Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Show Case

Ramadan Istimewa Bareng Rameyza (7)

Berbuka dengan Kurma Sedekah

08 Juni 2018, 14: 38: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

kakbah - radar kediri

IBADAH: Jamaah berdoa di dekat Kakbah. (HERI MUDA SETIAWAN - JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

Setelah lima hari di Madinah, jamaah umrah Rameyza mulai berada di Makkah. Selama 10 hari di Makkah dengan harapan mendapatkan Lailatur Qadar, malam seribu bulan.

Suasana Makkah di 10 hari Ramadan bak melihat musim haji. Penuh sesak oleh kaum muslimin. Suasana ini akan semakin padat menjelang akhir Ramadan nanti.

“Bisa jadi lebih ramai lagi. Melebihi musim haji,” ucap Mubarok Ainul Yaqin, pembimbing jamaah umrah Rameyza.

Dalam 10 hari terakhir Ramadan, umat muslim akan berbondong-bondong menuju Makkah. Baik yang dari Arab Saudi atau muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka berusaha untuk beriktikaf di 10 hari terakhir Ramadan itu.

Banyaknya jamaah yang menuju Makkah juga terlihat dari pergerakan bus pengangkut yang menuju kota ini. Termasuk bus yang membawa jamaah umrah Rameyza. Kebetulan rombongan berangkat pukul 07.15 waktu setempat. Dengan miqat di Masjid Bir Ali.

Cuaca cerah membuat jamaah bisa melihat pemandangan di sepanjang jalur Madinah-Makkah. Didominasi gurun pasir dan bebatuan. Lama perjalanan sekitar 5 jam. Setiba di Makkah sangat terasa  suhu lebih panas dibanding Madinah.

Mendekati kawasan Masjidil Haram, jalanan mulai macet. Trotoar penuh dengan umat muslim dari berbagai belahan dunia. Semuanya menuju arah Masjid. Kebetulan, saat itu sudah masuk waktu dhuhur.

Jamaah umrah Rameyza menginap di hotel Lulu Al Shark. Hanya 800 meter dari Masjidil Haram. Area luar masjid sudah terlihat dari depan hotel. Menurut Mubarok, pada 10 hari terakhir Ramadan, hotel sekeliling Masjidil Haram sudah full booked. Penuh. Paket sewanya bukan lagi harian. Melainkan langsung paket 10 hari. Ini juga berkaitan dengan animo umat muslim yang melakukan iktikaf di 10 hari terakhir Ramadan. "Harga hotelnya berlipat-lipat," jelas ustad yang juga sedang menempuh kuliah di Arab Saudi ini.

Setelah selesai mengurusi penginapan, rombongan bersiap melaksanakan umrah pertama. Niat umrah sudah dilafalkan sewaktu di dalam bus.

Ketika waktu Asar tiba, rombongan bergegas ke Masjidil Haram. Begitu keluar hotel, di sepanjang jalan sudah banyak jamaah yang bersiap salat. Beralaskan sajadah ataupun karpet mereka menunggu iqamah. Luar biasa. Padahal jaraknya masih 800 meter dari Masjidil Haram. Pemandangan itu terus terlihat di sepanjang perjalanan kami menuju masjid. Semakin dekat, semakin padat. Begitu sampai di pelataran masjid, yang terlihat adalah lautan manusia. "Saat Ramadan, kalau sudah (terdengar) azan baru berangkat ke masjid, akan susah cari tempat salat di dalam (masjid)," jelas Mubarok.

Di area tawaf, kepadatan juga luar biasa. Meskipun terik matahari menyengat, semangat jamaah ber-tawaf tak surut. “Dinikmati saja rangkaian umrahnya, insya Allah mendapat barakah umrah di Ramadan,” ucap Mubarok memotivasi.

Usai tawaf dan berdoa, rombongan ganti menuju tempat sai. Di antara bukit Sofa dan Marwa kepadatan manusia juga tak kalah hebat. Namun, perjuangan tak seberat ketika tawaf. Karena tempatnya tertutup.

Prosesi sai selesai sekitar pukul 18.40. Menjelang magrib. Praktis, jamaah bersiap untuk berbuka. Mencari tempat di pojok dekat bukit Marwa. Saat azan terdengar, jamaah pun berbuka ala kadarnya. Menunya, kurma dari orang yang bersedekah. Dan, tentu saja, zamzam.

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia