Minggu, 21 Oct 2018
radarkediri
icon featured
Features

Firnanda Junizar Nurhaliza, Juara Kompetisi Matematika Internasional

Mampu Membuat Rumus Sendiri

Sabtu, 11 Aug 2018 14:25 | editor : Adi Nugroho

juara matematika

BERPRESTASI: Firnanda Junizar Nurhaliza yang sering juara kompetisi matematika. (DIDIN SAPUTRO – JawaPos.com/RadarKediri)

Berselancar di internet memberikan manfaat positif bagi Firnanda Junizar Nurhaliza. Tak hanya belajar, melalui media online tersebut siswi SMP ini juga mengikuti kompetisi matematika. Bahkan menjuarai hingga tingkat internasional.

MOCH. DIDIN SAPUTRO

Keikutsertaan Firnanda Junizar Nurhaliza dalam ajang kompetisi matematika tingkat internasional diawali dari hobinya berselancar di internet. Di mata gadis pendiam ini, internet bukan hal yang selalu berpengaruh negatif bagi anak-anak. Justru dari media ini ia bisa keliling dunia.

Bukan untuk jalan-jalan atau berwisata. Namun mengikuti lomba atau olimpiade matematika. “Awalnya ia iseng ada informasi lomba matematika di internet,” sahut Dinda Nathalia, sang bunda, saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri di rumahnya di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.

Kali pertama, remaja yang karib disapa Nanda ini ikut olimpiade tingkat Asia. Itu dalam kejuaraan International Mathematics Wizard Challenge dengan tuan rumah Hongkong. Dalam kejuaraan itu, Nanda memperoleh hasil yang tak terduga. Dia berhasil memboyong medali perak yang dipersembahkan untuk ibunya.

Tak hanya satu negara yang pernah ia singgahi. Gadis 14 tahun ini ternyata ketagihan berkunjung ke luar negeri. Selanjutnya, Nanda mengikuti seleksi dalam kompetisi matematika di Thailand. Itu dalam ajang Challenge for Future Mathematicians. Yang membanggakan, Nanda memperoleh medali emas.

“Banyak yang ikut seleksi itu melalui situs online. Namun hanya puluhan anak dari berbagai negara yang tersaring,” imbuh Dinda.

Memang semua itu tak lepas dari ketekunan Nanda untuk selalu mencoba dan mencoba. Semua rumus-rumus yang dibuatnya sendiri sangat membantu dalam mengerjakan soal-soal matematika. Namun tak jarang ia juga mendapatkan inspirasi rumus dari hasil menjelajah di jaringan internet.

“Sebenarnya tidak mau berangkat, katanya soal yang akan dilombakan di sana sulit-sulit,” ujar Dinda.

Memang saat dikarantina dan itu telah mendekati hari H perlombaan, siswi yang hobi membaca ini hampir tidak mau berangkat. Alasannya, soal yang diperlombakan sangat sulit. Soal tersebut tidak sesuai standar SMP di Indonesia. Bahkan Nanda belum pernah mempelajarinya.

Namun dengan disemangati sang bunda, akhirnya dia mau berangkat. Meskipun tidak yakin apakah nantinya mampu menyumbangkan medali untuk negaranya.  “Harus dicoba dulu, apapun hasilnya nanti yang penting berani mencoba itu sudah luar biasa, semua itu yang atur Allah, dicoba saja. Nanti pasti bisa,” ucap Dinda pada putri sulungnya tersebut.

Saat itu, Nanda sedang mengikuti karantina guna persiapan mengikuti olimpiade ke Bulgaria. Olimpiade tersebut bersifat terbuka, dengan nama Bulgaria International Mathematics Competition, yang diselenggarakan di Kota Burgas.

Acaranya telah dilaksanakan satu bulan lalu, tepatnya pada 1 hingga 6 Juli 2018. Sebelumnya, Nanda diwajibkan mengikuti karantina di Kota Bogor selama dua minggu.

Saat dikarantina, siswi kelas 8 SMP ini mengaku, disuruh mengerjakan soal-soal untuk persiapan perlombaan. Di sana Nanda tidak boleh bawa handphone (HP). Bahkan untuk sekadar berbincang dengan orangtua juga tidak diperbolehkan sama sekali.

Meski begitu, hasil yang memuaskan kembali diraih oleh Nanda. Dia berhasil meraih medali perunggu. Selain medali perunggu, dalam perlombaan tim, Nanda beserta teman-temanya juga mendapat medali perak dalam kompetisi yang sama.

“Itu ternyata berkat rumus yang dibuat Nanda sendiri. Awalnya tidak tahu mau dijawab apa, ternyata setelah utak-atik rumus, itu jawabannya,” ucap Nanda lirih.

Memang sejak sekolah dasar (SD), Nanda sudah suka dengan pelajaran matematika. Menurutnya, kesukaannya itu karena ilmu pasti. Selain gemar mengerjakan soal matematika, ternyata remaja penyuka pecel tumpang ini juga lancar berbahasa asing. Di antaranya adalah bahasa Inggris dan Korea. Semua itu secara otodidak. Lagi-lagi belajar di internet.

“Selain bahasa Inggris dan Korea, juga sedikit-sedikit bisa bahasa Bulgaria,” ujar putri pasangan Dinda dengan Wahyudi Suwantoro itu.

Dinda pun selalu berpesan kepada putrinya, selagi ada kesempatan untuk mencoba, maka lakukanlah. Selain itu, saat mengikuti lomba dan jauh dengan orang tua, Dinda selalu mengingatkan kepada putri kesayangannya untuk tidak meninggalkan salat dan harus tetap berdoa.

(rk/fiz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia