Rabu, 26 Sep 2018
radarkediri
icon featured
Features

Hartatik dan Junaedi, Guru di Sekolah Lereng Gunung Wilis

Taati Sumpah Mengabdi, Rela Tempuh Jarak Jauh

Senin, 10 Sep 2018 17:10 | editor : Adi Nugroho

guru sdn pagung 3

BERKELOK-KELOK: Hartatik dan Junaedi berkendara pulang. (IQBAL SYAHRONI – JawaPos.com/RadarKediri)

Bertugas di lokasi yang jauh dengan medan berkelok, naik turun gunung memang tantangan. Namun hal itu bukan halangan bagi Hartatik dan Junaedi untuk terus mengajar di SDN Pagung 3 di lereng atas Gunung Wilis. Padahal rumah mereka di Nganjuk dan Gurah berjarak jauh.

IQBAL SYAHRONI

Kamis siang itu (6/9), jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Cuaca memang sedang panas-panasnya. Namun kondisi itu tidak meruntuhkan semangat Hartatik untuk berhenti mengajar di sekolah dasar (SD) yang berada di lereng atas Gunung Wilis. Tepatnya di SDN Pagung 3, Desa Pagung, Kecamatan Semen.

hartatik junaedi

SEMANGAT TINGGI: Hartatik dan Junaedi berada di ruang guru setelah selesai mengajar di SDN Pagung 3, Desa Pagung, Kecamatan Semen (6/9). (IQBAL SYAHRONI - JawaPos.com/RadarKediri)

Ketika tiba di sana, Jawa Pos Radar Kediri diterima Kepala Sekolah Subiyanto di ruang guru. Terlihat beberapa guru di ruangan tersebut, termasuk Junaedi. Mereka memang sudah selesai tugas mengajar. Sementara Hartatik masih mengajar murid kelas empat.

“Kalau saya sudah selesai dari pagi,” ujar Junaedi, guru olahraga SDN Pagung 3 ramah sambil menawarkan minum. “Mau teh atau kopi Mas, nyantai dulu saja di sini,” imbuhnya.

Sembari menunggu Hartatik selesai mengajar, Junaedi menceritakan bagaimana ia bisa menjadi guru olahraga di SDN yang jauh dari perkotaan. Apalagi, rumahnya termasuk paling jauh jika dihitung jaraknya dari sekolah. Sekitar 25-30 kilometer (km). Junaedi tinggal di Desa Bogem, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.

Meski begitu, jarak tidak menyurutkan semangat Junaedi untuk mengajar. Ia merasa hal tersebut sudah menjadi bagian dari hidupnya. “Karena ketika disumpah dahulu, saya sudah menyatakan siap mengabdi di seluruh Indonesia,” tutur bapak tiga anak ini.

Lantaran jauh, Junaedi berangkat dari rumah sekitar pukul 06.00WIB. Sebelum menuju Pagung, ia mengantar anaknya yang masih duduk di bangku SD di SDN Singonegaran, Kota Kediri. Sekitar pukul 06.45, guru ini sudah sampai di SDN Pagung 3. Dia lalu mempersiapkan peralatan untuk senam pagi. “Memang kalau setiap pagi selalu dilakukan senam di lapangan,” ungkap pria 54 tahun ini.

Sejatinya Junaedi asli kelahiran Desa/Kecamatan Semen. Orang tuanya asli desa itu. Namun, saat telah berumahtangga dirinya pindah ke Bogem, Gurah. Sebelum dipindahkan di SDN Pagung 3, Junaedi pernah mengajar di SDN Gurah. Pada Oktober 2017, ia baru dipindahkan. “Jalan sekitar Semen saja saya sudah hafal dari kecil,” terangnya.

Di tengah obrolan, sekitar pukul 11.30, Hartatik telah selesai mengajar. Dia lalu masuk ruang guru. Bergabung bersama rekan guru lainnya. “Wah maaf Mas, tadi masih mengajar,” ujarnya.

Hartatik adalah guru kelas di SDN Pagung 3. Dia mengajar berbagai mata pelajaran pada murid kelas satu hingga kelas enam. Karirnya sebagai guru bermula pada 2007. Kali pertama mengajar, dia diberikan amanah menjadi salah satu guru SD di SDN Kemlokolegi, Baron, Nganjuk. “Dekat dengan tempat tinggal saya,” imbuhnya.

Pada 2013, Hartatik mengikuti tes jalur umum untuk menjadi guru. Dia pun dinyatakan lulus. Kemudian mengikuti pengangkatan jabatan pada 2014. Saat pengumuman pengangkatan, dirinya langsung ditunjuk menjadi guru di SDN Pagung 3, Kecamatan Semen.

Awalnya Hartatik merasa kaget. Itu karena ketika dilihat dari letak geografisnya, rumahnya yang berada di Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk harus berangkat setiap hari menuju ke Pagung, Semen. Dibanding guru lain di sekolah yang sama, jarak rumah Hartatik dengan sekolah paling jauh.

Dia pernah menghitung jarak dari rumahnya menuju ke SDN Pagung 3, sekitar 45 kilometer. “Ya, sekitar 90 km pergi-pulang,” urainya

Namun hal tersebut ia lewati dengan santai. Pasalnya, ketika dilakukan pengangkatan Hartatik merasa harus menaati janji untuk bersedia jika dipindahkan di mana saja. “Asal masih di Indonesia, insya Allah saya sanggup,” paparnya sambil bercanda.

Perempuan yang tahun ini berumur 39 tahun tersebut mengaku bahwa murid di SDN Pagung 3 adalah murid yang tidak gampang menyerah. Pasalnya, tidak sedikit dari mereka yang jauh dari rumah. Jarak yang mereka tempuh dari rumah sampai ke sekolah saja ada yang sampai tiga kilometer. “Itu pun mereka tempuh dengan berjalan kaki,” ungkapnya.

    Hartatik, Junaedi, dan beberapa guru pernah mencoba ingin mengantarkan mereka pulang. Namun murid-murid tersebut menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan. “Malah memang tidak mau diantar karena ingin jalan kaki,” timpal Junaedi.

    Hartatik dan Junaedi pun mengaku, senang bisa mengajarkan murid yang memiliki semangat tinggi untuk menimba ilmu. Hal itu membuat semua beban ketika di jalan hilang seketika jika melihat antusias murid SDN Pagung 3 dalam menuntut ilmu sangat tinggi.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia