Selasa, 13 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features

Melihat Pagelaran Wayang Mbah Gandrung Ruwat Nagari

Harus Jalan Kaki 35 Kilometer ke Tempat Pentas

Minggu, 19 Aug 2018 15:10 | editor : Adi Nugroho

ruwatan ndalem pojok

RUWATAN: Dalang Wayang Mbah Gandrung saat tampil di Ndalem Pojok. (ANDHIKA ATTAR - JawaPos.com/RadarKediri)

Salah satu perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di Situs Persada Bung Karno Ndalem Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, adalah pagelaran wayang Mbah Gandrung. Yang khas, seluruh perlengkapan pagelaran harus dibawa jalan kaki sejauh 35 kilometer!

Rumah dalang sekaligus tempat penyimpanan perlengkapan wayang Mbah Gandrung berada di Desa Pagung, Kecamatan Semen. Sedangkan lokasi pementasan ini adalah di Ndalem Pojok. Situs Bung Karno yang berada di Desa Pojok, Kecamatan Wates. Jarak antara Pagung dan Pojok adalah 35 kilometer!

Padahal, salah satu syarat pementasan wayang Mbah Gandrung adalah perlengkapan tak boleh dibawa dengan kendaraan bermotor. Harus dibawa dengan berjalan kaki. Maka, jangan heran bila rombongan wayang Mbah Gandrung, termasuk dalangnya, harus menempuh perjalanan selama 10 jam dengan berjalan kaki. Berangkat 01.15, dini hari. Dan tiba di Desa Pojok pada pukul 10.50 WIB!

ndalem pojok

KHAS WAYANG GANDRUNG: Peralatan wayang dibawa berjalan kaki menuju lokasi. (ANDHIKA ATTAR - JawaPos.com/RadarKediri)

“Kami melibatkan banyak teman-teman dalam acara pengangkatan wayang Mbah Gandrung ini,” ujar Yustyono Fatoni, panitia ruwatan nagari.

Ratusan orang dari berbagai komunitas pun turut berpartisipasi dalam mengarak wayang mbah Gandrung ini. Perjalanan dibagi menjadi lima titik yang sudah ditetapkan oleh panitia. Adapun rute yang dilintasi antara lain; dari Pagung, Semen kemudian menuju kelurahan Bandar, tiba di alun-alun Kota Kediri kemudian ke arah selatan, yakni ke Ngadiluwih. Dari Ngadiluwih lantas ke Timur menuju ke Desa Pojok.

“Memang ada pos tertentu. Dan kami memang sudah mempersiapkan teman-teman komunitas untuk membantu pengangkatan wayang Mbah Gandrung ke Ndalem Pojok,” tutur Yus.

          Terkait lakon yang dipentaskan, Yus menegaskan bahwa inti cerita yang ditampilkan adalah tentang ruwatan nagari. Ruwatan ini sendiri dimaksudkan untuk membersihkan penyimpangan sejarah yang terjadi di Indonesia.

“Tujuan kita adalah meluruskan frase perkataan, 17 Agustus adalah kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sedangkan 18 Agustus adalah berdirinya negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” terang Yus.

Lebih lanjut, Yus menegaskan pihaknya telah melakukan kajian yang cukup mendasar. “Kita menoleh pada UUD 45, teks proklamasi, dan cerita sejarah. Yang namanya bangsa itu yang dijajah. Republik itu adalah bentuk pemerintahan ketika bangsa itu  sudah merdeka,” tuturnya.

Sesampainya rombongan yang membawa wayang di Ndalem Pojok, serangkaian upacara dan persiapan wayangan pun dipersiapkan. Sebelumnya, para pengisi upacara sudah berlatih dan mempersiapkan mental terlebih dahulu.

Upacara pun dimulai dengan suasana yang cukup sakral. Upacara ini sendiri ditujukan untuk memperingati hari lahirnya NKRI pada 18 Agustus. “Selama 73 tahun baru kali ini ada peringatan kelahiran NKRI,” ujar Yus setelah mengikuti upacara.

Ada yang berbeda dalam pelaksanaan upacara bendera yang dilaksanakan di Dalem Pojok ini. Yaitu dinyanyikannya lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza.

Suasana upacara kali ini memang terasa berbeda dengan upacara bendera pada umumnya. “Upacara kali ini terasa lebih sakral, trenyuh dan bangga juga. Apalagi ini juga yang pertama kali,” ujar Faga Pandunata Putra, 16, salah satu pengibar bendera.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia