Rabu, 26 Sep 2018
radarkediri
icon featured
Ekonomi
Dampak Nilai Rupiah Melemah

Keuntungan Produsen Tempe Menyusut

Tak Berani Naikkan Harga

Jumat, 07 Sep 2018 20:03 | editor : Adi Nugroho

MASIH BERTAHAN: Sentra pembuatan tempe di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon mulai terdampak melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Meski demikian, produsen tidak berani menaikkan harga karena khawatir penjualan akan turun.

MASIH BERTAHAN: Sentra pembuatan tempe di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon mulai terdampak melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Meski demikian, produsen tidak berani menaikkan harga karena khawatir penjualan akan turun. (REKIAN - RADARKEDIRI.ID)

NGANJUK - Sentra pembuatan tempe di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon terpukul kenaikan harga kedelai akibat melemahnya rupiah. Meski demikian, mereka tidak berani menaikkan harga jual karena khawatir sepi pembeli. Akibatnya, para pembuat tempe itu rela margin keuntungannya menyusut agar omzet penjualan tak berkurang.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, harga kedelai impor yang semula Rp 6.500 per kilogram kini menjadi Rp 7.700 per kilogram. “Dampak melemahnya rupiah terhadap dolar AS ini harga kedelai langsung naik Rp 1.200 per kilogram,” kata Novan, 31, produsen tempe asal Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon.

Lebih lanjut Novan mengatakan, kenaikan harga kedelai sebenarnya sudah terjadi sejak Ramadan lalu. Tetapi, kenaikannya hanya sedikit. Mulai Rp 100 hingga Rp 300 per kilogram.

Tetapi, kenaikan paling drastis terjadi beberapa hari lalu. Yaitu, sejak rupiah terus terdepresiasi dolar AS. Menyikapi kenaikan harga kedelai, kata Novan, seharusnya dia menaikkan harga jual tempe atau memperkecil ukurannya. “Tetapi kami tidak mungkin melakukannya,” lanjut Novan.   

Jika Novan memaksakan diri menaikkan harga tempe, dia khawatir penjualan akan turun drastis. Sebab, saat ini permintaan tempe tidak mengalami peningkatan.

Opsi mengurangi ukuran tempe juga tidak diambilnya. Sebab, hal itu dikhawatirkan akan membuat pembeli beralih ke tempe buatan produsen lain. “Terpaksa memotong keuntungan sampai 10 persen. Begitu strateginya,” terang Novan. 

Apakah Novan mulai mengurangi produksi tempenya? Ditanya demikian, Novan menggeleng. Hingga kemarin dia mengaku tetap memproduksi dalam jumlah yang sama. Yaitu, sebanyak 150 kilogram kedelai tiap harinya.

Dari jumlah tersebut, Novan biasa mendapat untung Rp 12 ribu per kilogram. “Sejak harga kedelai naik, keuntungan dikurangi Rp 1.200 per kilogram,” imbuh bapak satu anak itu.

Meski sudah   menyiapkan skema pengurangan keuntungan, Novan berharap melambungnya harga kedelai tidak berlangsung lama. Sebab, jika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah, dia khawatir usaha yang diwarisi dari orang tuanya itu akan bangkrut. 

Untuk diketahui, selain memilih opsi mengurangi keuntungan, Novan berusaha memadukan usaha pembuatan tempe dengan peternakan sapi. Ampas tempe yang biasanya tidak dimanfaatkan, digunakan sebagai pakan ternak. “Kalau tempe saja nggak kuat,” keluhnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia