang. Kalau tidak sedang membutuhkan atau sakit keras tidak akan dituangkan. Hanya dalam kondisi khusus dan darurat saja.

          Begitulah gamabaran dari suara orang-orang yang mempunyai pemikiran yang merasa berilmu justru jarang bersuara. Tidak seperti teko berisi kopi sachet harga lima ribuan. Entah karena merasa suaranya terlalu berharga untuk dikeluarkan atau memang tidak sedang ingin bersuara. Kelompok ini hanya minoritas. Segelintir kecil dari tumpukan jerami yang disimpan di gudang pak tani.

          Bersuara akan kalah dengan yang berteriak. Berkelompok akan kalah dengan yang berkongsi. Serba salah. Maju belum tentu menang. Mundur sudah dipastikan kalah. Ya sudah, diam di tempat saja.

          Itulah Indonesia. Yang berisi merasa tidak perlu turun ke bawah dan melihat gejolak akar rumput. Sedangkan yang kosong terus mendongak. Berteriak lantang dengan jargon-jargon yang dibacanya dari selebaran kampanye. Dimana hiburannya biduan dengan rok dan kualitas suara yang mini.

          Kita adalah bangsa nyinyir. Suka mendengar keburukan orang. Benci mendengar kelompoknya digunjingkan. Sama saja, tidak ada bedanya. Masing-masing kubu juga berpraktik seperti itu. Hanya metodenya saja yang berbeda.

          Permasalahan kita adalah tutup mata. Tidak mau menerima pendapat orang. Merasa paling benar sendiri. Tidak mau mendengar tanggapan orang. Konsisten boleh, membabi buta jangan. Jadilah pendukung yang elegan. Mendukung apa yang memang layak didukung. Memprotes apa yang memang harus diprotes. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia