Rabu, 26 Sep 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

--- Komposer ---

Senin, 10 Sep 2018 15:16 | editor : Adi Nugroho

Tauhid Wijaya

Tauhid Wijaya

Bising. Siapa saja rasanya tak akan menyukainya. Kebisingan muncul dari bebunyian yang tidak berirama. Tidak beraturan. Suara klakson bersahut-sahutan dari kemacetan lalu lintas adalah contohnya. Atau, suara kaleng yang diseret di jalanan. Gemlondang.

Bukan pada suara klakson masalahnya. Atau suara kaleng. Tapi, dari ketidakberaturan suara yang dihasilkannya. Itulah yang membuat telinga tidak bisa menerima. Sebab, di tangan musisi atau komposer musik, suara klakson atau kaleng bisa berubah menjadi nada-nada yang indah. Ketika diharmonisasikan. Dengan bunyi-bunyi yang lain. Dengan nada-nada yang lain.

Simak saja racikan musik ala ‘Sinten Remen’-nya Djaduk Ferianto. Atau, ‘Kiai Kanjeng’-nya Emha Ainun Najib. Yang dikenal kreatif memadukan aneka bebunyian dari apa saja itu. Di tangan kreator seperti mereka, benda-benda yang hanya dikenal menghasilkan bunyi bising bisa diubah menjadi nada-nada yang membentuk harmoni. Bisa diterima oleh telinga.

***

Adzan. Itu adalah cara yang diajarkan Nabi Muhammad untuk memanggil umatnya guna melaksanakan salat. Lima waktu dalam sehari. Subuh. Duhur. Asar. Magrib. Isya. Dengan memilih muadzin bersuara terbaik. Bilal bin Rabah. Bekas budak asal Ethiopia. Afrika. Benua yang memang dikenal menghasilkan banyak orang bersuara merdu. Dengan berdiri di tempat yang tinggi. Agar suaranya terdengar di radius yang lebih luas. Karena belum ditemukan pelantang elektronik pada masa itu.

Maka, dalam perkembangannya, jadilah menara sebagai bagian dari arsitektur khas masjid. Yang sebenarnya tidak murni khas Islam –yang lahir di Arab. Karena, bangunan tinggi menjulang itu dipinjam dari peradaban Byzantium. Yang juga digunakan untuk bangunan-bangunan lain. Termasuk gereja. Adzan yang khas Islam dan menara yang tidak khas Islam, bertemu dalam keindahan. Harmoni.

***

Wali sanga. Mereka adalah para penyebar Islam yang berasal dari Timur Tengah. Hadramaut. Yaman. Datang ke Jawa ketika kerajaan dipimpin oleh raja-raja Hindu atau Budha. Bukan lewat peperangan atau penaklukan. Akan tetapi, akulturasi budaya.

Maka, bedug dan kentongan pun tetap digunakan mengiringi adzan. Untuk memanggil orang-orang. Agar datang salat berjamaah. ‘Pujian’ juga diciptakan dan dilantunkan. Dengan irama ala tetembangan dan syair gubahan. Yang isinya bersemangatkan pendekatan diri kepada Tuhan. Guna mengisi jeda waktu sambil menunggu datangnya orang-orang. Usai adzan dilantangkan dan sebelum iqamah disuarakan. 

Di sini, bedug, kentongan, dan irama ala tetembangan yang tidak khas Islam bisa bertemu dengan adzan. Relatif tanpa pertentangan. Bahkan, memukulnya (bedug dan kentongan) atau melantunkannya (‘pujian’) kemudian menjadi ikut dianggap bernilai ibadah yang berujung ganjaran. Sebagaimana melantangkan adzan.

Karena itulah, ada kebahagiaan ketika bisa melakukannya. Kalau perlu, ‘berebut’ kesempatan untuk mendapatkannya. Sebagaimana berebut ‘air suci’ atau berebut ‘gunungan apem’ pada ritual-ritual yang lain. Ada kebahagiaan begitu teraih tangan. Karena ada ganjaran yang didapatkan.

***

Masyarakat. Selalu berubah seiring perubahan zaman. Penduduk bertambah. Teknologi berkembang. Persawahan menyempit. Perkampungan meluas. Yang sepi menjadi ramai. Padat. Ritme kehidupan bergerak semakin cepat. Waktu semakin berkurang. Sulit untuk mencari yang luang.

Semua itu mengubah perilaku. Yang agraris berubah menjadi industrialis. Yang komunal menjadi individual. Yang homogen menjadi lebih heterogen. Banyak orang. Banyak kepala. Banyak pikiran. Banyak keinginan. Dan, semua ingin dimenangkan.

Di sinilah butuh komposer-komposer andal untuk meracik heterogenitas masyarakat. Agar tercipta harmoni. Keindahan. Tidak seperti klakson yang bersahut-sahutan di kepadatan lalu lintas. Atau, kaleng yang diseret di jalanan. Pekak. Bising.

Itu bisa terwujud jika ada kesadaran: yang besar menyayangi, yang kecil tahu diri. Dengan begitu, tak ada yang mengintimidasi. Tak ada pula yang memaksakan diri. (*)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia