Minggu, 21 Oct 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Sengkuni Zaman Now

Rabu, 19 Sep 2018 15:36 | editor : Adi Nugroho

Oleh: Suko Susilo (*)

Oleh: Suko Susilo (*)

Sengkuni adalah otak tipu daya dan kejahatan Kurawa terhadap Pandawa. Dia adalah paman dari Suyudana, Raja Astina. Bagi Kurawa, Sengkuni merupakan berkah yang banyak membawa keuntungan.

Sebaliknya, kelicikan Sengkunilah yang menyebabkan Pandawa mendapat begitu banyak kemalangan. Setiap kata-katanya menyimpan maksud mencelakai Pandawa.

Sengkuni menjumpai kematiannya secara mengerikan dalam Baratayuda Jayabinangun. Rahangnya dirobek dengan dahsyat oleh Wrekudara yang terkenal dengan ketajaman Kuku Pancanakanya.

Tentu saya bisa salah, mengira Pembaca Muda sudah semakin jarang yang paham Baratayuda Jayabinangun. Tetapi ada baiknya saya terjemahbebaskan bahwa Baratayuda Jayabinangun itu berarti perang (yuda) dinasti Barata untuk membangun (binangun) kejayaan.

Saya memang tertarik mengawali tulisan ini dengan memperkenalkan sifat Sengkuni dari dunia wayang. Kecuali berusaha agar jenis kesenian wayang terjaga kelestariannya. Juga, sebagai pengingat bahwa di hampir setiap organisasi terdapat anggota yang berkarakter Sengkuni. Apalagi di birokrasi dan organisasi politik.

Erat kaitan birokrasi dan politik. Bahkan dalam praktik, keduanya memiliki efek simbiotik. Saling tergantung dan saling mempengaruhi. Presiden, gubernur, bupati dan wali kota dengan masing-masing wakilnya sadar bahwa birokrasi merupakan sumber dukungan politik. Sementara birokrat sadar bahwa kedekatannya dengan pejabat politik dapat menjamin karier dan jabatannya.

Fakta inilah yang seringkali memprovokasi tindakan yang menabrak standar etika profesinya masing-masing. Pejabat politik mengingkari sikap fair dalam dinamika jabatan birokrasi. Ini dilakukan demi memelihara bahkan mencetak agen dukungan. Sementara oknum birokrat bertindak culas dan curang cari muka di hadapan pejabat politik. Demi kesan birokrat penurut. Pura-pura taat dan hormat demi jabatan meningkat.

Hal ini menjadi-jadi saat pemimpin yang pejabat politik itu kekuasaannya mulai melemah. Kekuasaan adalah sumber daya pengaruh yang memungkinkan seorang pemimpin mendapatkan kepatuhan dari yang dipimpin. Pada saat daya pengaruh seseorang pemimpin mulai melemah, tanpa sadar pemimpin membuka peluang Sengkuni datang.

Sadar bahwa kekuasaan pemimpinnya melemah mulai bekerjalah Sengkuni. Berbisiklah ia bahwa perlu  menciptakan harapan agar bawahan berlomba mendekat dan kembali mematuhinya.  Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak jabatan yang diserahkan pada sekadar pelaksana tugas (Plt). Yang minim otoritas tapi surplus tugas.

Jangan buru-buru mengganti pejabat berhenti dengan men-definitif-kan pejabat baru. Agar bawahan berlomba taat dan patuh sambil berharap mendapat jabatan definitif.

Pemimpin berdalih ingin mencari calon pejabat hebat yang sungguh pantas duduk pada jabatan yang masih di Plt. Pura-pura butuh waktu lama dan teliti mencari calon dengan kompetensi tinggi. Yang punya kecerdasan otak dan tidak minus kemuliaan watak.  

Anak buah resah tak dianggap masalah. Tak penting berpikir bawahan menumpuk sampai karatan antre-jabatan. Yang penting otoritas unit kerja yang di Plt tetap penuh digenggaman pemimpin. Sudah begitu, pemimpin putar otak agar otoritas itu sedapat mungkin di-create jadi modal rent seeking.

Padahal, dengan banyaknya jabatan yang di Plt, rentang kendali (span of control) cenderung jadi tak memadai. Efektivitas kepemimpinannya dipertaruhkan. Dukungan politik pun berbalik lari karena bawahan frustasi.

Sekalipun kekuasaannya lemah, tapi pemimpin harus cakap menyaring informasi. Sangat mungkin pemimpin akan berinteraksi dengan oknum bawahan yang cerdik memutar balik fakta. Martabat sekarat dicitrakan hebat. Tabiat tercela diopinikan bak manusia setengah dewa.

Tanpa sadar pemimpin menelan mentah informasi sampah. Tanpa sadar juga, data salah dipidatokan di gedung yang disewa jutaan rupiah. Bawahan tak berhenti manggut-manggut seperti lehernya dipasang peer. Tak jelas  apakah bawahan paham atau hanya ingin terlihat takjub mendengar pidato yang sebenarnya menyebalkan.

Jadinya, pidato panjang hanya bermakna bualan. Itupun disambut keplok meriah bak anak SD pulang pagi sebab gurunya rapat. Tak cukup keplok, meja kursi ditabuh riuh hingga gedung seolah mau rubuh. Pemimpin dari atas podium tersenyum lebar, bangga mengira keplok itu tanda takjub dan suka cita.

Turun podium jadi pemimpin dengan kesombongan melambung tak terbendung. Sombong karena ulah Sengkuni yang cerdik mematut-matut citra diri pemimpin yang sebenarnya tak patut. Akibatnya justru menjerumuskan.

Keculasan dan kecerdikan Sengkuni zaman now sangat mungkin mampu membalik karakter asli pemimpin. Dari karakter yang rendah hati menjadi pemimpin sombong dan tinggi hati. Dari yang semula peduli bawahan menjadi pemimpin yang asyik dengan dirinya sendiri. Banyak unit kerja dioperasikan Plt dan otoritas penuh tetap digenggam sendiri.

 Tahun berganti dan waktu melaju tak berhenti. Usia semakin menumpuk membuat tubuh tertekuk bungkuk. Datanglah masa pensiun dan kekuasaannya dilucuti waktu.

Setelah tak berkuasa nasibnya setara penderita kusta. Bawahan dan semua orang menjauhinya. Telepon yang dulu berdering bertubi-tubi jadi senyap sepi setiap hari. Dada yang dulu membusung jadi mengempis. Mata yang dulu membelalak jadi layu bak mata pengisap ganja.

Waspadalah pemimpin, banyak Sengkuni di sekitar Anda. Atau bahkan justru Anda sendiri yang berwatak Sengkuni? He.. he…hati-hatilah agar tak mati senasib Sengkuni dalam Baratayuda.(Penulis adalah Ketua Pusat Studi ASEAN Univ. Kadiri)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia