Minggu, 21 Oct 2018
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Dolar Menguat, Tempe Belum Terpengaruh

Kamis, 06 Sep 2018 17:25 | editor : Adi Nugroho

dolar tempe

TUMPUK: Hariono, pedagang tempe dan tahu di Pasar Setonobetek. Harga tempe masih stabil hingga kemarin. (IQBAL SYAHRONI – JawaPos.com/RadarKediri)

KEDIRI KOTA – Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah sempat memunculkan kekhawatiran bagi masyarakat. Melemahnya rupiah dikhawatirkan mempengaruhi harga tempe, bahan makanan yang jadi favorit hampir mayoritas masyarakat termasuk di Kediri. Sebab, kedelai sebagai bahan pembuatan tempe masih merupakan produk impor.

Namun, saat dolar menyentuh angka Rp 15 ribu seperti kemarin, pedagang tempe masih tenang-tenang saja. Mereka belum merasakan dampak. Sebab, bahan baku tempe mereka beli sebelum nilai tukar rupiah anjlok tajam.

“Kalau saya belum sempat beli bahan (baku) lagi setelah rupiah anjlok hari ini (kemarin, Red),” kata Hariono, pembuat dan penjual tempe di Pasar Setonobetek kemarin.

Menurut Hariono, rata-rata para pedagang tempe di pasar memang lebih memilih untuk memakai kedelai impor sebagai bahan baku. Pasalnya, ukuran dari hasil proses pembuatan tempe dari kedelai lokal dan kedelai impor berbeda. Lelaki yang biasa disapa Har ini menjelaskan bahwa ia dahulu pernah mencoba memakai kedelai lokal. Hasilnya ternyata lebih sedikit dibanding saat memakai kedelai impor. Ia sempat mengalami kerugian karena menggunakan kedelai lokal sebagai bahan pembuat tempe. “Kalau produksi tahu, saya pakai kedelai lokal,” imbuhnya.

Har juga menjelaskan bahwa ia masih menyimpan stok tempe dari hasi pembelian kedelai impornya. Ia juga tidak bingung menghadapi krisis rupiah yang mungkin akan berimbas pada harga dagangannya. Sebab, peminat tempe di Kediri masih sangat tinggi. Saat ini, dia masih menjual satu glodor  (satu potong besar tempe) seharga Rp 6.000.

Har menambahkan, sebelum rupiah mengalami penurunan dia membeli kedelai impor sebanyak satu ton. Harga per kilogramnya saat itu mencapai Rp 7.600. Harga tersebut sudah mengalami peningkatan dibanding beberapa bulan sebelumnya. Selama ini harga kedelai impor tak sampai menyentuh angka Rp 7.000 per kilogramnya.“Sebelumnya per kilo harganya Rp 6.500,” terangnya.

Har mengatakan, pembuat tempe seperti dirinya tak bisa menaikkan harga secara mendadak. Mereka juga harus melihat situasi pasar saat ini. Apalagi, stok kedelainya mereka beli sebelum rupiah tertekan.

          Selain itu, para penjual kedelai lokal dan kedelai impor di Pasar Setonobetek juga belum merasakan dampak dari harga jual rupiah yang menurun. Meski sudah mengerti terkait berita rupiah anjlok, beberapa penjual kedelai di Pasar Setonobetek mengaku tidak bisa mengubah harga jual kedelai ke masyarakat secara mendadak.

          Dewi Hartati, seorang karyawan di grosir yang menjual berbagai macam kebutuhan, termasuk kedelai, mengaku tokonya belum membeli kedelai impor setelah rupiah menurun. “Biasanya bos yang membeli dan menentukan harga,” aku Dewi.

          Rumi, salah satu pembeli tempe di dagangan Har menjelaskan bahwa harga tempe yang ia beli beberapa hari lalu di tempat tersebut masih sama. Ia juga sudah mengerti bahwa ada berita rupiah anjlok. Dan ia pun menambahkan bahwa kemungkinan harga tempe dan tahu akan naik beberapa hari lagi. “Mungkin besok, (hari ini, Red) atau beberapa hari ke depan,” imbuhnya.(syi/fud)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia