Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Kolom

Mawas Diri

05 Juni 2018, 13: 37: 04 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh: Suko Susilo

Oleh: Suko Susilo

Share this          

Saat sekularisme, kapitalisme, dan hedonisme menemukan titik kesempurnaannya, sejumlah pemuka masyarakat justru mengalami degradasi peran yang memilukan.

 

Suko Susilo

 

Tidak ada seorangpun yang dilarang menjadi kaya. Apalagi sebaliknya. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana orang tersebut meraih kekayaannya. Adakalanya, kecuali jalan normatif sering terlihat perihal halal haram padam terpendam dari pertimbangan akal demi menjadi kaya. Perbuatan tampak asli tetapi palsu dan menipu demi meraup untung. Bisa kaya, tetapi jalan yang dilaluinya sering mengingkari norma, bahkan agama.

Mendirikan sekolah atau madrasah berkedok ingin mencerdaskan bangsa. Tapi yang dilakukan sebenarnya cuma bisnis dan berburu laba. Laba dari selisih besar SPP mahal dengan rendah bayar pengajar. Bahkan, mungkin dianggap laba juga jika ada dermawan dadakan datang menyumbang. Atau, laba dari hasil tipu daya bikin proposal menghiba-hiba agar bantuan mengalir yang katanya demi mencerdaskan bangsa. Tak soal apakah sumbangan itu betul tercatat dipembukuan lembaga atau menumpuk di kantong pribadinya.

Saat sekularisme, kapitalisme, dan hedonisme menemukan titik kesempurnaannya sejumlah pemuka masyarakat justru mengalami degradasi peran yang memilukan. Beberapa tanda muncul lewat tampilan kebendaan kehidupan personalnya.

Politisi yang memelas dan merengek minta dukungan rakyat saat kampanye, di saat lain datang pasang muka memikat naik mobil mengkilat. Da’i datang pengajian dengan sopir yang super hati-hati menjalankan mobil keluaran mutakhir memecah kerumunan jamaah.

Tak soal cuma bisa bicara Alquran dan Hadis secara dangkal, yang penting bisa membuat hadirin terpingkal-pingkal. Jamaah senang tertawa-tawa ditambah kekaguman tampilan materialistiknya saat datang pengajian. Akhirnya, sebagian masyarakatpun memberi tambahan kriteria pilihan kompetensi lawak sebagai pertimbangan mengundang dai pengajian.

Dai yang pintar melawak, dan yang mumpuni mengurai berbagai detail Alquran dan Hadis, menjadi bahan debat seru panitia pengajian. Debat baru usai saat malam menjangkau pagi. Sudah begitu, belakangan pemerintah menambah pilihan melalui langkah pecah belah dai dan umat lewat daftar 200 ustadz.

Ada dai yang lantang bicara menyerang yang tak sehaluan. Ada juga dai yang berbagai uraiannya teduh didengar dan menentramkan hati. Kini ada lagi dai kategori 200 nama versi Kemenag dan yang bukan. Semua itu akhirnya menjadi bahan silang pendapat panitia pengajian di kampung-kampung,

Mengundang dai yang tidak termasuk 200 nama versi Kemenag dianggap kurang gengsi. Mengundang dai versi Kemenag terhadang bayang-bayang biaya yang menjulang. Mungkin saja, dari pada pusing mikir dana akhirnya pengajian urung dilaksanakan. Uang sumbangan yang terlanjur terkumpul digunakan saja untuk perbaikan toilet musala agar baunya tak menembus hidung di kejauhan. Mungkin lho…

Menghindari kecenderungan semakin sempurnanya kita larut dalam arus global kapitalisme dan hedonisme maka ajakan mawas diri di bulan Ramadan ini menjadi perlu dan penting. Jika sulit mawas diri, ada baiknya kita bercermin saja pada kehidupan kiai tempo doeloe atau yang dibahasakan oleh generasi milenial sebagai kiai zaman old. Tentu saya tidak berhasrat menafikan kiai zaman now jika menyodorkan cermin kiai zaman old.

Bercermin pada  kiai zaman old yang sosoknya sangat menawan, pribadinya yang santun, sangat mumpuni pengetahuan agamanya, mungkin tepat menjadi pilihan tindakan kita. Sikap kebersahajaannya yang populis, berbagai fatwanya yang menyejukkan hati, sikap sosialnya yang begitu responsif-apresiatif, juga merupakan keteladanan yang sangat perlu ditiru.

Tidak sombong, tetap hormat pada yang lebih tua dan jauh dari kemewahan duniawi serta jujur. Ikhlas datang pengajian dibonceng motor butut yang baru meraung mesinnya setelah digenjot 67 kali oleh santrinya. Sejumlah contoh perilaku kiai zaman old itu menjadi bagian kekaguman masyarakat sekaligus bagian kharisma kekiaiannya. Saya hampir yakin bahwa kiai tempo doeloe paling anti menukar performance kharismatik kekiaiannya dengan keyakinan baru berupa kekayaan duniawi.

Indonesia ini perlu keteladanan tabiat yang bermartabat sebagaimana tabiat kiai zaman old. Bukan tabiat obral kemewahan kebendaan produk hedonisme. Bukan juga tabiat suka menampilkan kekayaan yang mungkin saja jalan pencapaiannya memancing kecurigaan.

Kita percaya, setiap orang punya nasibnya sendiri-sendiri. Pada yang kaya kita tak perlu iri. Rezeki, umur, jodoh, dan tempat kematian itu hingga hari ini tetap menjadi misteri tak terpecahkan. Tetapi, yang harus kita percaya adalah bahwa kesombongan atas kekayaan duniawi itu sangat dilarang.

Semoga ke depan itu semua bisa dikurangi. Tak perlu muluk-muluk, berkuranglah sedikit saja. Agar Indonesia tetap tanah airku, bukan Indonesia tanah air mataku. (*)

(rk/*/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia