Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal

Dijerat dengan Pasal Pembunuhan Berencana

Psikolog: Pelaku Mungkin Merasa Terancam

24 Mei 2018, 14: 58: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

Dijerat dengan Pasal Pembunuhan Berencana

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Tersangka Nur Kholik harus siap menghadapi tuntutan berat akibat perbuatannya.. Bila dia terbukti bersalah saat sidang di pengadilan nanti, ancaman hukuman yang menanti juga berat. Sebab, polisi menjerat tersangka pelaku pembunuhan Sunarti, 39, itu dengan dakwaan pembunuhan berencana.

Bila dakwaan yang dijeratkan adalah pembunuhan berencana, maka pasal yang digunakan adalah 340 KUHP. Ancaman hukuman maksimalnya adalah hukuman mati.

“Pelaku memang kami jerat dengan pasal 340 (KUHP),” jelas Kapolres Kediri AKBP Eric Hermawan.

Bila dijerat dalam pasal itu, ada tiga hukuman yang menanti Nur Kholik. Selain ancaman pidana mati, juga ada ancaman hukuman seumur hidup. Atau, juga dengan ancaman pidana dalam waktu tertentu dengan durasi paling lama 20 tahun.

Tak hanya itu, polisi juga akan melapisi jerat hukum terhadap lelaki asal Desa Tertek, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri itu dengan pasal lain. Yaitu dengan pasal 338. Hanya, di pasal ini ancaman hukumannya memang lebih ringan. Bila terbukti, pelaku diancam hukuman maksimal 15 tahun.

Sementara itu, psikolog Vivi Rosdiana mengatakan, kasus perselingkuhan tak selalu berakhir dengan pembunuhan. Sebab, hubungan antara selingkuh dengan pembunuhan bukan sebab dan akibat. Tidak bisa disangkut-pautkan. “Bisa saja pelaku membunuh korban karena spontanitas,” terang Vivi.

Menurutnya, tidak semua orang yang berselingkuh berlanjut dengan membunuh. Bisa saja pelaku saat itu tidak bisa mengendalikan asmaranya. Atau pelaku membunuh karena merasa mendapat bisikan tertentu agar melakukan pembunuhan.

“Untuk memastikan apakah pelaku memiliki kelainan atau tidak perlu melakukan tes psikologi,” ujar Vivi.

Vivi kemudian mengatakan, bisa saja saat itu pelaku memiliki persepsi merasa terancam. Yaitu saat korban mengancam akan memelet anak pelaku. Karena merasa terancam, respon pelaku adalah langsung mencekik korban.

Terkait fenomena perselingkuhan saat ini, Vivi mengatakan memang menjadi hal yang sering terjadi. Kasus seperti itu jamak ditangani oleh biro konsultasi atau konseling. Menurutnya, salah satu faktor pemicu perselingkuhan semakin marak adalah terkait perkembangan media komunikasi yang pesat. Serta akses yang mudah bagi semua orang.

Seseorang yang melakukan perselingkuhan bisa karena berberapa faktor.  Salah satunya adalah kejenuhan dalam hubungan. Ketika titik jenuh itu muncul dan seseorang tak bisa mengantisipasinya, maka dia akan lari ke hal-hal baru. Salah satunya dengan hubungan perselingkuhan ini.

“Sebenarnya (perselingkuhan) itu kembali ke setiap individu. Tapi, jika dari aspek psikologis, seperti halnya barang baru, semua orang pasti mau atau ingin mencobaa,” urai Vivi.

Menurutnya, penyebab orang berselingkuh itu bukan karena faktor gen. Artinya, orang tua yang berselingkuh bukan berarti anaknya akan berselingkuh. Tapi, lebih karena pelaku memang tipe tidak setia. Pengobral janji.

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia