Selasa, 18 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Akhirnya Penuhi Tuntutan Warga

SPPBE Bersedia Relokasi

16 Mei 2018, 16: 23: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

KEMBALI NORMAL: Suasana di area SPPBE PT Sinar Hasil Buana, Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo usai terjadi ledakan tabung elpiji 50 kilogram.

KEMBALI NORMAL: Suasana di area SPPBE PT Sinar Hasil Buana, Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo usai terjadi ledakan tabung elpiji 50 kilogram. (RAMADANI WAHYU - JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Stasiun Pengisian dan Pengiriman Bulk Elpiji (SPPBE) PT Sinar Hasil Buana akhirnya menyanggupi tuntutan warga Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo. Mereka siap untuk melakukan relokasi. Namun, waktunya belum bisa mereka pastikan.

“Iya (mau relokasi),” terang Penasehat Hukum PT Sinar Hasil Buana Bonar Sidabbuke saat dihubungi kemarin (15/5).

Lebih lanjut Bonar menjelaskan bahwa keputusan itu dibuat karena tidak ada pilihan lain. Tuntutan warga Ngebrak adalah harus dilakukan relokasi. Pihak perusahaan pun akhirnya memilih menuruti.

Ditanya apakah sudah berbicara dengan warga Desa Ngebrak, Bonar menjawab sudah dipastikan. Meskipun begitu ia tak ikut. “Pastinya sudah Mbak. Tapi saya hanya monitor saja,” imbuhnya.

Meskipun Bonar telah membenarkan SPPBE akan melakukan relokasi, tapi dia belum bisa memastikan kapan waktunya. Sebab, untuk melakukan relokasi perlu tahapan-tahapan yang tidak gampang. Termasuk di dalamnya adalah izin pada bupati, gubernur, hingga dinas-dinas terkait.

“Masih mau dipelajari terlebih dulu,” kilah Bonar.

Terlepas dari itu semua, Bonar kembali menegaskan bahwa tahapan relokasi tak gampang. Apalagi saat ini pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten, masih diributkan dengan persoalan yang lebih penting. Yaitu masalah pemilihan kepala daerah (pilkada) dan teror bom.

Karena itu, walaupun pihak SPPBE sudah menyanggupi permintaan relokasi, tapi pihaknya tetap membuka pintu dialog. Yaitu bila ada opsi selain relokasi. “Nantinya jika warga ada permintaan opsi lain kami masih terbuka,” ungkap Bonar.

Sementara itu, hal yang berlawanan justru terlontar dari Kepala Dusun (Kasun) Ngebrak Suwandi. Dikonfirmasi perihal adanya relokasi, Suwandi menegaskan belum ada kepastian untuk relokasi dari pihak SPPBE. “Masih belum,” terangnya.

Ketika ditanya apakah ada pertemuan kembali pada Selasa (15/5) lalu, Suwandi bahkan menjawab tak ada pertemuan. Hingga saat ini warga Desa Ngebrak masih menunggu kepastian dari pihak SPPBE untuk relokasi.

Keinginan warga itu buntut dari meledaknya gas elpiji di SPPBE ini pada Senin (16/4) sekitar pukul 14.00 WIB. Bermula dari bocornya gas di tabung elpiji cadangan bervolume 50 kilogram. Tabung itu terletak di dekat tempat penyegelan mesin warp. Pada saat itu salah seorang karyawan yang bernama Hari tengah menyegel plastik tutup tabung dengan mesin warp. Tiba-tiba terdengar bunyi gas bocor dari arah tabung elpiji 50 kg itu. Panik, Hari segera lari. Namun, ledakan keburu terjadi. Api dari ledakan mengenai wajah dan tubuhnya. Kaus yang dikenakan Hari terbakar habis. Dia pun harus dirawat di rumah sakit karena mengalami luka bakar hingga 30 persen. Hingga saat ini karyawan tersebut masih menjalani perawatan di Surabaya.

Selain memakan korban satu karyawan, api juga membakar 30 sepeda motor karyawan yang terpakir di dekat lokasi ledakan. Api baru bisa dipadamkan sekitar pukul 14.30 WIB. Akibat kejadian itu, kerugian material diperkirakan mencapai Rp 300 juta.

Dari kejadian ini warga Desa Ngebrak sempat mengalami trauma dan menuntut SPPBE untuk relokasi. Pasalnya, dalam SPPBE juga ada tabung gas LPG seberat 50 ton. Tabung LPG tersebut jika meledak akan meluluhlantakan warga Desa Ngebrak yang bermukim di sekitar SPPBE. Warga Desa Ngebrak menuntut agar SPPBE PT Sinar Hasil Buana relokasi ke tempat yang jauh dari pemukiman warga. Sebelumnya telah dilakukan beberapa pertemuan dari perusahaan pengisi gas LPG bersama warga Desa Ngebrak.

(rk/*/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia