Selasa, 13 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features
Pos Pelangi

Sering Dicurhati Anak yang Jadi Korban Bully

Komunitas Peduli Anak yang Digagas Pelajar SMA

Selasa, 11 Sep 2018 12:04 | editor : Adi Nugroho

SEADANYA: Komunitas Pos Pelangi mengajak anak-anak Dusun Bedingin, Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret bermain. Mereka juga mengajari anak-anak belajar sembari lesehan di tikar.

SEADANYA: Komunitas Pos Pelangi mengajak anak-anak Dusun Bedingin, Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret bermain. Mereka juga mengajari anak-anak belajar sembari lesehan di tikar. (ANWAR BAHAR BASALAMAH - RadarKediri.JawaPos.com)

Berawal dari keresahan seorang pelajar SMA, komunitas Pos Pelangi terbentuk setahun lalu. Mereka mendampingi anak-anak broken home dan kurang mampu di Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret. Kegiatannya meliputi belajar kelompok dan bermain bersama.

ANWAR BAHAR BASALAMAH

Adalah kegelisahan Avany Mahmudah, siswa kelas XII IPS SMAN 2 Nganjuk yang jadi tonggak berdirinya komunitas Pos Pelangi. Suatu malam di akhir tahun 2017, keprihatinan gadis berusia 18 tahun ini terhadap berbagai kasus anak memuncak. Baik pendidikan anak kurang mampu, kasus kekerasan hingga bullying yang biasa dihadapi anak-anak.

Dia lantas mencari info keberadaan anak-anak pelajar SD dari keluarga kurang mampu dengan mengirim pesan ke beberapa temannya lewat aplikasi WhatsApp (WA). “Akhirnya ada teman yang memberi tahu tentang data siswa SD dari keluarga kurang mampu,” kenang Avany Mahmudah menceritakan awal pendirian komunitas Pos Pelangi. 

Malam itu juga, Vany, sapaan akrab Avany Mahmudah, berangkat ke Dusun Bedingin, Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret untuk menemui anak putus sekolah di sana. Dia menemui Dika. Bocah yang seharusnya duduk di bangku kelas V SD itu berhenti sekolah karena broken home.

Dia tinggal sendirian bersama neneknya di sebuah rumah yang sangat sederhana. Melihat kondisi Dika, gadis berkerudung ini langsung terenyuh. Dia lantas menggagas pendirian komunitas yang kegiatannya mendampingi anak-anak kurang mampu dari Desa Sukorejo.

Di sana, Vany tidak hanya bertemu dengan Dika, tetapi ada beberapa anak lainnya. Setelah berkenalan, gadis yang tinggal di Kelurahan Kauman, Kecamatan Nganjuk itu mengajak anak-anak tersebut bermain di dekat pos kamling Desa Sukorejo.

Dari sana pula nama komunitas Pos Pelangi. Sebab, pertemuan Vany dengan anak-anak awalnya di dekat pos. Adapun pelangi merupakan simbol keberagaman.

Beberapa minggu bergaul dengan anak-anak di sana, Vany bisa diterima dengan baik. Anak-anak senang dengan cara pendekatan Vany yang mengajak mereka bermain.

Aktivitas itu lantas diunggah Vany ke Instragram (IG) pribadinya. Dari sana, beberapa teman lantas menyatakan minat untuk bergabung. “Di awal ada tujuh pelajar. Lima dari smada (SMAN 2 Nganjuk) dan 1 anak masing-masing dari smasa (SMAN 1 Nganjuk ) dan smaga (SMAN 3 Nganjuk),” lanjutnya.

Dalam seminggu, Vany bersama teman-teman relawan berkunjung empat kali ke Desa Sukorejo. Jika awalnya kegiatan dilakukan di dekat pos kamling, kini bergeser ke rumah salah satu anak.

Mereka datang ke Desa Sukorejo selepas sekolah atau sekitar pukul 16.00. Kegiatan selesai sekitar pukul 19.00. Banyak aktivitas yang dilakukan untuk mendampingi sebagian anak-anak kurang mampu dan broken home itu. Salah satu yang wajib dilakukan adalah menemani mereka belajar. “Kadang kalau ada PR (pekerjaan rumah) dari sekolah, kami membantu,” urainya.

Di luar kegiatan itu, relawan Pos Pelangi juga mengajak bercerita. Yang paling sering adalah kisah-kisah nabi. Juga, belajar praktik wudu dan salat. “Setiap Magrib kami mengajari bagaimana wudu dan bacaan salat,” imbuh anak pasangan M. Hamzah dan Mangesti Wahyuni ini.

Yang paling membuat anak-anak senang adalah saat mereka diajak bermain. Di depan anak-anak, Vany dan teman-temannya mempraktikkan permainan tradisional yang sudah langka. Seperti gobak sodor, ular tangga, engklek, dan petak umpet. “Jadi setelah belajar, mereka diperbolehkan bermain,” bebernya.

Pos Pelangi juga mengajarkan keterampilan. Salah satu buah karya anak-anak komunitas yang bisa dibanggakan adalah sandal dari kardus. Meski belum bisa dijual, tetapi sandal itu bisa dipakai di dalam ruangan.

Dengan berbagai kegiatan yang digagas komunitas Pos Pelangi, Vany mengaku lega karena anak-anak menjadi lebih gembira. Keakraban yang tercipta membuat mereka tak jarang curhat.

Ada curhat yang lucu, namun ada juga anak-anak yang curhat soal keluarga dan pergaulannya di sekolah. Biasanya, setiap relawan mendampingi untuk mendengarkan curhat mereka. “Terkadang ada yang cerita pernah di-bully di sekolah. Kalau sudah begitu, anak-anak nangis sambil cerita,” kata siswi yang pernah mengikuti forum pelajar Indonesia (FPI) ini.

Kini, jumlah anak-anak yang tergabung di Pos Pelangi semakin bertambah. Total ada 20 anak. Hanya saja, frekuensi relawan saat ini jutrsu berkurang. Dalam seminggu, mereka hanya bisa datang ke Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret, satu kali. Yaitu, setiap Sabtu dan Minggu.

Berkurangnya intensitas pertemuan itu karena sebagian besar relawan saat ini sudah duduk di kelas XII. Sehingga, aktivitas mereka di sekolah semakin padat. Makanya, kini Vany berniat merekrut relawan-relawan pelajar yang masih duduk di kelas X dan XI. “Supaya pertemuan lebih intensif dengan anak-anak,” tandasnya. 

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia