Jumat, 17 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Nasabah PT Brent Securities Minta Dana Investasi Kembali

13 September 2018, 17: 14: 21 WIB | editor : Adi Nugroho

bos brent investasi

TERDAKWA: Yandi Suratna Gondoprawiro (rompi oranye) saat di ruang persidangan. (IQBAL SYAHRONI – JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

KEDIRI KOTA – Para nasabah korban investasi bodong PT Brent Securities (BS) berharap dana penanaman modalnya bisa kembali. Mereka menuntut terdakwa Yandi Suratna Gondoprawiro, 57, bos perusahaan asal Jl Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat bertanggungjawab.

Pemilik PT BS dan PT Brent Ventura tersebut diminta menyerahkan aset-aset perusahaannya yang masih berharga. Itu untuk mengganti kerugian investasi puluhan nasabahnya di Kediri yang mencapai Rp 35 miliar.

Pasalnya, di antara puluhan korban penipuan bermodus investasi abal-abal tersebut belum ada yang dikembalikan sama sekali. Hanya beberapa nasabah yang dana investasinya telah dikembalikan. Itu pun hanya sebagian kecil tidak sampai 10 persen dari modal investasi yang disetorkan ke PT BS.

Padahal, uang yang diinvestasikan sejumlah nasabah mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. “Sampai sekarang belum dikembalikan sama sekali,” ujar Hartono, 53, pengusaha asal Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto yang menjadi korban investasi bodong PT BS, kemarin.

Pada Desember 2013, dia menanamkan total modalnya sebesar Rp 5 miliar. Oleh pihak perusahaan Hartono dijanjikan mendapat keuntungan investasi hingga 10,5 persen selama setahun. Pada Januari dan Februari 2014 ia masih menerima keuntungan bunga dari investasinya. Namun Maretnya sudah tidak cair lagi.

Karena itu, Hartono lantas meminta agar uang investasinya dikembalikan. Bahkan, pada Juni 2014 dirinya sempat mendatangi Yandi di Jakarta. Pada saat itu, para nasabah PT BS asal Jakarta dipertemukan di sana. Kepala nasabahnya, Yandi sempat menyatakan siap bertanggungjawab. Mendengar janji tersebut, Hartono pun kembali pulang.

Namun, nyatanya janji Yandi hanya sekadar janji. Hingga bos PT BS itu disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri, Senin (10/9), dana investasinya tak kunjung dikembalikan. Sepeser pun Hartono belum menerima uangnya. Makanya, ia menilai, Yandi sudah memiliki niat buruk tidak mengembalikan uang nasabah.

Berbeda dengan Hartono, Boedi Darma, 63, pengusaha dari Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota Kediri, yang juga korban PT BS, sempat menerima pengembalian modal investasinya. Hanya saja, nilainya relatif sangat kecil. Tak sampai 10 persen dari total dana yang disetor.

Dari investasi sebesar Rp 600 juta yang ditanamkannya, Boedi baru mendapat pengembalian Rp 50 juta. “Sudah dikembalikan Rp 50 juta. Sekarang masih sisa Rp 550 juta yang belum dikembalikan,” ujarnya.

Sama seperti Hartono, modus awal investasi abal-abal ini melalui karyawan marketing PT Brent Securities yang mengajukan penawaran. Mereka mendatangi calon nasabah dari rumah ke rumah. Nasabah diiming-iming penghasilan bunga investasi 10,5 persen dalam jangka satu tahun.

Namun, Boedi mengaku, hanya mendapatkan pembayaran bunga di awal saja. Yakni pada dua bulan pertama setelah menanamkan modalnya. “Setelah itu tidak mau membayar lagi. Sampai sekarang,” imbuhnya.

Boedi juga mengakui, para korban investasi bodong yang berdomisili di Kediri telah dikoordinasi oleh Hartono. Belum semua korban melapor ke pihak berwajib. Makanya, begitu Yandi disidangkan di PN Kabupaten Kediri, nasabah PT BS yang belum melapor akan dikoordinasikan untuk melapor ulang ke kepolisian.

Jika kini Yandi disidangkan dengan dakwaan pasal 378 KUHP tentang penipuan, para korban tersebut berniat melaporkan dengan pasal yang berbeda. Ini agar kepolisian atau kejaksaan mengusut kembali kasus bos PT BS. Pasalnya, menurut Boedi, terdakwa bisa saja dikenai pasal lain.

Terkait masalah itu, Boedi menjelaskan bahwa nantinya akan diadakan pembicaraan terlebih dahulu dengan semua nasabah korban PT BS. Sebab, menurutnya, para korban memiliki pandangan yang berbeda mengenai pengembalian uang yang diinvestasikan ke perusahaan Yandi.

Beberapa nasabah, menurut Boedi, ingin dana investasinya dikembalikan secara utuh. Tidak perlu dikembalikan beserta bunga yang dijanjikan seperti di awal berinvestasi dahulu.

Ada pula yang ingin dipotong saja. Ini agar tidak semakin lama proses pengembaliannya. Hanya saja, Boedi mengaku, tidak bisa mewakili suara para korban kasus investasi bodong ini. “Nanti saja, kalau sudah diadakan rapat,” imbuhnya.

Sementara itu, Hartono mengungkapkan, ada sekitar 30 nasabah korban investasi abal-abal PT BS yang telah menghubunginya. Mereka berniat melaporkan kasusnya ke polisi dan minta didampingi.

Sejak dirinya dan dan beberapa rekan dirugikan oleh investasi tipu-tipu ini, Hartono menyatakan, akan terus mengawal persidangan Yandi di pengadilan. Apalagi, bos PT BS itu telah merugikan banyak orang. Tak hanya di Kediri. Hartono mengatakan, sedikitnya ada 850 nasabah se- Indonesia yang menjadi korban. “Karena itu kami ingin pengadilan memberikan hukuman yang seberat-beratnya. Ya agar tidak terjadi lagi peristiwa penipuan semacam ini,” paparnya.

Terpisah, Heru Budi Setiawan, ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Republik Indonesia (YLPK-RI) Cabang Kediri, menyatakan, pihaknya akan terus mengawal proses persidangan Yandi. Itu lantaran YLPK memang melaksanakan tugas pokok tentang perlindungan konsumen yang diatur dalam UU Nomor 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Menurut Heru, para nasabah korban PT Brent Securities sudah menjadi konsumen dari investasi bodong. Sebagaimana diatur di undang undang itu, konsumen berhak mengetahui informasi yang benar dan jelas mengenai kondisi barang atau jasa. “Ini kan Yandi sudah menipu dengan tidak menjelaskan secara rinci dan benar,” terangnya.

Kegundahan Korban Investasi Abal-Abal

-         Berharap dana yang diinvestasikan dikembalikan

-         Sebagian nasabah belum terima pengembalian dana investasinya

-         Beberapa telah dapat pengembalian, namun nilainya kecil

-         Nasabah yang belum lapor akan melaporkan lagi bos PT BS ke polisi

-         Nasabah minta pengadilan menghukum berat terdakwa penipuan investasi bodong ini

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia