Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Brambang Diserang Ulat Grayak, Ini Saran Dinas Pertanian

31 Juli 2018, 16: 48: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

hama brambang

ALAMI: Petani usai mendapat penyuluhan pemberantasan hama di Desa Paron, Ngasem. (DIDIN SAPUTRO – JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) mengingatkan kepada para petani bawang merah (brambang) agar mencari cara pengusiran hama yang alami. Menggunakan teknik budidaya yang ramah lingkungan. Seperti menggunakan alat perangkap, pemakaian pestisida nabati yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, dan memberi pupuk organik cair. Sedangkan penanggulangan hama menggunakan pestisida sebisa mungkin dihindari.

“Penggunaan pestisida kimia digunakan sebagai alternatif terakhir apabila tingkat serangan hama cukup tinggi,” ujar Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Hortikultura Arahayu Setyo Adi.

Sebelumnya, serangan hama ulat grayak yang menyerang bawang merah di Desa Paron, Kecamatan Ngasem, membuat petani geram. Berbagai solusi untuk mengendalikan hama tersebut telah dilakukan. Sayangnya, upaya itu kurang membawa hasil maksimal.

Kondisi itu juga membuat biaya tanam dan pemeliharaan bawang merah tergolong mahal. Tidak seimbang dengan hasil produksi. Memang bawang merah ini merupakan salah satu komoditas yang harganya fluktuatif, sehingga harus membuat petani pintar-pintar dalam melakukan manajemen budidayanya.

“Selama ini kami telah mengimbau kepada petani tentang tata cara pengendalian hama dan penyakit, terutama yang ramah lingkungan,” ujar Adi.

Berdasarkan laporan petani bawang merah yang ada di Desa Paron itu, Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dispertabun telah menanggapi.  Dengan pemberian bantuan berupa pestisida untuk mengendalikan hama utama bawang merah tersebut. Namun dinas menyarankan untuk tidak mengandalkan pestisida saja.

Pengendalian hama secara terpadu dinilai menjadi cara yang cukup ampuh untuk menekan biaya produksi yang selama ini menjadi kendala bagi beberapa petani bawang merah. Menurut Adi, pengendalian hama tidak harus dilakukan saat terjadi serangan saja. Namun perlakuan selama budidaya juga sangat penting dalam menurunkan intensitas serangan hama.

“Seperti pemberian pupuk organik cair yang bisa memperbaiki kualitas tanah. Kalau tanahnya bagus maka tanaman akan tumbuh sehat. Sehingga lebih tahan terhadap serangan hama,” jelas pria lulusan jurusan hama dan penyakit tumbuhan UGM tersebut.

Adi mengakui, biaya produksi bawang merah mahal. Karena juga dipengaruhi  pembelian bibit yang cukup mahal juga. Hal itu membuat modal tanam yang harus dikeluarkan oleh petani tinggi. Terutama untuk bibit yang berasal dari umbi.

Namun, dia mengaku dispertabun juga tak tinggal diam. “Saat ini kami sedang menjalankan penelitian dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanain (BPTP) Malang,” tambahnya.

Dalam penelitian tersebut telah dikembangkan bibit bawang merah menggunakan biji. Yang diperkirakan bisa jauh lebih murah. Sehingga bisa mengurangi biaya produksi bila dibandingkan menggunakan bibit dari umbi. Penghematannya bisa mencapai 50 persen.

Di lapangan, petugas penyuluh pertanian (PPL) juga getol mensosialisasikan upaya itu. Seperti yang dilakukan Yayuk Anisha. Ia terlihat memberi arahan kepada petani di Desa paron tentang pengetahuan menghitung tingkat serangan hama yang perlu dikendalikan menggunakan pestisida.

Yayuk menyampaikan, sebenarnya di Desa Paron sangat potensial untuk pengembangan bawang merah. Namun beberapa kendala seperti hama penyakit ini yang membuat beberapa petani enggan melakukan budidaya komoditas tersebut.

 “Kami berupaya melakukan pendampingan pada petani khususnya bawang merah, seperti cara budidaya dan pengendalian hama penyakit yang selama ini menjadi momok bagi petani,” pungkasnya.

Mokhamad Saumal Abidin, salah seorang petani bawang merah di Desa Paron.  mengapresiasi imbauan pemkab tersebut. Menurutnya, para petani akan berusaha menerapkannya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia