Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features
Tradisi Angon Putu

Naik Kereta Kuda, Diarak Keliling Kampung

Tradisi Leluhur yang Mulai Dilupakan

24 Juli 2018, 19: 44: 15 WIB | editor : Adi Nugroho

BAHAGIA: Poni dan Sakijo menyapa ribuan warga yang menyemut di sepanjang rute angon putu dari rumahnya menuju balai Desa Petak, Kecamatan Bagor, kemarin pagi. Tradisi yang nyaris punah itu digelar sebagai wujud ungkapan rasa syukur.

BAHAGIA: Poni dan Sakijo menyapa ribuan warga yang menyemut di sepanjang rute angon putu dari rumahnya menuju balai Desa Petak, Kecamatan Bagor, kemarin pagi. Tradisi yang nyaris punah itu digelar sebagai wujud ungkapan rasa syukur. (ANWAR BAHAR BASALAMAH - JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

Adalah Sakijo, 86, dan Poni, 74, pasangan suami istri asal Desa Petak, Kecamatan Bagor, yang menggelar tradisi Angon Putu, kemarin. Sesuai namanya, kakek dan nenek itu mengarak puluhan cucu dan cicitnya keliling kampung sebagai wujud rasa syukur.

Tradisi angon putu digelar sekitar pukul 08.00 kemarin. Diawali ritual sungkeman, Sakijo dan Poni duduk di kursi besar. Selanjutnya, sembilan anak dan menantunya bergiliran sungkem sembari bersalaman. Kemudian, disusul puluhan cucu dan cicitnya.

Selesai sungkeman, giliran Sakijo yang memberi amplop ber isi uang kepada cucu dan cicit nya. Beberapa saat ke mudian, keluarga yang kompak me makai baju adat Jawa itu me ngikuti kirab keliling kampung.

Bak ratu dan raja, Sakijo menaiki kereta kencana. Di depannya, puluhan anak, cucu dan cicit berjalan kaki beriringan. Selain keluarga inti, para kerabat juga ikut memeriahkan arak-arakan.

Kerabat Sakijo yang juga memakai baju adat Jawa, menggendong rinjing menggunakan selendang. Di barisan paling belakang, satu grup kesenian reog Ponorogo menghibur ribuan warga yang menyemut di tepi jalan.

Menempuh jarak sekitar satu kilometer menuju balai desa, arakarakan ini disambut antusias warga. Tak sedikit tetangga yang mengapresiasi tradisi Angon Putu itu. “Mbah kok tambah ayu gawe wedak (Nek, kamu semakin cantik setelah memakai bedak),” kata salah satu warga sambil memegangi pipi Poni.

Sesampainya di balai desa, Sakijo dan rombongannya mem berikan sambutan di panggung khusus. Tradisi angon putu pun berakhir setelah Sakijo berpidato di depan sejumlah undangan. Kepada Jawa Pos Radar Nganjuk, Sakijo mengaku sengaja menggelar tradisi angon putu untuk melestarikan budaya leluhur itu. Pria tua itu mengaku prihatin karena tradisi adiluhung itu kini mulai dilupakan. “Sekarang (angon putu, Red) sudah mulai hilang,” sesalnya.

Karena itu pula, Sakijo dan Poni yang sudah memenuhi syarat untuk menggelar angon putu, langsung menyelenggara kannya. Sesuai aturan, tidak se mua pasangan suami istri (pa sutri) bisa menggelar tradisi ini.

Setidaknya, pasutri harus memiliki minimal 25 cucu untuk bisa melakukan angon putu. Sakijo yang sudah memiliki 21 cucu dari sembilan anaknya pun dianggap sudah memenuhi syarat. Sebab, dia juga memiliki cicit yang jika dijumlah lebih dari 25 orang. “Tradisi ini sebagai wujud syukur sudah diberi cucu dan cicit yang sehat,” lanjutnya.

Dengan ritual itu, Sakijo ber harap, anak dan cucunya semakin sukses di masa depan. Se lain itu, Tuhan akan mengangkat derajat mereka di dunia dan akhirat. “Anak-anak tambah sukses. Cucu-cucu selalu diberikan kesehatan,” tandasnya.

Poni menambahkan, tradisi angon putu baru pertama kali digelar di keluarganya. Tradisi leluhur itu seolah melengkapi kebahagiaan rumah tangga yang sudah dibinanya selama puluhan tahun itu. “Bersyukur marang Gusti Allah,” katanya sambil tersenyum.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia