Rabu, 26 Sep 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Jujur Kok Fluktuatif

Minggu, 02 Sep 2018 16:45 | editor : Adi Nugroho

Oleh: RAMONA TIARA VALENTIN

Oleh: RAMONA TIARA VALENTIN

Enak banget rasanya kalau bisa jujur. Apalagi kalau dapat jatah hidup di zaman serba maya, serba instan. Kita bisa menampilkan hal yang begitu sempurna tanpa kurang satu pun saat sedang memanfaatkan dunia maya.

Namun bisa berubah sampai 180 derajat saat benar-benar menghadapi realita. Nggak dipungkiri juga kalau tiba tiba dari yang jujur harus bohong untuk menarik simpati orang. Lalu bagaimana yang aslinya pembohong, akankah mereka jujur di saat tertentu? Atau akan tetap demikian hingga tulang belulang bercampur tanah?

Sebenarnya pola kejujuran seperti ini sudah ada sejak era digital belum ada dan berkembang seperti saat ini. Lihat saja kasus penipuan hingga adu domba, memang munculnya baru-baru ini? ini hanya pola kuno yang bertahan hingga saat ini, yang bikin beda hanya ritmenya saja.

Kita memang selalu dihadapkan dengan kepentingan-kepentingan tak terduga, yang membuat kita harus memilih akan terus jujur tanpa mengadu domba atau jujur dengan mengadu domba atau malah berbohong dan juga mengadu domba untuk menyelamatkan kepentingan pribadi? Ngapain sih harus bohong kalau jujur lebih enak, lebih lega dan lebih mudah pastinya.

Coba kalau kita udah bohong sekali, kita pasti berlanjut pada kebohongan-kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan yang pertama. Lain halnya ketika si pembohong rela jujur ditengah kebohongannya, disitulah kebohongan mulai berhenti. Dan tanda bila si pembohong siap  mempertanggungjawabkan semuanya.

Nggak ngerti lagi dengan orang orang yang aslinya bertabiat baik namun berubah ketika memiliki nafsu kepentingan pribadi.  Mereka rela mengarang cerita dengan sedemikian rupa rapinya hingga mengorbankan daging kawan mereka sendiri agar mereka tetap selamat dan baik-baik saja. Kalau sudah begini, namanya penurunan kejujuran. Lain halnya saat berada posisi terendah, dan tak punya kawan, seorang bisa membuka dirinya sejujur-jujurnya hingga merendahklan diri mereka sendiri. Lalu bagaimana bila posisi terendah bisa membuat kejujuran kita semakin meningkat karena tidak terikat dengan nafsu dan kepentingan pribadi?

Saya jadi ingat kalau semua orang mengeluh saat harga cabai rawit mengalami harga yang yang naik turun atau bisa disebut dengan fluktuatif. Mereka mengeluhkan karena menganggap harga komoditas tersebut tidak konsisten di angka tertentu. Justru mereka bisa berubah kapan saja bahkan hanya dalam hitungan jam. Tidak salah bila akhirnya harga cabai rawit terkenal dibenci oleh pedagang maupun pembelinya. “Rego Lombok cilik iki koclok, nggarai gendeng lek dipikir (harga cabai rawit ini sinting, bikin gila kalau dipikir),”kata salah satu pedagang cabai rawit di pasar grosir tempat saya nongkrong. Mereka lebih memilih harga cabai rawit di angka mahal namun konsisten dan tidak berubah daripada harus berubah setiap jamnya.

Memang benar sih, nggak hanya harga cabai rawit saja yang bikin gila kalau dipikir, harga kejujuran pun juga demikian. Kalau jujur saja harus naik turun alias fluktuatif seperti harga cabai rawit, bagaimana kita bisa konsisten, apakah kita bisa disebut pribadi yang berkomitmen. Mungkin saja malah psikopat, karena cerdas dan cerdik dalam memainkan kebohongan yangterlihat jujur serta alami. Bukan apa-apa sih, saya yakin semuanya menginginkan kejujuran tanpa adu domba. Termasuk saya dan anda yang membaca. Yakin udah jujur, fluktuatif nggak? Masak jujur kok fluktuatif. Malu dong sama cabai rawit.

Kita bisa mencobanya secara perlahan, untuk menghilangkan jujur yang fluktuatif. Pertama pilihan, apakah kita mau menjadi pribadi yang jujur, atau pribadi pembohong yang harus siap dengan risiko kebohongannya. Lalu maafkan saja diri kita yang pasti pernah meninggalkan kejujuran untuk kesenangan sesaat dan harus berbohong. Kalau kita sudah memafkan diri sendiri, rasa ihklas bisa muncul dan mendorong kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Dan lanjutkan dengan kita berperilaku dengan jujur. Tanpa mengharap imbalan, tanpa pamrih, dan tanpa mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan orang sekitar. Yang terakhir, sadari perubahannya secara perlahan. Kita bisa ketagihan. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia