Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Politik
Kerusakan Jembatan Semakin Parah

Setelah Putus di Sisi Utara, Giliran Pilar Ujung Selatan Roboh

07 April 2018, 18: 29: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

PUTUS DI KEDUA UJUNG: Kondisi alas Jembatan Mrican di sisi selatan, Desa Jongbiru, Kecamatan Gampengrejo akhirnya juga putus pada awal Maret lalu. Pilarnya tak mampu menahan deras arus Sungai Brantas. Saat sisi selatan belum terputus.

PUTUS DI KEDUA UJUNG: Kondisi alas Jembatan Mrican di sisi selatan, Desa Jongbiru, Kecamatan Gampengrejo akhirnya juga putus pada awal Maret lalu. Pilarnya tak mampu menahan deras arus Sungai Brantas. Saat sisi selatan belum terputus. (Habibah - JP Radar Kediri)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN – Sejak putus setahun silam, Jembatan Mrican tak hanya mangkrak lantaran tak diperbaiki. Kerusakan fasilitas infrastruktur penghubung Mrican-Jabon, Kecamatan Banyakan dengan Jongbiru, Kecamatan Gampengrejo itu kian parah.

Awal Maret lalu, alas jembatan sepanjang sekitar 10 meter di sisi selatan, wilayah Jongbiru, ambruk. Akibatnya, kini jembatan yang sejatinya sepanjang 120 meter tersebut, tinggal sekitar 80 meter yang masih tegak berdiri.

Pasalnya, setahun lalu, tepatnya 1 Maret 2017, sisi ujung utara di Desa Jabon, Banyakan ambruk lebih dahulu. Bagian yang putus dan roboh ke Sungai Brantas itu sekitar 30 meter.

PUTUS DI KEDUA UJUNG: Kondisi alas Jembatan Mrican di sisi selatan, Desa Jongbiru, Kecamatan Gampengrejo akhirnya juga putus pada awal Maret lalu. Pilarnya tak mampu menahan deras arus Sungai Brantas.

PUTUS DI KEDUA UJUNG: Kondisi alas Jembatan Mrican di sisi selatan, Desa Jongbiru, Kecamatan Gampengrejo akhirnya juga putus pada awal Maret lalu. Pilarnya tak mampu menahan deras arus Sungai Brantas. (Habibah - JP Radar Kediri)

“(Alas jembatan) yang di Jongbiru itu baru ambruk sekitar sebulanan lalu. Ambruknya malam, ya sekitar pukul 23.30,” kata Sukadji, 62, warga Desa Jongbiru, saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri.

Beruntung, menurutnya, tidak ada yang celaka ketika jembatan di sisi ujung selatan itu roboh. Sebelum roboh, sejumlah warga kebetulan sedang berjaga di sekitar jembatan tersebut. Diduga pilar jembatan yang dibangun pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda, 15 Oktober 1898, tidak kuat menahan derasnya arus Sungai Brantas.

“Sebelumnya kan memang turun hujan deras. Nah arus Kali Brantas mengalir deras, debit airnya besar. Sementara tiang penyangga jembatan ini sudah sangat tua dan rapuh,” papar Sukadji.

Menurut pria yang sehari-hari menjadi pengendali perahu tambang di sungai dekat jembatan itu, warga sudah memperkirakan jembatan di ujung selatan tersebut juga bakal ambruk. Hanya saja, mereka tidak mengira hal itu terjadi sekitar sebulan lalu.  “Waktu itu ya banyak yang tahu, soalnya kan beberapa warga sedang jaga di sana. Waktu mendengar gemuruh jembatan ambrol semua kaget. Tapi ya kami tidak bisa berbuat apa-apa,” urai Sukadji.

Kendati begitu, pengelola perahu tambang ini merasa bersyukur, tidak ada warga yang menjadi korban ketika jembatan yang berada di wilayah desanya itu roboh. Kini, warga sama sekali tidak bisa melintasi jembatan yang dahulu dibangun untuk sarana transportasi angkut tebu pabrik gula di wilayah Mrican, Mojoroto, Kota Kediri tersebut.

“Kalau sebelumnya masih bisa lewat sampai tengah jembatan yang putus, sekarang sudah tidak bisa lagi. Ya karena kedua ujungnya kan sudah putus sama sekali,” kata Sukadji.

Warga setempat pun berharap jembatan ini segera diperbaiki. Atau dibangun kembali. Sehingga bisa dimanfaatkan kembali untuk akses sarana transportasi. Pasalnya, menurut Sukadji, fasilitas infrastruktur itu sangat vital. Menjadi jalur penghubung wilayah Mrican, Kota Kediri dan Jabon, Banyakan di Kabupaten Kediri dengan Jongbiru, Gampengrejo, jembatan ini menjadi jalur alternatif yang sering dilewati banyak warga.

“Mulai dari anak-anak sekolah, karyawan pabrik, pedagang, dan pegawai kantoran banyak yang lewat jembatan sini. Tapi sekarang tidak lagi, mereka harus berjalan memutar lebih jauh,” urai Sukadji.

Terpisah, Kasi Pelayanan Desa Jongbiru Abdulrahman mengatakan, pihaknya sudah pernah berkoordinasi dengan Pemkab Kediri. Hal itu terkait dengan pengananan jembatan, apakah akan diperbaiki atau dibangun kembali. Namun, waktu itu masih belum mendapat titik temu. “Ya kami sendiri sekarang masih menunggu, bagaimana tindaklanjutnya,” terangnya.

(rk/fiz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia