Minggu, 21 Oct 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Telur Ceplok Rebus

Senin, 17 Sep 2018 10:21 | editor : Adi Nugroho

Oleh : Puspitorini Dian H.

Oleh : Puspitorini Dian H.

Pernah memasak telur ceplok rebus? Ya mungkin terkesan simpel. Cukup pecahkan telur di dalam panci yang berisi air mendidih.Tapi, benarkah sesederhana itu? Ternyata, tetap dibutuhkan trik agar mendapatkan telur ceplok rebus dengan hasil maksimal. Kuncinya adalah menggunakan garam. Tujuannya agar si putih telur tidak meluber ke mana-mana, dan hasilnya tetap cantik.

Begitu juga saat memasak sayur rebus. Ingin warnanya tetap cerah dan segar? Bagi ibu-ibu penggemar masak pasti paham. Kuncinya terletak pada air es. Begitu sayuran sudah direbus dalam waktu tak lama, segera masukkan ke dalam air es untuk menghentikan proses memasaknya. Warna pun tetap bertahan.

***

Belajar dari telur ceplok rebus dan sayuran itulah, saya jadi paham, dalam hal apapun, yang terkesan sederhana belum tentu memang sederhana. Yang terkesan mudah, ternyata belum tentu mudah, karena untuk hasil maksimal perlu tahu cara lain.

Ini kisah lainnya. Sebut saja Sita. Beberapa tahun lalu, kebetulan Sita itu sedang mengurus surat izin mengemudi (SIM). Dia ngotot ingin mengurus SIM dengan jalur yang benar. Semua proses dilalui. Pendaftaran, foto, cek kesehatan, tes tulis...semua lancar. Hingga tiba waktunya tes praktik, Sita harus menyerah gagal. Dia harus kembali lagi untuk tes lagi.
Kesempatan kedua dicobanya dan sekali lagi gagal. Kakinya jatuh saat mengendarai motor saat mengelilingi patok-patok yang digunakan dalam tes. Kesempatan ketiga kembali dicoba dan lagi-lagi gagal.
Apakah Sita menyerah? Tidak. Dia kembali lagi dan lagi. Meski harus berselisih bulan. Sampai akhirnya pada titik kesekian, Sita yang bertemu dengan saya mengaku sudah menyerah. Idealismenya mengurus surat yang wajib dimiliki untuk berkendara pun terpaksa ditekan. Jalur calo pun dipilihnya. Uang yang dikeluarkan pun lebih banyak. Sehari, dua hari, SIM yang didambakannya pun akhirnya berhasil dipegangnya. Meski, rasa tak puas dirasakannya. “Kenapa harus begini. Apakah saya benar-benar tak layak naik motor,” ucapnya yang saya jawab dengan tawa. Sebab, saya menyadari sendiri beratnya mengikuti tes tulis dan praktik. Sempat gagal? Sudah pasti. Tes tulis terhitung bisa dilewati. Asalkan kita teliti dan paham rambu-rambu lalu lintas. Tetapi, begitu masuk ke ranah tes praktik, bersiap-siaplah menjadi seorang pengendara yang lihai. Berputar-putar dan harus pintar berkelok-kelok dengan lebar jarak yang dibatasi serta kaki tak boleh jatuh sekalipun. Kalau tak tenang dan mudah grogi, dijaminlah tidak akan bisa melewati tes ini.

Pantas kalau beberapa waktu silam, di masing-masing kecamatan, hasil kerja sama tiga pilar membuat simulasi latihan untuk praktik berkendara. Tujuannya untuk melewati tes praktik ini. Meski yang mengurus SIM membeludak, tapi tak banyak warga yang memanfaatkan kesempatan mencoba simulasi ini. Mereka lebih memilih cara yang lebih praktis. Ya itu tadi...lewat calo.

Nah..bagi yang mendapatkan SIM dengan ‘menembak’, tentu saja tidak pernah merasakan sensasi setiap proses yang dilewati ini. Datang, menunggu, dan tinggal foto. Selesailah prosesnya.

Kini, saat kasus pungli di Polres Kediri terkuak, apakah akan menyelesaikan sumber masalah? Tunggu dulu.  Bisa saja muncul masalah baru. Mengurus SIM semakin sulit. Karena banyak yang akan gagal melewati proses tes yang cukup berat. Sementara jalur cepat pun sudah tidak ada peluang lagi.

Sedangkan berkendara saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok. Tingginya angka pelajar yang nekat berkendara meski tanpa surat kendaraan bermotor patut menjadi perhatian tersendiri. Meski mungkin kalau urusan kelihaian berkendara, para pelajar tersebut bisa saja lebih lihai dari mereka orang dewasa yang sudah memiliki SIM lebih lama.

Mungkin cara memudahkan tanpa perlu mempersulit (agar masyarakat tak ada pilihan lain dan harus ke calo) sudah harus dipikirkan aparat yang berwenang. Seperti halnya pengurusan pajak kendaraan bermotor yang dari tahun ke tahun terus memperbaiki diri dalam pelayanan, kiranya bukan tidak mungkin diberlakukan yang sama dalam pengurusan SIM.

Bukan berarti gegabah memudahkan seleksi sehingga siapapun bisa mendapatkan SIM, tetapi lebih ke proses seleksi yang tepat sasaran sehingga tidak terkesan berlebihan.

Pengurusan SIM ini jangan sampai menjadi momok bagi masyarakat. Jangan sampai terkesan kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah? Jangan sampai, ada lagi, tangkapan tangan saat pengurusan SIM. Semoga. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia