Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Pembangunan Taman Hijau SLG Dikorupsi

Rugikan Negara, Tiga Tersangka Ditahan

13 September 2018, 17: 36: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

taman hijau slg

DIKORUPSI?: Salah satu titik Taman Hijau SLG. (M FIKRI ZULFIKAR - JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Korupsi di Kantor Lingkungan Hidup (sekarang jadi Dinas Lingkungan Hidup) yang berkaitan dengan pembangunan Taman Hijau Simpang Lima Gumul (SLG) sudah terjadi pada 2016. Namun, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Kediri mulai mengendus sejak awal tahun ini. Dua PNS dan satu rekanan menjadi tersangka.

          “Kejari Kabupaten Kediri saat ini sedang menangani penyidikan perkara dugaan tindak pidana korupsi penyelewengan anggaran,” terang Arie Satria Hadi Pratama, kasi Intelijen kemarin siang (12/9) di ruangannya.

          Menurut Arie penyelewengan anggaran ini terkait pelaksanaan kegiatan pembangunan taman hijau Simpang Lima Gumul (SLG). Dua orang yang dijadikan tersangka berinisial DET dan HD. Kejaksaan juga menahan satu orang rekanan, yaitu JP dari PT HUM. Rekanan yang beralamat di Makasar inilah yang mengerjakan proyek bermasalah tersebut.

Saat ini ketiga tersangka telah ditahan. Kejari menitipkannya di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 2A Kediri. “Senin kemarin (10/9) kami tetapkan sebagai tersangka,” bebernya.

Terkait modus penyelewengan anggaran yang diduga oleh ketiga tersangka, Arie masih belum bisa memberikan keterangan yang gamblang. “Bisa mark up, bisa ada yang tidak dilaksanakan. Itu materi penyidikan,” elaknya.

Jumlah pasti anggaran yang diduga diselewengkan oleh tersangka masih dilakukan perhitungan secara komperhensif oleh pihak kejari. Arie menambahkan bahwa pihaknya sedang memintakan kepada ahli untuk melakukan perhitungan.

Meskipun begitu, pihak Kejari Kabupaten Kediri sudah memiliki perkiraan perhitungan kerugian daerah dengan adanya kasus penyelewengan ini. “Diperkiraan kurang-lebih Rp 700 juta,” tutur Arie.

Terkait barang bukti yang digunakan untuk menjerat ketiganya, Arie mengaku belum bisa berkomentar. Namun ia menegaskan pihaknya telah mendapatkan lebih dari dua alat bukti.

“Yang pasti pada saat penyidik menetapkan ketiganya sebagai tersangka, minimal dua alat bukti sudah dipegang,” terang Arie.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan penyelidikan terhadap kasus ini sejak awal 2018. Kemudian setelah itu, pada 2 Juli mulai melakukan penyidikan.

Ketiga tersangka dijerat dengan sangkaan primer pasal 2 ayat 1 junto 18 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 junto pasal 34 ayat 1 KUHP.

Selain sangkaan primer, ada pula sangkaan subsider yang digunakan oleh pihak Kejari Kabupaten Kediri. Yaitu pasal 3 junto pasal 18 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi sebagaimana telah diubah Undang-undang 20 tahun 2001 junto pasal 64 ayat 1 KUHP.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia