Kamis, 09 Jul 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Arca Desa Jagung Harusnya Tanggung Jawab Pemdes

26 Maret 2018, 10: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

arca desa jagung - radar kediri

LAMA: Arca di Desa Jagung, Pagu, Kediri. (RAMADANI WAHYU - JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Kasus telantarnya benda purbakala di Desa Jagung, Kecamatan Pagu, memantik kekecewaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pemkab Kediri. Sebab, seharusnya perawatan itu menjadi tanggung jawab pihak pemerintah desa (pemdes) setempat.

“Berdasarkan undang-undang yang baru, yaitu UU Nomor 11 Tahun 2010, disebutkan bahwa pemerintah daerah tidak harus menarik cagar budaya tersebut. Karena punden itu dimiliki masyarakat setempat,” terang Kasi Museum dan Purbakala Eko Priatno.

Menurut Eko, kedua arca yang telantar itu berada di punden Wali Sarjiman atau punden Reco Putil. Bagi warga setempat, punden itu dianggap punya nilai mistis. Punya kaitan secara adat.

Sementara, tertulis dalam pasal 13 undang-undang tersebut, bahwa kawasan cagar budaya hanya dapat dimiliki dan dikuasai negara. Kecuali yang secara turun-temurun dimiliki oleh masyarakat hukum adat. Kemudian, menurut Eko, penjelasna itu diteruskan di pasal 99 ayat 2. Bunyinya, masyarakat ikut berperan serta dalam pengawasan pelestarian cagar budaya. Oleh karena itu, harusnya masyarakat desa setempat yang mengamankan arca tersebut.

Dari keterangan warga, dulu punden Reco Putil menjadi tempat ritual sebagian warga. Menjadi lokasi pemberian sesajen. Seiring berjalannya waktu, kepemilikan tanah yang ada pundennya berganti. Setelah ganti pemilik situs tersebut tak lagi dirawat.

Eko memaparkan, pembuatan cagar budaya untuk penyimpanan arca di desa merupakan salah satu potensi nilai jual desa. Dari pembuatan cagar budaya, masyarakat diajak untuk selalu sadar adanya kekayaan budaya desa setempat. Bahkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Dengan ‘menjual’ cagar budaya semacam ini, nanti anak cucu melihat dan tanya, kan jadinya regenerasi budaya. Mereka jadi paham edukasi budaya juga,” terang Eko.

Ditanya jenis apakah arca berupa potongan kaki yang tengah bersila itu, Eko belum bisa memastikan. Pasalnya, dengan temu kaki yang tengah bersila tersebut tidak bisa didefisinikan termasuk arca pada zaman kerajaan mana. Atau patung jenis apa.

Menurut penjelasan Eko, pendefisinian arca bisa dilihat dengan dua cara. Yaitu berdasarkan ikonografisnya. Melalui pengamatan roman muka dan aksesoris di bagian atas arca. Yang kedua yaitu melalui data yang tertulis dalam arca.

“Kalau berupa potongan perut hingga kaki yang bersila belum bisa diteliti lebih jauh,” papar Eko.

Pasalnya, termasuk ketika arca tersebut masuk dalam dokumentasi arca Kabupaten Kediri, sudah berupa potongan kaki yang bersila. Bukan utuh.

Walaupun begitu, apapun kondisinya, menurut Eko, itu adalah tanggungjawab masyarakat setempat untuk merawatnya. Jika masyarakat tidak mau, pemerintah daerah akan menindaklanjuti dan akan diamankan di daerah. “Yang penting benda-benda sejarah itu bisa aman,” pungkasnya.  

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia