Selasa, 18 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Menelisik Sejarah Islam di Sepanjang Sungai Brantas (8)

70 Persen Santri dari Ngronggot dan Prambon

28 Mei 2018, 06: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

TRADISIONAL: Santri Ponpes Tegalrejo mengaji kitab kuning. Metode pembelajaran di sana masih bersifat tradisional.

TRADISIONAL: Santri Ponpes Tegalrejo mengaji kitab kuning. Metode pembelajaran di sana masih bersifat tradisional. (Anwar Bahar Basalamah - JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

Keberadaan Pondok Pesantren (Ponpes) Tegalrejo menjadi magnet bagi warga di sekitar Sungai Brantas. Mereka beramai-ramai mondok di sana. Karenanya, sebagian alumni ponpes yang didirikan Kiai Imam Al Ghozali itu banyak menjadi tokoh masyarakat di daerah asalnya.

Pendirian Ponpes Annur Al Ghozali atau Tegalrejo disambut gembira warga di sekitar Sungai Brantas. Sekitar 1960-an, warga harus ke Lirboyo, Kediri untuk bisa menimba ilmu agama. Sebagian yang lain mondok di Gedongsari, Kecamatan Prambon.

Karena itu, setelah Ponpes Tegalrejo berdiri pada 1967, warga di sepanjang sungai terbesar di Jawa Timur itu, tidak perlu jauh-jauh ke Kediri. Menurut Pengasuh Ponpes Annur Al Ghozali Kiai Zaenal Arifin Ghozali, sebagian besar santri berasal dari Prambon, Ngronggot dan Tanjunganom. “Tiga wilayah itu yang paling banyak,” kata Arifin.

Dari Kecamatan Prambon, mayoritas santri berasal dari Desa Tanjungtani, Watudangdang, Sanggrahan dan Grompol. Sementara dari Ngronggrot, kebanyakan berasal dari Desa Juwet, Banjarsari, Cengkok dan Tanjungkalang. Selebihnya dari Tanjunganom.

Banyak pula santri dari luar daerah. Mulai Brebes, Jawa Tengah; Jawa Barat; Lampung, Sumatera dan Kalimantan. Mereka rata-rata berusia antara 10-19 tahun. “Baik putra mupun putri,” terang anak kesembilan dari Kiai Imam Al Ghozali ini.

Di era 1990-an, lanjut Arifin, Tegalrejo dikenal sebagai ponpes untuk menggembleng calon hafiz (penghafal alquran). Makanya, para orangtua di sana tertarik untuk memondokkan putra-putrinya di Tegalrejo.

Dari tahun ke tahun, jumlah santri di Tegalrejo semakin banyak. Puncaknya, pada 1990, jumlah santrinya mencapai 1.200 orang. Itu merupakan jumlah santri terbanyak sepanjang sejarah Ponpes Tegalrejo.

Seiring dengan perkembangan pesantren, warga di sepanjang Sungai Brantas juga merasakan dampak positifnya. Sebagian besar lulusannya, saat ini menjadi tokoh masyarakat di desanya masing-masing. Mulai dari perangkat, ulama dan guru ngaji. “Sebagian juga ada yang mendirikan pondok,” kata Arifin. (bersambung)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia