Jumat, 17 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Ki Harjito, Dalang Wayang Krucil yang Masih Bertahan di Kediri

Wajib Hati-Hati saat Gunakan Teknik Sabetan

24 Mei 2018, 14: 16: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

ki harjito - radar kediri

PIAWAI: Ki Harjito dengan wayangnya. (HABIBAH ANISA – JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

Wayang krucil dikenal sebagai wayang yang kental dengan kisah Panji. Namun, hanya sedikit dalang di Kediri yang memainkan wayang dari kayu ini. Apalagi dengan pakem yang yang benar. Harjito mungkin jadi satu-satunya.

 

 

HABIBAH ANISA MUKTIARA

          Kediaman Ki Harjito di Desa Senden, Kecamatan Kayen Kidul itu mudah dikenali. Khas Jawa. Halaman luas lengkap dengan pendapanya. Rumah utama berada di sisi barat, pendapa tepat berada di sampingnya.

Sehari-hari pemilik nama lengkap Harjito Mudho Darsono ini tinggal di rumah utama. Sementara pendapa diisi dengan perlengkapan gamelan miliknya. “Di sini (teras pendapa) biasanya buat latihan tentang wayang krucil,” tutur pria yang juga menyandang gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) ini.

Bagi suami dari Iin Vantilah ini, wayang krucil sudah menjadi bagian hidupnya. Bahkan, bisa disebut, dirinya menjadi pewaris terakhir wayang krucil di Kediri. Eyangnya Ki Siram Atmosastro juga dalang wayang krucil. Begitu juga dengan sang ayah, Soetjipto Moer.

Jadi, bisa dibilang Ki Harjito adalah generasi ketiga dalang wayang krucil. Karena darah seni yang amat kental inilah yang membuat Harjito sangat mengenal wayang yang terbuat dari kayu mentaos ini. Bahkan, sejak usia masih tiga tahun.

Harjito kecil awalnya hanya mengamati ayahnya saat memainkan wayang. Terus lama kelamaan menirukan gerakan dan menghafal lakon. Saat masih duduk di kelas tiga sekolah dasar (SD), Harjito kecil sudah mengikuti ayahnya pentas. “Bayangkan mbak waktu itu, wayang dan saya saingan besarnya,” ucap pria ramah ini seraya tertawa. Tertidur di atas wayang pun sudah sering terjadi. Kalau sudah begitu, ayahnya hanya bisa maklum.

Tak mudah bagi Harjito cilik memainkan wayang krucil. Berbeda dengan wayang kulit, wayang krucil memang lebih berat. Bahannya dari kayu. Karena itu, dia harus hati-hati saat memainkan. Khususnya saat menerapkan teknik sabetan. “Kayu tidak selentur kulit, jadi harus hati-hati agar tetap terlihat bagus,” terang pria 46 tahun ini. Padahal, teknik inilah yang membuat wayang krucil disukai pecintanya.
Berbeda dengan wayang kulit, wayang krucil menceritakan latar belakang sejarah dan legenda kerajaan hingga cerita rakyat. Paling banyak adalah kisah tentang legenda Panji yang saat ini sudah dianggap warisan budaya Kediri.

Kisah yang mungkin masih tidak sepopuler cerita wayang kulit ini membuat wayang Krucil pernah minim peminat. Saat kecil, Harjito pun sempat beralih menjadi dalang wayang kulit. Namun anehnya, setiap kali usai pentas wayang kulit, dia selalu jatuh sakit. “Percaya ndak percaya. Tapi, mungkin karena harus sehari semalam,” ucapnya.

Saat di erah 1980-an, wayang krucil sendiri menjadi simbol penolakan. Pada era waktu itu, wayang krucil ini memiliki dua pakem baku, yaitu Panji dan Majapahit. “Panji sama Majapahit itu baku, setelah majapahit runtuh. Ini ada penambahan lakon. Untuk mengembangkan wayang krucil tadi,” jelas Ki Harjito.
Saat memainkan wayang Krucil pun sangat tergantung kemampuan dalang dan permintaan tuan rumah. “Ada sebuah desa di Nganjuk, diberi lakon Majapahit tidak mau. Minta lakon Arab,” tuturnya.

Sayangnya, sulit mencari penerus dalang krucil. Sampai saat ini, sedikit yang benar-benar mau belajar dalang wayang krucil. Padahal, seperti dalang wayang kulit, sekali manggung Ki Harjito bisa mengantongi uang Rp 6 juta hingga Rp 7 juta.

Sekarang, Ki Harjito berusaha mengenalkan wayang krucil. Beberapa kali dia melatih pelajar atau siswa membuat wayang krucil. Dia sendiri juga membuat wayang dari kayu mentaos ini. Tak hanya untuk pentas, tetapi juga untuk suvenir. Buatan Harjito sudah dikenal dengan detail dan keindahnya. “Saya inginnya selalu sempurna. Itu kepuasan sebagai seorang seniman,” tuturnya.

Karena itu, dia hanya membuat wayang ini jika ada pesanan. Harganya pun sesuai dengan ukuran dan kesulitan membuatnya. Mulai Rp 350 ribu hingga jutaan rupiah.

(rk/*/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia