Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Subsidi Elpiji Tak Tepat Sasaran

Warga Non-miskin Banyak Gunakan Tabung Melon

27 Agustus 2018, 17: 18: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

HIJAU: Tabung elpiji di pangkalan milik Okky di Jalan Pamenang, Ngasem. Distribusi elpiji subsidi belum tepat.

HIJAU: Tabung elpiji di pangkalan milik Okky di Jalan Pamenang, Ngasem. Distribusi elpiji subsidi belum tepat. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Tabung elpiji 3 kg sejatinya diperuntukkan bagi warga miskin. Yaitu mereka berpendapatan di bawah Rp 1,5 juta per bulan. Selain itu, warga dengan rumah yang lantai dan atapnya tidak permanen adalah salah satu yang berhak atas tabung gas melon ini.

Sayangnya, dalam praktiknya, masih banyak warga yang tergolong mampu masih menggunakan tabung gas bersubsidi ini. Bahkan, masih banyak pegawai negeri sipil (PNS) atau aparatur sipil negara (ASN) yang turut menikmati subsidi tabung gas berwarna hijau ini.

Padahal, Kabupaten Kediri termasuk yang melarang ASN-nya menggunakan elpiji bersubsidi. Namun, agaknya larangan ini tidak begitu diindahkan di lapangan.

Menurut Purwandi, pemilik toko kelontong di Desa Darungan, Pare, masih ada PNS yang membeli tabung gas melon ini di tempatnya. “Iya, ada beberapa Mas,” ujarnya kepada koran ini kemarin siang (26/8).

Purwandi mengatakan, PNS yang membeli tabung gas melon di tempatnya hanya ada satu atau dua saja. “Itu pun dari sekitar sini (Desa Darungan, Red) saja,” imbuhnya.         Lebih lanjut, Purwandi menyebut peraturan peruntukan elpiji 3 kg ini cenderung kurang ketat. Masih banyak konsumen yang menggunakan tidak seharusnya menikmati subsidi elpiji ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Titin, pengecer elpiji 3 kg di Jalan Kawi, Pare. Menurutnya ada beberapa masyarakat yang tergolong mampu yang membeli elpiji di tempatnya. “Ada, tapi tidak begitu banyak. Hanya beberapa saja,” akunya.

Meskipun begitu, ia menegaskan bahwa tidak ada PNS atau ASN yang membeli tabung gas bersubsidi ini dari tokonya. “Kalau PNS setahu saya tidak ada (yang beli di sini),” ujarnya.

Begitu pula Yanto, pemilik toko kelontong di pinggir Jalan A Yani, Pare. Di tokonya yang berada di pinggir jalan besar tersebut sering orang berhenti untuk membeli tabung gas melon ini.     Ia pun mengamini jika banyak orang yang tergolong mampu membeli tabung gas berwarna hijau tersebut di tempatnya. “Kadang orang jauh, kadang dari sekitar saja,” ujarnya.

Masih dari sumber yang sama, ia mengaku sebagai pengecer elpiji 3 kg posisinya serba salah. “Mau tidak dikasih, tapi barangnya (tabung gas melon, Red) ada. Beda lagi kalau kosong seperti ini. Intinya kan saya cuma jualan saja,” terangnya.

Harus diakui, selama ini tidak sedikit pengguna elpiji bersubsidi ini adalah orang yang tergolong mampu secara ekonomi. Padahal peruntukkan distribusi elpiji bersubisidi ini sudah jelas arahnya.

“Sebenarnya subsidi tabung gas melon 3 kilogram itu awalnya kan diperuntukkan untuk rumah tangga dan usaha mikro, kecil, dan menengah,” terang Sampurno, kepala Bagian Perekonomian Pemerintah Kabupaten Kediri.

Karena merupakan barang bersubsidi maka penggunaan elpiji 3 kilogram pemanfaatannya harus tepat sasaran.  Yaitu masyarakat miskin yang telah masuk dalam Basis Data Terpadu (BDT) kemiskinan dari Kementerian Sosial.

Namun, Sampurno menegaskan bahwa secara nasional penerapan subsidi tepat sasaran itu belum dilaksanakan. “Masih menunggu perbaikan data masyarakat melalui verifikasi dan validasi data kemiskinan secara nasional,” ujarnya.

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia