Selasa, 18 Feb 2020
radarkediri
icon-featured
Features

Menelisik Sejarah Islam di Sepanjang Sungai Brantas (6)

Wariskan Masjid Jami untuk Warga Prambon

27 Mei 2018, 12: 10: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

PENINGGALAN KIAI HASAN: Masjid Jami Asy-Syafi’iyah yang merupakan peninggalan Kiai Hasan Mi’raj masih digunakan oleh warga Prambon hingga sekarang.

PENINGGALAN KIAI HASAN: Masjid Jami Asy-Syafi’iyah yang merupakan peninggalan Kiai Hasan Mi’raj masih digunakan oleh warga Prambon hingga sekarang. (REKIAN - JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

Sepeninggalan Kiai Hasan Mi’raj, banyak yang dia wariskan untuk warga Prambon. Selain Ponpes Bahrul Hasan Tankila dan ilmu bela diri yang diteruskan oleh dua perguruan silat, Kiai Hasan juga mewariskan Masjid Jami Asy-Syafi’iyah untuk warga Prambon.

Ilmu bela diri yang berkembang pesat di Ponpes Tankila masih lestari hingga sekarang. Di antaranya, dengan berdirinya dua perguruan silat. Yaitu, Pakerti Kendali Sodo dan Wesi Kuning. “Dua pencak silat itu, ilmu kanuragannya dari Kiai Hasan,” kata Kiai Ali Mustofa Said, pengasuh Ponpes Tankila.

Karena keberadaan dua perguruan silat itu pula, hingga saat ini pesantren masih sering menggelar pencak dor. Demikian juga di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon. Tradisi lama itu masih terus berlangsung.

Jika ilmu bela diri di Ponpes Tankila masih terus berkembang, tidak demikian dengan pembelajaran di pesantren yang didirikan ratusan tahun silam itu. Pesantren yang murni mengajarkan ilmu salaf itu, santrinya terus menyusut.

Hingga saat ini, Ponpes Tankila belum membuka sekolah modern seperti yang dilakukan sejumlah pesantren lain di Nganjuk. Hal itu pula, diakui Kiai Ali, membuat Ponpes Tankila mulai ditinggalkan para santri.  “Perubahan yang cepat membuat santri lebih memilih ponpes yang ada kurikulumnya,” lanjut pria yang juga menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Nganjuk itu.

Di luar ilmu salaf yang diajarkan sejak ratusan tahun silam, menurut Kiai Ali, Ponpes Tankila hanya memiliki madrasah diniyah. Selebihnya, diserahkan ke pesantren lain yang ada di Prambon.

Meski santri  Ponpes Tankila terus menyusut, Kiai Ali bersyukur ada tiga pesantren lain yang kini berkembang pesat. Yaitu, Ponpes Fathul Mubtadi’in Al Manar; Ponpes Hidayatul Mubtadi’in Sanggrahan dan Ponpes Annur Al Ghozali Tegalrejo. “Tiga pesantren itu buah dari Kiai Hasan Mi’raj dalam berdakwah,” terangnya.  

Berbeda dengan Ponpes Tankila, tiga pesantren itu mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Selain mengajarkan ilmu salaf, mereka juga membuka pendidikan modern. Misalnya, Ponpes Fathul Mubtadi’in Al Manar yang memiliki Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Al-Manar.

Tidak hanya ilmu bela diri dan perkembangan pesantren, salah satu peninggalan Kiai Hasan Mi’raj yang masih dimanfaatkan masyarakat luas hingga sekarang adalah Masjid Jami Asy-Syafi’iyah di Kauman, Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon. “Dulu Kiai Hasan Mi’raj kalau mau salat Jumat selalu jalan kaki ke Warujayeng,” kata Kiai Ali tentang alasan Kiai Hasan mendirikan masjid besar di Prambon itu. (bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia