Senin, 14 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Corat-Coret tapi Bukan Vandalisme

27 Agustus 2018, 12: 42: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

mural kediri

LUKIS TEMBOK: Nauval mencoretkan kuas di tembok. Dia adalah peserta lomba mural yang berlangsung di kawasan Wisata Selomangleng. (DIDIN SAPUTRO – JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

KEDIRI KOTA - Suasana berbeda terlihat di kawasan wisata Selomangleng, Kota Kediri, kemarin (26/8) siang. Puluhan orang melakukan aksi corat-coret di tembok sepanjang 20-an meter. Namun, aksi mereka itu bukanlah sikap vandalisme. Melainkan aksi kreatif peserta lomba mural dan grafiti.

“Kami ingin fasilitasi mereka tanpa mengekang kreativitas,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Nur Muhyar, penggagas acara tersebut.

Menurut Nur Muhyar, pihak pemkot memberi fasilitas berupa area menggambar. Berupa dinding di kawasan parkir wisata Selomangleng. Juga peralatan dan bahan untuk menggambar di dinding. Sedangkan peserta harus menuangkan ide sesuai dengan tema yang telah ditentukan oleh panitia.

“Fokus dengan tema tertentu juga tempat-tempat tertentu. Supaya mereka tidak corat-coret di sembarang tempat,” sambungnya.

Kegiatan itu bisa berfungsi dua arah. Pertama kegiatan para seniman mural akan lebih terarah. Kemudian, karya mereka juga bisa dinikmati oleh orang umum. Bukan sekadar dinikmati oleh mereka yang masuk dalam komunitas grafiti. Sebab, lokasi itu merupakan tempat wisata yang akan didatangi banyak orang.

“Selain acara ini sebelumnya Disbudparpora juga pernah memfasilitasi komunitas mural grafiti ini. Seperti di Perum Permata Biru dan juga di persimpangan Kediri Mall,” terangnya.

Festival mural kemarin bertema kebudayaan. Menurut Nur Muhyar, tema itu diselaraskan dengan lokasi kegiatan yang merupakan kawasan wisata sejarah dan budaya. “Jadi sangat pas,” tekannya.

Peserta festival terdiri dari 12 kelompok. Setiap kelompok berisi tiga orang. Mereka berasal dari Kota dan Kabupaten Kediri. Gambar yang mereka goreskan seperti Garuda Wisnu Kencana, Buta Kala, hingga sosok hantu yang digambarkan dalam mitologi Hindu.

Nur Muhyar menyampaikan, selama ini sering ada masukan dari masyarakat. Mereka mengharapkan agar pemerintah lebih mengarahkan seniman mural agar tidak corat-coret secara liar.

“Saya kira pemerintah juga setuju dengan usulan tersebut. Pasalnya ini bukan hanya corat-coret biasa seperti vandalisme pada umumnya. Mereka ini karyanya sangat artistik dan enak dipandang,” tukasnya.

Selain lomba mural dan grafiti, juga digelar pameran dari berbagai komunitas dan pelaku UMKM, karang taruna dan warga binaan Lapas Klas II A Kediri. Termasuk pentas kesenian yang masih mengutamakan kreasi anak muda.  Ke depan Nur Muhyar ingin mengemas acara-acara yang melibatkan komunitas anak muda itu agar lebih tertata dan semarak. Sekaligus bisa membawa dampak yang lebih besar dari sisi ekonomi dan dari sisi publikasinya.

“Artinya bukan sekadar diketahui orang banyak, namun bagaimana nantinya bisa membranding suatu hasil karya mereka,” jelasnya.

Sementara itu, Kabag Humas Lapas Kelas II A Kediri Didi Rahmadi menyambut gembira acara seperti itu. Sebab, baru kali pertama ini warga binaan lapas terlibat secara langsung dalam kegiatan seperti itu.

Didi berharap mereka bisa diundang lagi dalam kegiatan sejenis. Karena ini sangat berguna bagi publikasi karya para narapidana. Selama ini produk yang telah mereka buat belum terekspose ke masyarakat.

“Pameran ni sangat bagus bagi kami untuk re-integrasi pada masyarakat. Salah satu tahapanya ya menampilkan produk yang mereka buat dalam lapas ini,” terangnya.

Sementara, Sony Kurniawan, salah seorang peserta lomba mengatakan bahwa kegiatan itu sangat menguntungkan. Karena ia dan teman-temannya ada tempat untuk menyalurkan hobi.

“Kami harap agenda seperti ini bisa diadakan rutin dan di banyak tempat lagi,” tegasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia