Selasa, 13 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Anggota Unit Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Kediri

Takut Pada Mulanya, Terbiasa Pada Akhirnya

Senin, 10 Sep 2018 16:26 | editor : Adi Nugroho

bpbd kediri

TELITI: Windoko dan anggotanya memeriksa peralatan yang akan dibawa untuk pelatihan di Jurang Senggani, Tulungagung. (ANDHIKA ATTAR - JawaPos.com/RadarKediri)

Rasa takut dan gugup adalah hal yang manusiawi. Begitu pula bagi anggota tim URC BPBD Kabupaten Kediri. Namun, rasa takut itu terkalahkan dengan semangat menolong sesama yang menjadi korban bencana.

          Hiruk-pikuk begitu terasa di markas tim Unit Reaksi Cepat (URC) yang berada di kawasan kantor Pemkab Kediri, di Jalan Soekarno-Hatta ini. Beberapa orang berlalu-lalang. Membawa perlengkapan outdoor. Menaikkannya ke truk dan mobil yang ada.

          Mereka serius mengecek alat. Hanya sesekali mereka masih sempat bercanda. Tak lama kemudian mereka kembali serius.

Namun, mereka bukan sedang bersiap mendatangi panggilan bencana. Sebab, hingga kemarin wilayah Kediri masih aman dari ancaman bencana. Keseriusan mereka itu karena tengha mempersiapkan diri dan peralatan untuk acara pelatihan. Pelatihan yang akan diadakan di Jurang Senggani, Tulungagung. Ini adalah latihan rutin bagi seluruh anggota tim URC. Guna meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan kekompakan.

          Pelatihan itu dilaksanakan Jumat (7/9) hingga Minggu (9/9). Dengan agenda tiga poin latihan utama. Pelatihan dapur umum, jungle rescue, dan vertical rescue.

          Bagaimana pun juga, latihan adalah bekal utama untuk bisa menjalankan misi pertolongan dengan sukses. Bahkan dengan latihan yang rutin bisa menanggulangi rasa cemas dan khawatir pada saat bertugas.

          “Dengan pelatihan bersama-sama dan kemampuan yang dimiliki, dapat meminimalisir risiko saat melakukan aksi kemanusiaan di lapangan,” terang Windoko, ketua URC BPBD Kabupaten Kediri.

          Latihan pulalah yang bisa mengikis rasa takut dan cemas saat terjun ke daerah bencana untuk menolong warga yang menjadi korban. Karena masing-masing anggota sudah bisa mengukur kemampuan dan batasnya masing-masing.

          Bukan berarti Windoko dan timnya sudah kebal dari rasa takut dan cemas. Bukan. Lebih tepatnya adalah mereka sudah bisa mengatur dan memosisikan rasa takut itu sendiri.

          “Awal-awal dulu pasti ada rasa takut atau cemas. Manusiawi. Namun, seiring waktu berjalan waktu kita terjun  di lapangan dan berlatih, semuanya dapat kami atasi,” tutur pria kelahiran tahun 1974 silam.

          Belum lagi, mereka juga dituntut untuk berani dan mengalahkan rasa takutnya saat melakukan misi penyelamatan korban jiwa. Bagi anggota tim URC ini adalah bagaimana misi pertolongan ini bisa berhasil. Bisa sukses dan korban dapat diselamatkan.

          Salah satu tantangan terberat adalah melakukan misi penyelamatan terhadap korban jiwa yang telah lama meninggal. Anggota pun dituntut untuk tidak takut apalagi merasa jijik untuk mengangkat dan menyelamatkan jasadnya.

          “Apalagi kan baunya, maaf, sangat menyengat. Namun kami dituntut untuk tetap profesional dan harus menjalankan misi dengan sukses,” tegasnya.

          Setiap saat harus berjaga di markas URC membuat anggota pun dituntut untuk siap meninggalkan keluarga di rumah. Belum lagi kalau ada panggilan kebencanaan, bisa jadi mereka harus meninggalkan rumah dengan waktu yang lebih lama lagi.

          “Kadang berat rasanya meninggalkan keluarga di rumah dalam jangka waktu yang lama. Tetapi di satu sisi, keluarga juga yang menguatkan kita saat bertugas. Selama niat kita tulus dalam membantu, Insya Allah ini akan menjadi ladang pahala untuk kita,” ujar Windoko mantap.

          Bagi mereka, bisa menolong korban bencana dan sukses menjalankan misi adalah kebanggaan tersendiri yang tidak bisa ditukar dengan materi. Semua dilandasi rasa ikhlas di hati.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia