Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Features

Saat Anak Muda Isi Waktu Ngabuburit

04 Juni 2018, 12: 40: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

ngabuburit - radar kediri

PEDULI: Aksi puluhan pemuda dari Laskar DC Desa Jagung, Pagu berbagi takjil di Perempatan Gayam. (RAMADANI WAHYU - JawaPos.com/RadarKediri)

Bagi anak muda, banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu menjelang berbuka. Ngabuburit- itu istilahnya. Mulai cangkrukan di jembatan baru hingga berbagi rezeki dengan berbagi takjil.

Angin sepoi-sepoi agaknya selalu membuat siapa saja terbuai. Terutama di sore hari sembari menikmati aliran Sungai Brantas. Tepat hingga menunggu temaram adzan magrib. Ya, inilah tempat yang pas untuk ngabuburit alias menunggu berbuka.

Tak heran, momen pasca diresmikannya Jembatan Wijayakusuma pada Selasa (29/5), kini jembatan yang menghubungkan Kecamatan Mojo dengan Ngadiluwih semakin ramai. Pun ketika sore hari banyak pemuda pemudi menghabiskan waktu menunggu berbuka atau ngabuburit (3/5).

ngabuburit - radar kediri

SANTAI DULU: Pemuda sekitar jembatan menikmati semilir angin di sepanjang Jembatan Wijayakusuma. (RAMADANI WAHYU - JawaPos.com/RadarKediri)

Sania, 18 misalnya, perempuan dari Desa Patok, Kecamatan Mojo ini seringkali ngabuburit di jembatan ini. Selain karena hawa sejuk, gadis ini juga suka berselfie di jembatan baru ini.

"Mumpung jembatannya baru diresmikan, suka saja foto di sini," terangnya.

Sania tak sendiri, ia bersama kawan-kawannya duduk sambil selfie. Selain itu dirinya bersama kawannya itu hanya ngobrol. Menikmati senja sambil ngabuburit.

“Baru kalau menjelang petang saya pulang mbak, di rumah udah tinggal buka saja,” tuturnya.

Lebih jauh gadis yang saat ini duduk di bangku SMA ini mengatakan bahwa ketika sore hari justru lemas-lemasnya orang berpuasa. Pada saat momen inilah ia beranjak bersama kawan-kawannya untuk ngabuburit. Dan di Jembatan Wijayakusuma inilah tempat barunya.

Senada dengan Sania, Agus Mustofa, 18 pemuda asal Ngadiluwih juga merasakan hal yang sama. Dikatakan Agus bahwa aspal yang masih halus membuatnya seringkali berkunjung di jembatan yang baru diresmikan tiga mentri itu. “Enak aja kalau aspalnya masih alus gini,” papar Agus.

Termasuk dengan adanya jembatan ini ia sering kali duduk-duduk atau nongkrong hingga malam hari. "Sering sih nongkrong di sini hingga malam," ungkapnya.

Selain banyak pemuda yang nongkrong menunggu waktu berbuka alias ngabuburit, pembangunan jembatan ini juga dirasakan dampak positifnya dalam bidang ekonomi. Ada beberapa penjual jajanan di sini. Ada cilok, sempol, hingga es.

Salah satunya yaitu penjual cilok, Sunarji. Lelaki asli Kras ini mengungkapkan selain menjajakan ciloknya di luar juga mampir di jembatan ini. Karena banyak pengunjung jugalah ia memutuskan untuk berjualan di situ. "Kalau sore gini ramai mbak," tuturnya.

Berbeda dengan anak muda di sekitaran Jembatan Wijayakusuma. Anak muda asal Dusun Cangkring, Desa Jagung, Kecamatan Pagu memilih cara positif untuk ngabuburit.

Seperti terlihat kemarin (3/6), sekitar 30 pemuda yang tergabung dalam Laskar Dusun Cangkring atau biasa disebut Laskar DC membagikan takjil ke pengendara motor.

Lokasi yang dipilih adalah perempatan Desa Gayam, Kecamatan Gurah. Dimulai pukul 16.30, mereka terlihat bersemangat membagikan paket takjil yang terdiri kolak dan donat itu. “Total ada 250 paket yang dibagikan,” terang Yuhan Putranto, koordinator Laskar DC.

Seluruh paket tersebut berasal dari iuran anggota komunitas yang biasanya mengisi kegiatannya dengan olahraga futsal ini. “Semuanya dari iuran, memang sudah menjadi kegiatan rutin tahunan,” pungkas Yuhan.

(rk/fiz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia