Selasa, 18 Feb 2020
radarkediri
icon-featured
Features

Menelisik Sejarah Islam di Sepanjang Sungai Brantas (7)

Dari Tegalan Jadi Pusat Pendidikan Islam

27 Mei 2018, 13: 22: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

KIRIM DOA: Kiai Zaenal Arifin Ghozali mengajak anaknya berdoa di makam Kiai Imam Al Ghozali yang tak lain adalah ayahnya.

KIRIM DOA: Kiai Zaenal Arifin Ghozali mengajak anaknya berdoa di makam Kiai Imam Al Ghozali yang tak lain adalah ayahnya. (Anwar Bahar Basalamah - JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

Islam semakin berkembang pesat di sepanjang Sungai Brantas pada tahun 1900-an. Hal itu ditandai dengan berdirinya sejumlah pondok pesantren (ponpes) di wilayah Prambon. Salah satunya adalah Ponpes Annur Al Ghozali atau yang familier dengan pondok Tegalrejo.

Adalah Kiai Imam Al Ghozali pendiri ponpes Tegalrejo di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon. Sebelum merintis pendirian pondok pada 1967, Kiai Ghozali sempat menimba ilmu agama di Ponpes Lirboyo Kediri. Pria asal Desa Watudandang, Kecamatan Prambon itu selesai nyantri pada 1957.

Selepas dari Lirboyo, Kiai Ghozali memperdalam ilmu agamnya di Ponpes Sanggrahan, Kecamatan Prambon. Di pondok itu, dia banyak belajar tentang pendalam Alquran dan tafsir. Apalagi, Kiai Ghozali diajar langsung oleh pendiri ponpes Sanggrahan: Kiai Abdul Muid. “Kiai Ghozali memperdalam ilmu Alquran,” kata Pengasuh Ponpes Tegalrejo Kiai Zaenal Arifin Ghozali.

Melalui sang guru itu, kata Arifin, Kiai Ghozali semakin mahir dengan ilmu Salaf. Padahal, saat itu usianya baru menapak 30 tahun. Karena kepandaiannya itu, Kiai Muid semakin terkesima dengan Kiai Ghozali. Dari sana, Kiai Ghozali akhirnya menjadi menantu Kiai Muid. “Kiai Ghozali mempersunting anak Kiai Muid,” kata anak kesembilan dari Kiai Ghozali ini.

Sayangnya, Kiai Ghozali tidak bertahan lama di Sanggrahan. Menurut Arifin, konflik keluarga membuat Kiai Ghozali ingin mendirikan pondok sendiri. Apalagi, bekal ilmunya dianggap sudah mampu untuk meneruskan pendidikan pesantren.

Setelah 10 tahun berada di Sanggrahan, Kiai Ghozali memutuskan keluar dari ponpes. Dia mencari lahan yang bisa dijadikan sebagai tempat belajar agama. Akhirnya, dibantu 10 muridnya, Kiai Ghozali menemukan lahan kosong yang tidak jauh dari ponpes Sanggrahan. Jaraknya hanya sekitar 600 meter ke arah timur.

Waktu itu, lahan tersebut masih berupa tegalan (kebun) ketela dan semak belukar. Sementara tempat tinggal warga rata-rata jauh dari lokasi tersebut. “Di sini belum ada apa-apa. Cuma tegalan,” terang bapak dua anak itu.

Setelah itu, Kiai Ghozali mendirikan sebuah surau kecil. Di tempat itulah, dia mulai mengajar murid-muridnya untuk mendalami Alquran. Di ponpes baru itu, Kiai Ghozali fokus pada ilmu Alquran. Mulai dari hafalan dan tafsir. “Lebih mendalami Alquran,” katanya.

Pendirian pondok baru di sebuah kebun ketela itu mulai terdengar oleh warga di sekitar Sungai Brantas. Mereka tertarik untuk belajar Alquran kepada Kiai Ghozali.

Seiring berjalannya waktu, jumlah santri Kiai Ghozali terus bertambah. Mereka tidak hanya datang dari sekitar Sungai Brantas, tetapi juga dari luar daerah seperti Jawa Tengah, Kalimatan, dan Jawa Barat. “Santri semakin banyak,” imbuhnya.

Keberadaan ponpes itu membuat lingkungan sekitar pondok menjadi ramai. Karenanya, warga kala itu menamakan Tegalrejo. Dari hanya sebuah tegalan menjadi pusat pendidikan Islam yang ramai. “Sekarang ada 25 KK (kepala keluarga) di sini (Tegalrejo),” urai Arifin. (bersambung)

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia