Selasa, 13 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Nasabah Investasi Bodong Rugi Rp 35 Miliar

Selasa, 11 Sep 2018 16:44 | editor : Adi Nugroho

sidang investasi bodong

TERDAKWA: Yandi Suratna (rompi oranye) saat di ruang persidangan. (IQBAL SYAHRONI – JawaPos.com/RadarKediri)

KEDIRI KOTA – Kasus penipuan bermodus investasi bodong dengan terdakwa Yandi Suratna Gondoprawiro, 57, bos PT Brent Securities dan PT Brent Ventura, akhirnya disidangkan. Kemarin, belasan nasabah yang menjadi korban perusahaan itu hadir di Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri.

          Kerugian nasabah di Kediri mencapai Rp 35 miliar. Hartono, 53, salah satu korban asal Jl Sersan Bahrun, Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto menjelaskan, pihaknya melapor karena perusahaan yang dikelola Yandi tidak mengembalikan uang disetorkannya. Janji memberi hasil investasi atau bunga tinggi pun tak terbukti.

Akibat, tertipu investasi abal-abal ini Hartono merugi hingga Rp 7 miliar. Dia mengaku, awalnya Kristianti, istrinya, yang diiming-iming berinvestasi saham di PT Brent Securities. Ia didatangi Laura Dewi, staf marketing PT Brent Securities, yang menawarkan investasi dengan keuntungan melebihi bunga dari bank umumnya.

investasi bodong

Investasi Bodong di Kediri (Grafis: Afrizal - JawaPos.com/RadarKediri)

Kala itu, standar bunga bank berkisar 9 hingga 9,5 persen. Namun, di perusahaan Yandi yang berasal dari Jl Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, ditawarkan keuntungan sebesar 10 sampai 11 persen. “Tetapi awalnya istri saya tidak tertarik,” ujar Hartono.

          Karena itu, Laura meminta bantuan ke Heri Candra, kepala cabang PT Brent Securities di Surabaya. Dia lalu membantu membujuk Kristianti. Calon nasabah itu diiming-imingi proses yang mudah dan uang dapat dikembalikan jika dibutuhkan sewaktu-waktu.

Bujukan itulah yang membuat Kristianti tergiur. Apalagi iming-iming bunga lebih besar 1,5 persen dari rata-rata bunga bank. “Laura juga pernah bilang pemilik Brent Securities masih saudara dengan perusahaan Djarum,” imbuh Hartono.

          Lebih berminat lagi ketika Laura menyatakan bahwa progam investasi ini seperti deposito. Namun, menurut Hartono, kenyataannya memakai sistem Medium Terms Notes (MTN) yang bunganya mengambang. “Katanya uang investasi juga bisa diambil dalam jangka waktu tiga sampai enam bulan,” ungkapnya.

          Nyatanya, ketika Hartono setor dana pada Desember 2013 ternyata hingga Maret 2014 bunganya tidak bisa dicairkan. Bahkan, janji uang investasi bisa diambil dalam jangka waktu tiga bulan juga tidak terbukti. “Saya tunggu sampai bulan April 2014, uang sudah tidak bisa diambil lagi. Ini sudah melanggar dari janji di awal untuk pengambilan dana sewaktu-waktu,” urainya.

Usut punya usut, lanjut Hartono, ternyata dana nasabah yang disetor ke Brent Securities diinvestasikan lagi ke PT Brent Ventura yang notabene 80 persen sahamnya milik Yandi sendiri.

Hartono mengungkapkan, total kerugian nasabah di Kediri yang menjadi korban investasi bodong ini mencapai Rp 35 miliar. Jumlah nasabahnya puluhan orang. Namun, sepengetahuan Hartono, yang sudah melapor ke Polres Kediri Kota sekitar 30 orang. “Saya berharap semua korban yang belum mengetahui dan belum melapor agar segera melaporkan,” ucapnya.

Belasan korban tersebut, kemarin, hadir di PN Kota Kediri. Di antara mereka hadir pula Heru Budi Setiawan, ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Republik Indonesia (YLPK-RI) Cabang Kediri. Dia menambahkan, lembaganya akan berusaha untuk mengawal persidangan kasus kejahatan keuangan yang merugikan nasabah investasi ini. Pasalnya, kasus penipuan yang merugikan banyak orang ini harus diberikan efek jera. Sehingga pelaku tidak mengulangi perbuatannya. “Ya agar tidak terjadi penipuan seperti ini lagi,” ujarnya.

          Namun sidang yang dijadwalkan kemarin, tertunda. Itu karena satu anggota majelis hakim yang menyidangkan perkara ini sedang dinas ke luar kota. Yuliana Eny Daryati, anggota majelis hakim lainnya, mengatakan, sidang akan dilanjutkan pada Kamis (13/9). “Agendanya pembacaan dakwaan,” katanya.

          Untuk diketahui, sebelumnya pada September 2015, Yandi telah ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Batam. Itu dalam kasus penipuan yang sama. Dia divonis empat tahun pascabanding di Pengadilan Negeri Batam.

Namun, bos PT Brent Securities ini hanya satu tahun ditahan di Lapas Batam. Sebab, pada 2016 dia dipindahkan ke Lapas Tanjung Gusta, Medan. Pemindahan itu untuk kepentingan penyidikan karena Yandi juga dilaporkan nasabah di sana.

Korban penipuan investasi bodong ini tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Total kerugian diperkirakan sampai Rp 1,7 triliun. Namun data dana yang dilaporkan oleh nasabah yang menjadi korban masih sekitar Rp 850 miliar.

Selama ditahan Yandi sempat mendapat remisi. Seharusnya, Agustus 2018 ia sudah bebas. Namun remisinya dicabut karena petugas lapas memergokinya membawa handphone (HP) di selnya.

Lantas bagaimana Yandi bisa ditahan di Lapas Kediri? Ini tak terlepas dari laporan nasabah yang menjadi korbannya di Kediri. Ketika dia masih ditahan di Lapas Tanjung Gusta, penyidik Polres Kediri Kota dan kejaksaan menjemputnya di sana. Dia kemudian ditahan di Lapas Kediri sejak Februari 2018 hingga akhirnya menjalani persidangan di sini.

Penasihat Hukum (PH) Yandi, Ikhsan, belum memberi komentar ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kediri. Saat dihubungi telepon seluler (ponsel)nya, yang bersangkutan belum merespons.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia