Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Tiga Rumah di Bajulan Tertimpa Longsor

Gus Wachid Kunjungi Lokasi

11 Maret 2018, 18: 59: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

JEBOL: Warga bersama TNI dan polisi membersihkan material longsor yang menutupi dapur Garjito, kemarin. Total ada tiga rumah warga yang rusak akibat bencana tersebut.

JEBOL: Warga bersama TNI dan polisi membersihkan material longsor yang menutupi dapur Garjito, kemarin. Total ada tiga rumah warga yang rusak akibat bencana tersebut. (ANWAR BAHAR BASALAMAH - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

NGANJUK – Bencana tanah longsor kembali terjadi di kaki Gunung Wilis. Setelah di Kepel, Ngetos, kali ini longsor terjadi di Dukuh Patuk, Dusun Nglarangan, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kamis (9/3) sore. Akibatnya, tiga rumah di dusun tersebut tertimpa reruntuhan tanah.

Yaitu rumah Lasimun, 40; Garjito, 30, dan Wainem, 65. Tanah longsor terjadi sekitar pukul 15.30. Sebelum bencana menimpa tiga rumah mereka, wilayah setempat diguyur hujan deras sejak pagi. “Jam 10.00 sudah hujan,” kata Garjito yang Kamis pagi lalu tengah memanen padi di Desa Macanan, Loceret.

Rupanya, curah hujan tinggi selama empat jam membuat tebing yang ada di belakang rumah Garjito ambrol. Sekitar pukul 15.30, tebing setinggi 10 meter itu menimpa bagian dapur.

TINJAU LOKASI: Plt Bupati Abdul Wachid Badrus mengunjungi lokasi longsor di Dukuh Patuk, Dusun Nglarangan, Desa Bajulan, Loceret, kemarin. Dia meminta OPD terkait menangani bencana dengan cepat.

TINJAU LOKASI: Plt Bupati Abdul Wachid Badrus mengunjungi lokasi longsor di Dukuh Patuk, Dusun Nglarangan, Desa Bajulan, Loceret, kemarin. Dia meminta OPD terkait menangani bencana dengan cepat. (Humas Pemkab Nganjuk)

Beruntung, meski seluruh anggota keluarganya sedang berada di rumah, semuanya selamat. “Istri dan anak saya di teras. Keponakan kebetulan sedang mandi,” lanjut Garjito menceritakan ambrolnya tebing selebar delapan meter yang membuat dapur rumahnya rusak itu.

 Selain rumah Garjito, rumah Lasimun dan Wainem yang terletak di selatan dan utara rumah Garjito juga terdampak. Lokasi rumah Garjito yang ada di tengah membuat kerusakannya paling parah.

Reruntuhan lumpur dan bebatuan menutupi seluruh dapur rumah. Fitri yang tengah mandi sebenarnya sempat tertutup material longsor. Tetapi, karena kamar mandi di rumah Garjito baru dibangun dan dalam kondisi terbuka, dia bisa keluar. “Anaknya selamat,” terangnya.

Bencana yang terjadi sore hari itu membuat Garjito langsung memindahkan semua perabotan di dapur ke ruang tamu. Dia bersyukur hanya sebagian yang tertimbun tanah. Selebihnya, banyak yang bisa diselamatkan.

Jika Kamis malam lalu Garjito bisa langsung memindahkan perabotan dapur, pembersihan material longsor baru dilakukan kemarin pagi. Warga bersama relawan, TNI dan polisi bergotong-royong membersihkan tanah yang menutup dapurnya.

Meski hanya bagian dapurnya yang terkena longsor, Garjito tidak berani menempati rumahnya. Dia mengungsikan istri dan anaknya ke rumah orang tuanya di Patuk. Walaupun masih terletak di Dukuh Patuk, rumah orang tuanya dinilai lebih aman.

Sementara itu, bencana tanah longsor yang menimpa Garjito dan dua warga lainnya jadi perhatian Plt Bupati Abdul Wachid Badrus. Sekitar pukul 09.00 kemarin, Gus Wachid, sapaan akrab Abdul Wachid Badrus, mengunjungi tiga rumah korban.

Setelah meninjau kondisi tiga rumah warga, Gus Wachid menginstruksikan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk melakukan penanganan dengan cepat. “Saya mengimbau warga untuk tetap waspada selama musim hujan ini. Soalnya Putuk ini merupakan daerah rawan longsor dan sebenarnya kurang baik untik didirikan bangunan,” katanya.  

Untuk diketahui, Maret 2017 lalu lokasi tersebut juga longsor. Hanya saja, saat itu rumah Lasimun yang tertimpa material paling parah. Terkait bencana yang terulang ini, Kades Bajulan Mandi mengatakan, Dukuh Patuk memang rawan longsor. Setelah didata, ada sekitar 100 kepala keluarga (KK) yang rumahnya rawan terkena longsor. “Semuanya di Patuk,” kata Mandi.

Menindaklanjuti bencana Kamis sore lalu, Mandi telah meminta warga yang rumahnya rawan longsor untuk mengungsi. Hingga kemarin, total ada empat KK yang memutuskan mengungsi. “Kami khawatir akan terjadi longsor susulan jika turun hujan deras lagi,” kata Mandi.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Soekonjono mengatakan, curah hujan masih tinggi beberapa minggu ke depan. Karenanya, dia meminta masyarakat tetap waspada. “Untuk sementara lebih baik mengungsi dulu,” katanya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia